Terimpit ekspansi agresif bank-bank besar, KBMI 2 memang kehilangan sebagian market share. Tapi, kelompok bank menengah ini belum bisa disebut melemah secara struktural. Dengan permodalan yang tebal, fokus niche market, serta model bisnis yang lebih agile, bank-bank di kelompok ini masih punya ruang bertahan dan beradaptasi di tengah persaingan yang kian keras.
JALAN yang dilalui bank-bank KBMI 2 atau kelompok bank dengan modal inti lebih dari Rp6 triliun hingga Rp14 triliun memang tidak sedang ramah. Bank KBMI 2 di satu sisi sudah bukan lagi disebut bank kecil. Namun, di lain sisi, skala dan daya gedor mereka belum sebanding dengan bank-bank besar di KBMI 3 dan KBMI 4. Posisi “di tengah” inilah yang membuat KBMI 2 kerap terimpit.
Tekanan kompetisi makin terasa ketika bank bank besar makin agresif melakukan ekspansi, baik lewat pricing, digital capability, maupun penguasaan dana murah. Tekanan itu terlihat jelas dari data industri. Biro Riset Infobank (birI) mencatat, pangsa aset KBMI 2 sempat membaik dalam beberapa tahun terakhir sebelum akhirnya kembali tertekan. Pada 2021, pangsa aset KBMI 2 berada di level 11,82%, lalu naik menjadi 12,17% pada 2022, dan naik ke 13,25% pada 2023. Tren positif itu berlanjut hingga 2024 dengan pangsa sekitar 13,44%. Tapi, sayangnya, angin berubah arah. Per Oktober 2025, pangsa aset KBMI 2 menyusut ke kisaran 12,44%, menandakan tekanan yang kembali menguat.