Belum ada produk di keranjang belanja kamu

MENDONGKRAK DAYA SAING KAWASAN INDUSTRI DEMI PIKAT INVESTASI

Persaingan antarnegara ASEAN dalam menarik investasi makin ketat. Dengan dukungan penuh pemerintah lewat reformasi kebijakan dan sejumlah insentif, KEK Industropolis Batang menjadi episentrum dari mimpi Indonesia memiliki kota industri maju seperti Shenzhen di Tiongkok.

Oleh Ari Astriawan
Istimewa

Istimewa

ASA Indonesia memiliki kota industri maju layaknya Shenzhen di Tiongkok bukan sekadar angan. Kota Batang, tepatnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batang, di Jawa Tengah, digadang sebagai “Shenzhen Indonesia”.

Pemerintah mengambil langkah konkret untuk mewujudkan ambisi itu lewat orkestrasi kebijakan, investasi infrastruktur, dan transformasi kawasan industri di Batang. Pemerintah memahami, kawasan industri berperan strategis meningkatkan daya saing dan mengakselerasi transformasi ekonomi.

Menurut Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, kawasan industri bukan hanya penyedia lahan, tapi bertransformasi menjadi ekosistem industri terpadu. Di kawasan ASEAN, beberapa negara bersaing ketat menarik investasi dengan menyediakan kawasan- kawasan industri terpadu. Sebut saja Vietnam, Malaysia, dan Tailan sebagai beberapa kompetitor utama.

“Di tengah tantangan ekonomi global, peran dan daya saing kawasan industri menjadi kunci untuk menarik investasi industri yang berkualitas, berkelanjutan, dan bernilai tambah tinggi,” ujar Agus, Januari lalu.

Badan usaha milik negara (BUMN) menjadi salah satu ujung tombak di sektor kawasan industri. Ada tujuh BUMN yang bergerak di sektor ini.

Salah satunya Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) yang mendapatkan status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pada Maret 2025 lewat PP Nomor 12 Tahun 2025. KEK ini mengantongi tiga kategori sekaligus, yakni produksi dan pengolahan, logistik dan distribusi, serta pariwisata.

KITB kemudian mengusung branding KEK Industropolis Batang. Lokasi strategis dan lahan seluas

4.300 hektare serta status KEK dengan berbagai insentif menjadi modal kuat KEK ini bersaing dengan kawasan industri lain di ASEAN.

Presiden Direktur KEK Industropolis Batang, Anak Agung Putu Ngurah Wirawan, mengatakan, dukungan penuh dari pemerintah dan stakeholders menjadi salah satu penopang performa bisnis KEK ini. Milestone penting dicatatkan pada 2025 lalu. Untuk pertama kalinya penjualan sewa tembus di atas Rp1 triliun. Pencapaian itu juga berimbas pada perolehan laba bersih sebesar Rp408,1 miliar, melonjak 39,85% secara tahunan.

“Jenis industri yang bergabung di KEK Industropolis Batang juga makin beragam. Awalnya lebih banyak ke aneka industri, tahun lalu sudah masuk industri-industri strategis, seperti panel surya, pabrik baterai untuk EV dan tahun ini diharapkan ada data center. Dari sisi tenaga kerja juga sudah di atas 10.000 tenaga kerja langsung dan 7.000 tenaga kerja tidak langsung. Tidak hanya tenaga kerja unskilled untuk industri padat karya, tapi makin banyak tenaga kerja skilled untuk industri modern berteknologi tinggi,” papar Ngurah kepada Infobank, di Jakarta, Januari lalu.

Di lima tahun pertama ini, total lahan tersewa mencapai 442,2 hektar dengan total investasi mencapai Rp23 triliun. Total sudah 85 tenant yang bergabung dengan serapan tenaga kerja 16.808 orang.

Laju cepat KEK Industropolis Batang sebagai kawasan industri modern turut berimbas pada kebutuhan tenaga kerja. Dengan kian besarnya kebutuhan tenaga kerja terdi- dik, Kabupaten Batang dan Provinsi Jawa Tengah, serta didukung KEK Industropolis Batang dan stakeholder terkait, perlu terus meningkatkan kapasitas SDM agar fit in dengan kebutuhan industri.

Ngurah menegaskan, KEK Industropolis Batang tidak hanya akan menjadi pusat industri yang modern, tapi juga destinasi sport tourism.

Di tengah tantangan ekonomi global, peran dan daya saing kawasan industri menjadi kunci untuk menarik investasi industri yang berkualitas, berkelanjutan, dan bernilai tambah tinggi,” Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian


Beberapa investor di sektor ini mulai masuk, karena mereka melihat peluang yang sangat menjanjikan.

Apalagi letaknya memang strategis di tengah jalur Trans Jawa. Aspek digitalisasi juga menjadi fokus utama KEK Industropolis Batang.

Terlepas dari itu, berdasarkan data Kementerian Perindustrian, saat ini, ada 175 kawasan industri yang sudah mengantongi izin usaha kawasan industri (IUKI) dengan total luas lahan 98,235,5 hektare. Ada 11.970 perusahaan beroperasi di kawasan industri. Total serapan tenaga kerjanya 2,35 juta orang.

Kawasan industri juga menarik investasi hingga Rp6.744,5 triliun. Dari sisi makro, kawasan industri berkontribusi sebesar 9,44% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia di kuartal tiga 2025, dan menyumbang 0,67% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional

Anak Agung Putu Ngurah Wirawan, Presiden Direktur KEK Industropolis Batang

Ambisi Besar Membangun Shenzhen Indonesia

KEK Industropolis Batang terus melakukan berbagai improvement untuk menarik investor. KEK ini memosisikan diri sebagai kawasan industri yang high tech dan green, dipadukan dengan konsep pariwisata, utamanya sport tourism. Berkat dukungan penuh dari pemerintah, KEK Industropolis Batang optimistis bisa bersaing dengan negara­ negara tetangga. Seperti apa rencana pengembangan “Shenzhen Indonesia” ini ke depan? Apa yang menjadi daya tarik kawasan ini di mata investor? Berikut penuturan Presiden Direktur KEK Industropolis Batang, Anak Agung Putu Ngurah Wirawan, kepada Infobank, bulan lalu. Petikannya:

KEK Industropolis Batang digadang pemerintah sebagai "Shenzhen Indonesia". Apa unique selling point KEK ini?

Kami mengambil pembelajaran dari Shenzhen yang 40-an tahun lalu hanya kampung nelayan, tapi kini menjadi metropolis teknologi. Perubahan fundamental dan reformasi kebijakan menjadi kunci. Batang sudah berstatus KEK dan didukung reformasi kebijakan dari pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten. Ekosistemnya terintegrasi dan sejalan. Dengan status KEK, investor akan mendapatkan banyak insentif fiskal maupun fiskal seperti tercan- tum di PP Nomor 40 tahun 2001.

Dari sisi infrastruktur, berlokasi di jalur Trans Jawa, KEK Industro- polis Batang memiliki akses tol sendiri, pelabuhan dengan terminal multipurpose sudah beroperasi, serta didukung gardu PLN dan fasilitas gas PGN. Artinya semua infrastruktur yang dibutuhkan investor sudah tersedia. Ke depan, akan dibangun TOD (transit oriented development) dan jalur kereta untuk logistik sendiri.

Ada strategi khusus untuk menarik investor dari luar negeri?

Strategi kami tidak hanya mengandalkan pameran atau promosi dari pemerintah. Kami melibatkan diaspora Indonesia yang berprofesi sebagai pengusaha sebagai ujung tombak promosi. Pendekatan business­to­business ini dinilai lebih efektif karena memahami karakter investor setempat. Kami juga memiliki kantor perwakilan di Amsterdam untuk pasar Eropa dan Amerika Utara, serta menjalin kerja sama dengan kantor perwakilan dagang Tiongkok. Untuk ASEAN, investor dari Malaysia dan Tailan sudah banyak masuk. Artinya, daya tarik kami untuk tingkat regional Asia Timur maupun Eropa Barat dan Amerika sebenarnya cukup signifikan.

Hingga saat ini, sudah 422 hektare lahan terserap. Bagaimana rencana pengembangan ke depan?

Pengembangan dilakukan bertahap. Hingga 2030, kluster pertama kawasan industri ditargetkan selesai, sementara kawasan residensial dan penun- jang hingga sekitar 2035. Setelah 2030, pengembangan dengan dua pendekatan, yakni melalui kluster inland dan reklamasi ke arah utara yang sudah mengantongi izin Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Konsepnya, kawasan industri berada di pesisir dan area reklamasi, sementara kawasan hunian di perbukitan. Reklamasi dengan membangun pagar laut memang dibutuhkan untuk melindungi pelabuhan kami. Tapi, tentu sayang kalau lahan dalam pagar laut tidak dimanfaatkan. Maka akan digunakan untuk kaveling industri. Dengan empat pulau reklamasi seluas sekitar 4.000 hektare dan 4.000 hektare di darat, total land bank mencapai 8.000 hektare yang diproyeksikan cukup hingga 2045.

 

Pemerintah mengambil langkah konkret untuk mewujudkan ambisi itu lewat orkestrasi kebijakan, investasi infrastruktur, dan transformasi kawasan industri di Batang. Pemerintah memahami, kawasan industri berperan strategis meningkatkan daya saing dan mengakselerasi transformasi ekonomi.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Februari 2026

Rp 65.000

BELI