KBMI 3 berdiri sebagai penantang terdepan bank-bank raksasa di KBMI 4. Di lain sisi, kelompok ini berada di tengah gempuran bank-bank menengah-kecil yang agresif. KBMI 3 pun jadi arena pertarungan strategi yang brutal. Dalam tantangan lesunya permintaan kredit, siapa yang paling tajam fokus bisnisnya, dia yang bakal bertahan dan melaju.
KELOMPOK bank berdasarkan modal inti (KBMI) 3 menempati posisi paling krusial dalam peta industri perbankan nasional. Ibaratnya, ada di tengah “David dan Goliath”. Posisinya terimpit di antara dominasi bank-bank jumbo KBMI 4 dan gempuran bank-bank menengah-kecil di KBMI 2 dan 1. KBMI 3 juga menjadi arena utama pertarungan strategi sekaligus kelompok yang paling diuji ketahanan dan ketepatan arah bisnisnya.
Berdasarkan data Biro Riset Infobank (birI), per Oktober 2025, bank-bank penghuni KBMI 4 masih mendominasi pangsa aset dan kredit perbankan nasional, masing-masing 50,66% dan 53,03%. Sementara, KBMI 2, walau kini tengah melambat, tapi sempat menunjukkan pola pertumbuhan agresif dalam beberapa tahun terakhir.
Di tengah struktur itu, KBMI 3 menempati posisi kunci. Saat ini, KBMI 3 dihuni 15 bank. Dari kelompok pelat merah, ada Bank Tabungan Negara (BTN), Bank Syariah Indonesia (BSI), dan Bank BJB. Sementara, dari kelompok swasta, antara lain ada Bank CIMB Niaga yang dimiliki Malaysia dan Bank UOB Indonesia milik Singapura. Lalu, ada juga beberapa bank elite lain di kelompok ini yang berdarah Jepang. Juga, ada milik investor lokal, seperti Bank Mega yang berada di bawah naungan konglomerasi CT Corp atau PaninBank dalam konglomerasi Grup Panin. Komposisi ini mencerminkan KBMI 3 sebagai kelas bank dengan dukungan kuat konglomerasi global dan domestik.
Jika dibandingkan dengan kinerja industri perbankan nasional, laju pertumbuhan kredit, dana pihak ketiga (DPK), aset, ataupun laba KBMI 3 berada di atas rata-rata industri. Capaian ini kian mengukuhkan KBMI 3 sebagai motor penggerak industri perbankan di Tanah Air, walau tanpa keunggulan dominasi seperti KBMI 4.
KBMI 3 juga menempati posisi strategis sebagai penantang terdepan bank-bank di KBMI 4, dengan model bisnis yang lebih fokus, adaptif, dan dekat ke sektor riil. Bank-bank di kelompok ini punya kekuatan yang spesifik dan tersegmentasi.
Misalnya, ada BTN yang kuat di sektor perumahan, BSI yang kuat di ekosistem halal dan konsumer, Bank CIMB Niaga yang kuat di ritel korporasi menengah, serta Bank Mega dengan keunggulan konglomerasinya. Kekuatan ini menjadikan bank-bank KBMI 3 sebagai tumpuan di pasar.
Per Oktober 2025, KBMI 3 menguasai 26,94% pangsa aset industri perbankan. Pangsa ini relatif stabil, berada di kisaran 24%-26% dalam tiga tahun terakhir. Hal serupa terlihat pada pangsa kredit. Saat ini, KBMI 3 menguasai 27,39% pangsa kredit, dengan tren yang juga stabil di rentang 25%-27%. Sementara, dari sisi DPK, KBMI 3 menguasai 27,28% dengan pangsa yang konsisten berada di kisaran 24%-27%.
Kinerja intermediasi KBMI 3 pun berlari kencang. Penyaluran kredit kelompok perbankan menengah-besar ini tumbuh 15,11% secara tahunan, menjadi Rp2.278,73 triliun per Oktober 2025. Di sisi funding, KBMI 3 mampu menghimpun DPK Rp2.661,43 triliun atau tumbuh 24,02%, dengan total aset Rp3.561,12 triliun atau naik 18,36%.
Jika dilihat dari kinerja keuangan per bank di KBMI 3, BSI mencatatkan pertumbuhan kinerja double digit di sejumlah indikator utama, seperti aset, DPK, dan pembiayaan. Sementara, BTN menonjol di sisi pertumbuhan DPK yang sebesar 15,96%. Dari struktur pangsa KBMI 3, BTN mendominasi pangsa aset (14,42%), pangsa kredit (16,78%), dan pangsa DPK (16,27%).
Di jajaran bank swasta, Bank DBS Indonesia mencatatkan pertumbuhan kredit paling agresif dengan kenaikan 22,89%, menjadi yang tertinggi di kelompok ini. Bank UOB Indonesia unggul dari sisi profitabilitas dengan pertumbuhan laba 131,31%. Sementara, Bank Mega paling tokcer dalam menghimpun dana, dengan kenaikan DPK tertinggi di kelompok ini, yakni mencapai 26,29%.
Tapi, tak semua bank di KBMI 3 mampu mencatatkan performa solid. PaninBank, misalnya. Pertumbuhan kredit dan DPK bank ini masing-masing terkontraksi 4,72% dan 2,02%, membuat labanya tergerus 4,37%. Demikian pula dengan Bank Maybank Indonesia yang kreditnya terkontraksi 1,59%. Sementara, SMBC Indonesia dan Bank HSBC Indonesia labanya masing-masing turun 23,85% dan 19,37%.
Sejatinya bank-bank di KBMI 3 sedang menghadapi tekanan profitabilitas yang lebih besar ketimbang kelom pok lain. Basis dana murah (CASA) KBMI 3 belum sekuat KBMI 4. Di saat bersamaan, KBMI 3 belum bisa “seagresif” KBMI 2 dalam menawarkan bunga simpanan. Dengan struktur CASA KBMI 3 yang rata-rata di kisaran 40%-60%, ruang penurunan biaya dana menjadi terbatas dibanding kan dengan KBMI 4, yang rata-rata CASA-nya di atas 60%.
Selain itu, kontribusi laba bersih KBMI 3 terhadap total laba industri perbankan nasional yang di level 17,89%, cukup jauh di bawah pangsa aset, kredit, dan DPK. Adapun pertumbuhan laba kelompok ini tercatat 13,47%.
Lebih jauh, penyaluran kredit tampaknya kini menjadi salah satu tantangan kelompok ini, sejalan dengan belum kuatnya permintaan kredit dari masyarakat dan dunia usaha. Hal itu tecermin dari tren penurunan rasio loan to deposit ratio (LDR) di sejumlah bank KBMI 3, yang bisa jadi menandakan dana tersedia tapi belum bisa optimal disalurkan kembali dalam bentuk kredit. Hingga September 2025, dari 15 bank di KBMI 3, sebanyak 12 bank LDR-nya tercatat menurun. Memang, di lain sisi, bisa dikatakan bahwa likuiditas melonggar.
Bank CIMB Niaga, misalnya. Data Biro Riset Infobank menunjukkan, LDR bank ini turun dari 84,29% menjadi 81,06%, dengan margin bunga bersih (net interest margin/ NIM) yang turun dari 4,16% menjadi 4,00%. Sementara, kinerja Bank CIMB Niaga cenderung moderat. Per September 2025, penyaluran kreditnya tumbuh 4,61% menjadi Rp228,65 triliun. DPK tumbuh lebih tinggi, yakni 8,61% menjadi Rp278,01 triliun, sehingga pertumbuhan labanya naik 2,93% menjadi Rp5,33 triliun.
Lani Darmawan, Presiden Direktur Bank CIMB Niaga, menilai tekanan kinerja itu lebih dipengaruhi oleh dinamika permintaan kredit, bukan keterbatasan likuiditas ataupun tingginya biaya dana. Secara industri, kondisi likuiditas justru membaik. “Dari sisi liquidity terlihat membaik sehingga cost of fund berangsur turun. Kami harapkan ke depan ini juga menurunkan rate kredit,” ujar Lani kepada Infobank, bulan lalu.
Menurutnya, tantangan utama perbankan saat ini adalah di sisi permintaan. Daya beli yang belum sepenuhnya pulih membuat permintaan kredit masih relatif lemah sehingga pihaknya memilih bersikap lebih selektif dalam ekspansi pembiayaan. “Yang menjadi tantangan terbesar adalah faktor daya beli yang masih rendah, demand untuk kredit yang relatif lemah. Bukan dari likuiditas atau cost of fund,” tuturnya.
Berbeda dengan kehati-hatian Bank CIMB Niaga, BSI melihat indikasi awal perbaikan siklus likuiditas dan permintaan pembiayaan memasuki 2026. Kepada Infobank, Anggoro Eko Cahyo, Direktur Utama BSI, mengatakan bahwa tekanan biaya dana mulai mereda sejak semester kedua tahun lalu.
“Biaya dana sudah mulai turun sejak semester kedua 2025 sehingga tekanan terhadap likuiditas menurun. Indeks keyakinan konsumen juga mulai naik sehingga diharapkan kredit membaik,” ujarnya kepada Infobank, bulan lalu.
Dengan peran strategis di pembiayaan korporasi, UKM, dan konsumer, KBMI 3 tetap menjadi mesin pertumbuhan industri perbankan nasional. Tapi, di tengah tekanan biaya dana dan persaingan likuiditas dari dua arah: dominasi KBMI 4 dan agresivitas bank bank kecil, keberhasilan KBMI 3 sepenuhnya ditentukan oleh ketepatan strategi dalam mengelola biaya dana, menjaga efisiensi, dan menajamkan fokus bisnis.
Berdasarkan data Biro Riset Infobank (birI), per Oktober 2025, bank-bank penghuni KBMI 4 masih mendominasi pangsa aset dan kredit perbankan nasional, masing-masing 50,66% dan 53,03%. Sementara, KBMI 2, walau kini tengah melambat, tapi sempat menunjukkan pola pertumbuhan agresif dalam beberapa tahun terakhir.