Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Ingat, Pensiun Bukan Urusan Nanti!

Banyak orang merasa sudah aman dengan urusan pensiun. Padahal, aset yang dimiliki belum tentu bisa menopang hidup di masa tua. Catat, menyiapkan dana pensiun sejak dini itu penting!

Oleh Alfi Salima Puteri

MENYIAPKAN dana pensiun kerap dianggap sebagai urusan nanti.

Banyak orang memilih menunggu penghasilan stabil, cicilan berkurang, atau kondisi ekonomi membaik sebelum benar-benar mulai menyiapkannya. Padahal, justru cara hidup hari inilah yang menentukan apakah seseorang bisa pensiun dengan tenang atau tidak, sebuah proses yang erat kaitannya dengan financial planning.

Founder & CEO QM Financial sekaligus lead financial trainer, Ligwina Hananto, menekankan bahwa pensiun bukan hanya soal usia, tapi juga soal kebiasaan dan keputusan yang diambil sejak sekarang. Karena itu, perencanaan pensiun tak cukup hanya dengan menghitung angka, tapi perlu diawali dengan membayangkan seperti apa kehidupan pensiun yang diinginkan agar tidak terjebak pada lifestyle inflation. Tinggal di mana, hidup dengan siapa, dan menjalani aktivitas seperti apa akan sangat memengaruhi besaran dana yang dibutuhkan di masa depan.

“Waktu kita menggambarkan pensiun itu seperti apa, sebenarnya kita lagi lihat cara hidup kita hari ini. Karena, itu yang nanti akan berpengaruh ke cara hidup kita saat pensiun,” ujar Ligwina dalam acara Bank DBS Indonesia, bulan lalu.

Setelah gambaran hidup pensiun terbentuk, barulah perhitungan menjadi relevan. Salah satu pendekatan praktis yang digunakan Ligwina ialah pembagian pos pengeluaran dengan formula 10/20/30/40. Dari pendapatan bulanan, minimal 10% idealnya dialokasikan untuk tabungan atau investasi, maksimal 20% untuk gaya hidup, maksimal 30% untuk cicilan, dan sisanya 40% untuk kebutuhan rutin sehari-hari.

Meski demikian, dana pensiun tidak cukup dihitung dari persentase pengeluaran semata. Tanpa visualisasi yang jelas, perhitungan dana pensiun kerap menjadi terlalu abstrak dan jauh dari realitas. Pilihan tinggal di kota atau daerah, hidup sendiri atau bersama keluarga, dan tetap aktif atau menjalani ritme hidup yang lebih tenang akan berdampak langsung pada kebutuhan dana di masa tua.

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah cara memandang aset. Dalam perencanaan pensiun, tak semua aset bisa diandalkan sebagai sumber dana. Rumah yang ditempati sendiri, kendaraan pribadi, hingga barang elektronik bernilai tinggi pada dasarnya merupakan aset konsumtif.

Meski memiliki nilai, aset-aset itu tidak menghasilkan cash flow dan nilainya cenderung menurun seiring berjalannya waktu sehingga sulit dijadikan penopang utama dana pensiun.

Sebaliknya, aset investasi adalah aset yang mampu bekerja dan menghasilkan. Properti yang disewakan, surat berharga ritel, emas logam mulia, serta instrumen investasi lainnya memiliki karakter berbeda karena berpotensi memberikan pendapatan atau pertumbuhan nilai. Perbedaan antara aset biasa dan aset investasi inilah yang kerap luput dari perhatian. Banyak orang merasa sudah aman secara finansial karena memiliki banyak aset, padahal aset itu belum tentu mampu menopang kebutuhan hidup ketika masa produktif berakhir.

Pada titik inilah evaluasi menjadi penting. Ketika kebutuhan dana pensiun dibandingkan dengan total aset investasi yang dimiliki, realitas kerap kali tak seindah harapan. Jika masih terdapat selisih, pilihan yang tersedia sebenarnya sederhana, yakni menunda usia pensiun, menurunkan standar hidup di masa tua, atau meningkatkan jumlah tabungan dan investasi sejak dini. Di antara ketiga hal itu, meningkatkan investasi secara konsisten menjadi pilihan paling rasional karena tidak mengorbankan kualitas hidup saat pensiun tiba, sejalan dengan prinsip retirement planning.

Pada akhirnya, menyiapkan dana pensiun bukan soal siapa yang paling cepat atau paling besar nominalnya. Ini tentang disiplin, kejujuran melihat kondisi keuangan, dan keberanian mengambil langkah sejak dini. Makin awal dimulai, makin besar pula peluang menjalani masa pensiun dengan tenang.

Banyak orang memilih menunggu penghasilan stabil, cicilan berkurang, atau kondisi ekonomi membaik sebelum benar-benar mulai menyiapkannya. Padahal, justru cara hidup hari inilah yang menentukan apakah seseorang bisa pensiun dengan tenang atau tidak, sebuah proses yang erat kaitannya dengan financial planning.

Founder & CEO QM Financial sekaligus lead financial trainer, Ligwina Hananto, menekankan bahwa pensiun bukan hanya soal usia, tapi juga soal kebiasaan dan keputusan yang diambil sejak sekarang. Karena itu, perencanaan pensiun tak cukup hanya dengan menghitung angka, tapi perlu diawali dengan membayangkan seperti apa kehidupan pensiun yang diinginkan agar tidak terjebak pada lifestyle inflation. Tinggal di mana, hidup dengan siapa, dan menjalani aktivitas seperti apa akan sangat memengaruhi besaran dana yang dibutuhkan di masa depan.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Februari 2026

Rp 65.000

BELI