Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Memandang 2026 dengan Optimisme Terukur Ala Bank Indonesia

Memasuki 2026, perekonomian global masih diliputi high uncertainty, tapi Indonesia tetap memiliki ruang untuk tumbuh berkat fondasi domestik yang relatif kuat. Melalui policy mix yang terukur, BI tampil sebagai anchor of expectation untuk menjaga stabilitas, kepercayaan, dan momentum pertumbuhan ekonomi.

Oleh Mohammad Adrianto Sukarso

Memasuki tahun 2026, perekonomian global masih berada dalam fase high uncertainty. Ketegangan geopolitik, perubahan arah kebijakan negara-negara besar, serta dinamika pasar keuangan internasional terus membentuk lanskap ekonomi dunia yang tidak sepenuhnya ramah. Meski begitu, Indonesia dinilai masih memiliki window of opportunity untuk menjaga momentum pertumbuhan secara berkelanjutan. Di titik inilah Bank Indonesia (BI) mengambil peran sentral, yakni menjaga stabilitas sekaligus menumbuhkan optimisme publik.

Tidak dapat dimungkiri, masyarakat Indonesia memulai 2026 dengan perasaan yang cenderung hati-hati. Dalam setahun terakhir, tekanan ekonomi terasa langsung, mulai dari harga, biaya produksi, hingga ketidakpastian usaha. BI sebagai otoritas moneter memahami sepenuhnya kondisi itu. Bahkan, BI menilai tahun “Kuda Api” berpotensi lebih menantang dibandingkan periode sebelumnya.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyebutkan bahwa perekonomian global saat ini dihadapkan pada kombinasi risiko yang saling terkait. Setidaknya ada lima faktor utama yang menjadi penentu arah ekonomi dunia, dengan kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) sebagai faktor paling krusial.

Penerapan tarif resiprokal oleh AS terhadap negara mitra dagangnya telah mengubah global trade dynamics. Kebijakan ini bukan hanya soal perdagangan, tapi juga berdampak langsung pada biaya produksi, inflasi, dan kinerja ekspor di banyak negara.

“Yang pertama, dampaknya itu tentu akan meningkatkan cost of production di suatu negara. Dan itu akan memengaruhi harga juga akan naik. Kemudian, tentunya ekspor juga akan terganggu. Jadi at the end, permasalahan geopolitik bisa masuk ke permasalahan ekonomi,” ungkap Destry dalam Infobank Starting Year Forum, Januari 2026.

Dalam konteks ini, risiko geopolitik tidak lagi bersifat abstrak. Ia menjelma menjadi tekanan nyata terhadap sektor riil dan pasar keuangan, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia.

Selain isu tarif, BI juga mencermati peningkatan utang global yang signifikan pascapandemi COVID-19. Banyak negara masih menjalankan kebijakan fiskal ekspansif demi menjaga pertumbuhan, tapi konsekuensinya adalah kenaikan suku bunga acuan global. Situasi ini meningkatkan risiko f inancial tightening dan memperbesar potensi volatilitas pasar.

Tak kalah penting, perkembangan aset kripto turut menjadi perhatian. Meski kerap dipandang sebagai instrumen digital, pergerakan kripto dinilai memiliki spillover effect terhadap sektor riil dan stabilitas keuangan. Kombinasi faktor itu membuat pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diproyeksikan melambat.

BI memperkirakan ekonomi dunia hanya tumbuh sekitar 3,0%. Negara maju diprediksi stagnan di kisaran 1,7%, sementara negara berkembang tumbuh sekitar 3,9%. Angka ini mencerminkan dunia yang bergerak lebih lambat, dengan risiko yang tetap tinggi.

Menjaga Optimisme sebagai Modal utama 

Di tengah ketidakpastian, BI menilai optimisme bukan sekadar sikap psikologis, melain kan economic asset. Kepercayaan publik dan pelaku usaha menjadi penopang utama aktivitas eko nomi. Karena itu, BI mem osisikan diri sebagai anchor of expectation bagi perekonomian nasional.

Menghadapi 2026, BI menyiapkan bauran kebijakan (policy mix) yang terukur. Fokus nya jelas, yaitu menjaga stabilitas, mendorong pertumbuh an, dan memastikan transmisi kebijakan berjalan efektif hingga ke sektor riil.

Salah satu langkah utama adalah menciptakan low interest rate environment. BI mendorong penurunan suku bunga kredit agar beban pembiayaan berkurang dan perbankan lebih agresif menyalurkan kredit.

“Saat ini memang masih ada lagging effect ke kredit. Tapi paling tidak, environment kita sekarang adalah environment untuk suku bunga rendah, karena kita ingin mendorong pertumbuhan ekonomi,” jelas Destry.

Kredit dipandang sebagai engine of growth. Pada 2026, BI memproyeksikan pertumbuhan kredit sekitar 8,12% secara year on year (yoy). Untuk mendukung hal itu, BI-Rate ditetapkan bertahan di level 4,75% per Januari 2026, setelah diturunkan 150 bps sejak September 2024.

Selain suku bunga, Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) menjadi instrumen penting. Sepanjang 2025, BI menyalurkan KLM sebesar Rp388 triliun, dengan mayoritas mengalir ke sektor-sektor prioritas pembangunan nasional.

Tapi BI juga melihat perlunya rebalancing. Saat ini, penerima KLM masih didominasi bank Himbara dan bank swasta besar. Ke depan, BI berupaya memperluas distribusi agar bank daerah dan bank asing mendapatkan porsi lebih besar, mengingat peran mereka dalam mendorong pembangunan daerah dan inclusive growth.

BI tidak berjalan sendiri. Dukungan terhadap kebijakan f iskal pemerintah menjadi bagian penting dari strategi menjaga stabilitas. Sepanjang 2025, BI membeli Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah senilai Rp332,1 triliun. Hingga pertengahan Januari 2026, BI kembali membeli SBN sebesar Rp17,3 triliun. Langkah ini merupakan bentuk countercyclical policy sekaligus dukungan terhadap program Asta Cita dari Presiden Prabowo, agar belanja pemerintah tetap efektif menopang pertumbuhan ekonomi.

Lebih jauh, di luar kebijakan moneter dan makroprudensial, Destry menyebut BI menempatkan sistem pembayaran digital sebagai game changer. Digitalisasi dinilai mempercepat velocity of money dan memperkuat fondasi ekonomi domestik. “Bayangkan kalau kita belum punya sistem pembayaran seperti sekarang. Transaksi pasti lebih lambat. Digital payment membuat ekonomi bergerak jauh lebih cepat,” kata Destry.

QRIS menjadi tulang punggung transformasi itu. Hingga kuartal IV-2025, jumlah merchant QRIS mencapai 42,75 juta, mayoritas UMKM. Volume transaksi tumbuh hampir 140%, dengan nilai transaksi meningkat lebih dari 100%. Angka ini menunjukkan digitalisasi bukan sekadar tren, tapi sudah menjadi mainstream.

Dari sisi stabilitas eksternal, BI aktif menjaga nilai tukar rupiah melalui smart intervention. Sejak awal 2025, tekanan terhadap dolar AS meningkat, sehingga BI mengoptimalkan intervensi di pasar DNDF, pasar spot, dan pasar SBN. Strategi ini ditujukan untuk meminimalkan volatilitas sekaligus menjaga likuiditas pasar. Pembelian SBN di pasar sekunder juga menjadi instrumen penting dalam menjaga market confidence.

Dengan seluruh bauran kebijakan itu, BI optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dapat mencapai kisaran 4,9%-5,7%, lebih tinggi dibandingkan proyeksi 2025. Meski demikian, bank sentral menegaskan bahwa keberhasilan transformasi ekonomi tidak bisa dilakukan dengan pendekatan single actor.

“Dalam kondisi seperti ini, kita tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. Kita harus bergerak bersama-sama,” tegas Destry.

Sinergi antara regulator, pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi critical success factor. Dengan fondasi kebijakan yang kredibel, kolaborasi lintas sektor, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan global, BI optimistis perekonomian nasional mampu melangkah lebih mantap, menjaga kepercayaan publik, dan bergerak menuju pertumbuhan yang lebih positif serta berkelanjutan ke depan.

 

Tidak dapat dimungkiri, masyarakat Indonesia memulai 2026 dengan perasaan yang cenderung hati-hati. Dalam setahun terakhir, tekanan ekonomi terasa langsung, mulai dari harga, biaya produksi, hingga ketidakpastian usaha. BI sebagai otoritas moneter memahami sepenuhnya kondisi itu. Bahkan, BI menilai tahun “Kuda Api” berpotensi lebih menantang dibandingkan periode sebelumnya.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Februari 2026

Rp 65.000

BELI