Belum ada produk di keranjang belanja kamu

KOMARUDDIN HIDAYAT

Crab Mentality

PENULIS ADALAH KETUA DEWAN PERS

Oleh

MENTAL kepiting (crab mentality) pertama kali saya tahu dari teman sewaktu masih kuliah di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Teman saya ini berasal dari daerah pesisir utara Pulau Jawa, wilayah Jawa Tengah, yang punya pengalaman menangkap kepiting. Katanya, kalau kita menangkap kepiting, lalu dimasukkan keranjang atau ember, tidak usah khawatir akan keluar meskipun embernya tidak ditutup. Kok bisa? Karena, kepiting yang hendak keluar loncat dari keranjang atau ember akan ditarik ke bawah oleh kepiting yang lain.

Dalam kajian psikologi, mental kepiting ini sangat destruktif dalam sebuah kerja kelompok ataupun relasi sosial. Karena, seseorang cenderung iri melihat prestasi dan kemajuan orang lain. Dia tidak melihat potensi pintu sukses itu begitu luas dan banyak pilihan. Sehingga, jika ada teman yang maju dan memperoleh promosi, dia pandang itu telah menutup jalannya untuk sukses.

Jadi, orang yang dihinggapi mental kepiting tidak saja memiliki hati dengki, tetapi juga cenderung bodoh, sempit pemikirannya, dan tidak bisa melihat dunia yang demikian luas dan banyak jalan menuju Roma. Orang yang bermental demikian sulit berkembang, harga dirinya rendah, dan menciptakan toxic bagi lingkungannya.

Dalam tradisi Jawa juga dikenal ungkapan serupa, yaitu barji-barbeh, tiji-tibeh. Bubar siji, bubar kabeh. Mati siji, mati kabeh. Sikap ini mirip perilaku anak kecil berebut layang-layang lepas. Kalau saya tidak bisa merebut untuk memiliki, maka kamu juga tidak boleh memiliki. Akhirnya, layang- layang yang lepas itu dirusak ramai-ramai. Kira-kira demikian mental orang yang terhinggapi crab mentality. Jika saya tidak memperoleh promosi naik jabatan, maka kamu juga tidak boleh naik. Lalu, disebarkanlah fitnah untuk menjegal teman yang mau naik promosi.

Saya kadang merenung dan berpikir, jangan-jangan cerita kanak-kanak yang beredar, juga perilaku anak-anak, terekam kuat dan memengaruhi karakternya ketika dewasa. Misalnya, sejak kecil saya mendengar cerita Kancil Mencuri Timun, sampai hafal alur ceritanya. Yang terkesan, kancil itu keren. Padahal, kerjanya mencuri. Pesan ini tentu sangat berbeda dari dongeng Malin Kundang yang berdampak agar hormat pada orang tua. Sejak kecil saya sering melihat acara rebutan. Ada bermacam-macam yang direbutkan. Bahkan, ketika acara kenduri di masjid pun terjadi rebutan makanan.

Kelihatannya sejak kecil anak-anak tidak dilatih budaya antre dan bertanding secara fair. Semua maunya jadi pemenang, tidak siap kalah. Semuanya ingin juara, kalau perlu dengan cara curang. Hal ini bisa dibandingkan dengan pendidikan anak-anak di Jepang. Antara lain, membiasakan budaya antre, membersihkan sampah, tidak mengambil apa pun yang bukan haknya, dan menghargai orang lain.

Jadi, mental kepiting ini akan menimbulkan toxic ketika menghinggapi para politikus dan pejabat kita. Yang terjadi adalah budaya jegal-menjegal. Ketika menimbang kekuatan lawan setara, maka langkah yang diambil adalah kompromi. Daripada barji- barbeh, tiji-tibeh, mendingan kompromi bagi-bagi rezeki.

Di sinilah kelebihan otak manusia dibandingkan dengan otak kepiting. Yang semula relasinya berbentuk “aku versus kamu”, berubah jadi “dari kita, oleh kita, untuk kita”. Pertanya- annya, siapa yang dimaksud dengan kita? Kita ini bisa merujuk pada masyarakat, komunitas politisi, kelompok oligarki, atau pejabat pemerintah.

Dalam kajian psikologi, mental kepiting ini sangat destruktif dalam sebuah kerja kelompok ataupun relasi sosial. Karena, seseorang cenderung iri melihat prestasi dan kemajuan orang lain. Dia tidak melihat potensi pintu sukses itu begitu luas dan banyak pilihan. Sehingga, jika ada teman yang maju dan memperoleh promosi, dia pandang itu telah menutup jalannya untuk sukses.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Februari 2026

Rp 65.000

BELI