Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Kecil Bukan Berarti Lemah

Dorongan konsolidasi untuk bank-bank KBMI 1 perlu ditempatkan secara proporsional. Sebab, banyak bank kecil terbukti sehat, mencetak laba, dan berperan penting bagi UMKM serta ekonomi lokal. Konsolidasi sebaiknya menjadi strategic option, bukan paksaan yang menghapus peran bank kecil dalam ekosistem perbankan nasional.

Oleh Ari Nugroho

TROMPET konsolidasi bank KBMI 1 sudah ditiup sejak Oktober 2025. Surat imbauan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kepada 59 bank KBMI 1 langsung mengubah atmosfer industri. Bank-bank dengan modal inti di bawah Rp6 triliun kini berada di persimpangan. Bertahan dengan strategi baru, naik kelas ke KBMI 2, atau memilih konsolidasi lewat merger dan akuisisi.

Tekanan ini muncul saat kondisi industri perbankan nasional sedang penuh tantangan. Hingga Oktober 2025, pertumbuhan kredit industri melambat menjadi 7,34% (year on year/yoy) dari 10,58% per Desember 2024. Artinya, fungsi intermediasi tak lagi segalak sebelumnya, dan ruang manuver bank, terutama bank kecil, menjadi lebih sempit.

Profitabilitas juga ikut tertekan. Laba bersih industri perbankan susut 0,66% secara tahunan. Return on asset (ROA) ikut melorot dari 2,73% menjadi 2,52%. Ini menggambarkan kompetisi dana yang makin ketat dan biaya operasional yang tidak murah, terutama bagi bank dengan skala terbatas.

Dari sisi risiko, kualitas aset mulai menunjukkan lampu kuning. Non performing loan (NPL) gross naik dari 2,08% pada Desember 2024 menjadi 2,23% per Oktober 2025, sementara NPL net naik dari 0,74% menjadi 0,87%. Di tengah ketidakpastian global, bank kecil jelas harus ekstra hati-hati menjaga kualitas kreditnya.

Meski begitu, likuiditas industri masih relatif aman. Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/ CAR) memang turun dari 27,02% pada Oktober 2024 menjadi 26,38% per Oktober 2025, tapi level ini masih jauh di atas ambang minimum. Artinya, sistem perbankan tidak rapuh, meski tekanannya nyata.

Dalam lanskap seperti ini, posisi KBMI 1 sering kali dibaca terlalu pesimistis. Padahal, data menunjukkan cerita yang lebih berwarna. Biro Riset Infobank (birI) mencatat, hingga Oktober 2025, jumlah bank KBMI 1 ada sebanyak 59 bank atau sekitar 56% dari total 105 bank umum di Indonesia. Secara jumlah, mereka adalah mayoritas, meski dari sisi aset kalah besar.

Total aset KBMI 1 per Oktober 2025 tercatat Rp1.316,76 triliun, memang turun 8,23% (yoy). Pangsa asetnya pun menyusut dari 13,34% pada 2021 menjadi hanya 9,96%. Tapi, ini lebih mencerminkan ekspansi agresif KBMI 3 dan KBMI 4, bukan semata kegagalan KBMI 1.

Dari sisi kredit, KBMI 1 masih tumbuh secara historis. Kredit naik dari sekitar Rp698,33 triliun pada 2021 menjadi Rp744,13 triliun per Oktober 2025, meski secara tahunan terakhir tercatat turun 6,07% (yoy). Ini menunjukkan pola bertahan, bukan menyerang.

Adapun dana pihak ketiga (DPK) KBMI 1 berada di angka Rp950,96 triliun, turun 2,94%. Yang paling menarik justru ada di laba. Laba KBMI 1 melonjak 39,78% (yoy) menjadi Rp12,67 triliun per Oktober 2025. Ini adalah pertumbuhan laba tertinggi dibandingkan dengan KBMI 2, 3, dan 4, bahkan jauh di atas pertumbuhan laba industri yang hanya 0,03%. Bahkan, dalam periode 2021-2025, laba KBMI 1 tumbuh 180,92% dari Rp4,51 triliun.

Secara individual, sebanyak 34 bank KBMI 1 berhasil mencetak pertumbuhan laba hingga September 2025. Selain itu, 54 bank KBMI 1 mencatatkan NPL gross di bawah 5%, menandakan kualitas aset yang relatif terjaga. Ini bukan potret bank bank yang sekarat.

Dari sisi permodalan, rata-rata KBMI 1 juga tidak bisa diremehkan. Dari 59 bank, hanya 1 bank yang memiliki CAR di kisaran 13%, sementara sisanya berada jauh di atas level itu, bahkan ada yang CAR-nya menembus lebih dari 500%. Jadi, isu kesehatan bank kecil tidak bisa digeneralisasi.

Hanya saja, tantangan terbesar tetap ada pada teknologi dan digitalisasi. Investasi IT, cyber security, dan digital infrastructure membutuhkan biaya besar. Bagi bank kecil, ini bukan soal mau atau tidak, tapi soal mampu atau tidak.

Di sinilah ceruk pasar menjadi kekuatan KBMI 1. Mereka melayani UMKM, komunitas lokal, dan pembiaya an berbasis wilayah yang kerap kali tidak menjadi prioritas bank besar. Model ini membuat KBMI 1 punya niche market dan kedekatan yang kuat dengan konsumen.

OJK menilai konsolidasi tetap penting, tapi tidak seragam. “Pendekatan OJK bersifat persuasive. Kita akan menilai secara case by case untuk memastikan kepatuhan regulasi dan perlindungan nasabah,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, beberapa waktu lalu.

Dari pelaku industri, responsnya juga tidak defensif. Presiden Direktur Bank Aladin Syariah, Koko T. Rachmadi, menyebut modal inti Bank Aladin sudah naik dari sekitar Rp1 triliun-Rp1,2 triliun saat berdiri menjadi sekitar Rp3,2 triliun. “Kalau ke Rp6 triliun tidak ada masalah, tapi itu imbauan, bukan kewajiban,” ucapnya.

Sementara itu, Bank of India Indonesia mencatat kan modal inti Rp3,47 triliun per September 2025. Manajemennya menyatakan dukungan pada kebijakan OJK, sembari menunggu keputusan pemegang saham. Ini menunjukkan bahwa konsolidasi dibaca sebagai opsi bisnis, bukan tekanan sepihak.

“Apa pun kebijakan yang dilakukan, itu pasti positif. Karena, itu pasti akan merupakan satu konsolidasi nasional negara ini, (soal) bagai mana industri perbankan menunjang dan ikut berpartisipasi dalam pengembangan ekonomi. Dan, untuk itu, persiapan kami adalah kami akan berkonsolidasi dengan pemegang saham. Karena, semua (keputusan) perusahaan berasal dari pemegang saham,” tukasnya, medio Desember lalu.

Lebih jauh, yang perlu dijaga adalah agar konsolidasi tidak berubah menjadi forced merger. Jika bank KBMI 1 yang sehat dipaksa melebur, risiko kehilangan fungsi intermediasi lokal menjadi nyata, terutama di daerah yang masih bergantung pada bank kecil.

Jadi, soal konsolidasi bank-bank kecil, menurut Infobank Institute, pesan utamanya sederhana. Bank dengan modal besar memang bagus, tapi bank yang sehat jauh lebih penting. Selama KBMI 1 memenuhi modal minimum Rp3 triliun, menjaga NPL, CAR, dan tata kelola, keberadaannya tetap relevan.

Kecil tidak identik dengan rapuh. Dalam ekosistem perbankan Indonesia, KBMI 1 yang sehat, fokus, dan adaptif justru menjadi penopang inklusivitas keuangan. Konsolidasi seharusnya menjadi pilihan strategis berbasis kesiapan bisnis, bukan keharusan struktural yang menghapus peran bank kecil dari peta perbankan nasional.

 

Tekanan ini muncul saat kondisi industri perbankan nasional sedang penuh tantangan. Hingga Oktober 2025, pertumbuhan kredit industri melambat menjadi 7,34% (year on year/yoy) dari 10,58% per Desember 2024. Artinya, fungsi intermediasi tak lagi segalak sebelumnya, dan ruang manuver bank, terutama bank kecil, menjadi lebih sempit.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Februari 2026

Rp 65.000

BELI