Dalam konteks inilah, Bank Banten mulai menempati posisi strategis. Provinsi yang punya julukan Tanah Jawara ini memiliki sejarah panjang dalam perjuangan kemandirian, termasuk di bidang keuangan. Salah satu simbolnya adalah mesin cetak Oeridab (Oeang Repoeblik Indonesia Daerah Banten), yang kini tersimpan di Kantor Pusat Bank Banten, di Serang, Banten.
Mesin cetak Oeridab pernah digunakan pada masa perang kemerdekaan, di periode 1946-1947, untuk mencetak Oeang Repoeblik Indonesia Daerah Banten, mata uang darurat yang lahir akibat blokade Belanda. Kala itu, pemerintah pusat memberi kewenangan kepada Residen Banten untuk menjaga roda ekonomi daerah tetap berputar. Sejarah ini menjadi pengingat bahwa kemandirian keuangan selalu relevan bagi Banten.
Semangat kemandirian itulah yang kini coba dihidupkan kembali melalui Bank Banten. Sejak resmi bertrans formasi menjadi badan usaha milik daerah (BUMD) murni pada 2024, Bank Banten, yang baru berusia 9 tahun, kini berada di jalur perbaikan yang lebih jelas. Status ini memperkuat governance, permodalan, dan kepercayaan publik.
Direktur Utama Bank Banten, Muhammad Busthami, menilai kepercayaan stakeholder menjadi kunci kebangkitan bank daerah ini. “Kunci keberhasilan Bank Banten adalah meningkatnya kepercayaan stakeholder, yang didorong oleh status sebagai BUMD, kinerja yang membaik, dan efektifnya KUB dengan Bank Jatim,” ujarnya.
Setelah bertahun-tahun mencatatkan kerugian sejak berdiri pada 2016, Bank Banten telah berhasil membalikkan keadaan. Sejak akhir 2023 hingga 2025, bank ini konsisten membukukan laba bersih positif. Turning point ini menjadi fondasi penting untuk melangkah lebih agresif namun tetap terukur.
Hingga akhir 2025, aset Bank Banten mencapai Rp10,02 triliun, tumbuh 32,7% secara tahunan. Kredit yang disalurkan naik menjadi Rp5,07 triliun atau tumbuh 31,6%, sementara dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp6,42 triliun dengan pertumbuhan 32,2%. Angka-angka ini mencerminkan above industry average growth.
Sebagai perbandingan, pertumbuhan kredit industri perbankan nasional pada 2025, menurut laporan Bank Indonesia (BI), berada di kisaran 9,3%, sedangkan pertumbuhan DPK sekitar 10,4%. Artinya, laju ekspansi Bank Banten hampir tiga kali lipat lebih tinggi dari ratarata nasional. Ini bukan sekadar cepat, tapi juga menunjukkan pemulihan kepercayaan yang nyata.
Kualitas aset pun membaik signifikan. Rasio kredit bermasalah (NPL) gross berhasil ditekan hingga di bawah 5%, dengan target menuju 3,5%. BOPO berada di level sekitar 89%, sementara rasio permodalan yang diwakili oleh CAR mencapai 46,79%, memberi ruang yang sangat kuat untuk ekspansi lanjutan.
Sementara, di sisi bottom line, untuk perolehan laba, manajemen Bank Banten memastikan, laba akhir 2025 akan lebih besar dari 2024 yang tercatat Rp39,33 miliar.
Lebih jauh, Busthami menambahkan, pengelolaan rekening kas umum daerah (RKUD) menjadi game changer. “Bagi kami, RKUD itu harga mati. Dengan mengelola RKUD, Bank Banten bisa memastikan pembiayaan pembangunan daerah sekaligus mendorong pertum buhan bisnis,” tegasnya.
Dampak RKUD terlihat jelas. Pengelolaan RKUD Kabupaten Lebak dan Kota Serang mendorong kenaikan kredit lebih dari Rp1 triliun dalam setahun. Potensi ini bahkan belum tergarap sepenuhnya, membuka ruang scaling up yang masih sangat besar.
Bank Banten Menuju Regional Champion yang Berkelanjutan
Sinergi melalui kelompok usaha bank (KUB) dengan Bank Jatim menjadi faktor penting lainnya. KUB ini menghilangkan isu modal inti sekaligus membuka peluang sinergi bisnis dan operasional. Dari sisi risk management dan digitalisasi, Bank Banten mendapat akselerasi yang signifikan.
Digitalisasi menjadi agenda utama. Layanan seperti Jawara Mobile memperkuat customer experience dan memperluas inklusi keuangan. Transformasi digital ini menjadi syarat mutlak agar Bank Banten tetap relevan di tengah kompetisi industri perbankan yang semakin ketat.
Gubernur Banten berharap Bank Banten benarbenar hadir dalam kehidupan seharihari masyarakat. “Kalau Bank Banten kuat, maka pertumbuhan ekonomi Banten akan semakin besar,” kata Andra Soni. Harapan ini menempatkan bank daerah bukan sekadar institusi keuangan, tapi simbol kepercayaan publik.
Ia juga menekankan pentingnya local pride. Saat ini, tingkat kebanggaan masyarakat terhadap Bank Banten masih dalam proses tumbuh. Tapi, melalui keterlibatan dalam banyak program, seperti sekolah gratis, pem bayaran pajak, hingga transaksi QRIS, Bank Banten perlahan menjadi bagian dari keseharian warga.
Pemerintah provinsi menargetkan pada 2027 setidaknya lima kabupaten/kota menempatkan RKUD di Bank Banten, dan meningkat menjadi delapan pada 2028. Pendekatannya bukan paksaan, melainkan membangun trust dan kesadaran kolektif bahwa bank daerah adalah aset bersama.
“Selain Pemerintah Provinsi Banten, sekarang ada tiga daerah yang telah menjadikan Bank Banten sebagai bank pengelola RKUD, yakni Kabupaten Lebak, Kota Serang, kemudian menyusul Kabupaten Pandeglang. Nanti, selanjutnya, yang dalam proses ada Kabupaten Serang dan insyaallah berikutnya akan menyusul Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang,” tukas Andra Soni.
Dari sisi manajemen, rencana ke depan disusun dengan hatihati. Fokus utama tetap pada pertumbuhan bisnis berkualitas, digitalisasi, sinergi strategis, serta penguatan sumber daya manusia. Target 2026 pun ambisius, dengan rencana pertumbuhan kredit hingga 53%.
“Target kami sederhana tapi konsisten. Tumbuh sehat, berkelanjutan, dan menjaga integritas,” ujar Busthami. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Bank Banten tidak mengejar ekspansi agresif tanpa fondasi yang kuat.
Sebagai agen pembangunan, Bank Banten didorong untuk memperluas pembiayaan produktif, khususnya bagi UMKM, ASN, dan proyekproyek strategis daerah. Dengan demikian, multiplier effect ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Ke depan, Bank Banten juga diharapkan naik tingkat kesehatan bank dari TKB 3 menjadi TKB 2. Jika tercapai, hal ini akan semakin memperkuat persepsi publik dan membuka peluang bisnis yang lebih luas.
Melihat tren kinerja Bank Banten yang positif dalam tiga tahun terakhir, optimisme itu bukan tanpa dasar. Konsistensi laba, perbaikan rasio keuangan, serta dukungan kuat dari pemerintah daerah menjadi modal penting menuju fase pertumbuhan berikutnya.
Lebih dari sekadar angka, perjalanan Bank Banten mencerminkan proses pembelajaran institusi. Dari bank yang sempat diragukan, kini bertransformasi menjadi entitas yang diperhitungkan di level nasional.
Bagi Banten, keberhasilan Bank Banten berarti memperkuat kemandirian fiskal dan mempercepat pemerataan ekonomi. Sejarah Oeridab mengajarkan bahwa saat krisis, daerah yang mandiri secara keuangan akan lebih tangguh.
Hari ini, tantangannya berbeda. Bukan lagi blokade fisik, melainkan persaingan global dan kebutuhan digitalisasi. Tapi, semangatnya tetap sama: menjaga roda ekonomi daerah tetap berputar. Dengan dukungan investasi yang terus meningkat, kualitas SDM yang membaik, dan lembaga keuangan daerah yang semakin sehat, Banten berada pada posisi yang kuat untuk melangkah lebih jauh.
Harapan Gubernur Banten jelas, Bank Banten harus menjadi regional champion yang ada di hati dan dompet masyarakat. Sebuah bank yang tidak hanya melayani, tapi juga membangun.
Pada akhirnya, apresiasi layak diberi kan atas capaian Bank Banten sepanjang 2025. Kinerja yang melampaui industri, perbaikan fundamental, dan visi ke depan yang realistis menjadikan Bank Banten pilar penting dalam perjalanan Banten menuju pertumbuhan ekonomi yang adil, kuat, dan berkelanjutan.
Mesin cetak Oeridab pernah digunakan pada masa perang kemerdekaan, di periode 1946-1947, untuk mencetak Oeang Repoeblik Indonesia Daerah Banten, mata uang darurat yang lahir akibat blokade Belanda. Kala itu, pemerintah pusat memberi kewenangan kepada Residen Banten untuk menjaga roda ekonomi daerah tetap berputar. Sejarah ini menjadi pengingat bahwa kemandirian keuangan selalu relevan bagi Banten.