Belum ada produk di keranjang belanja kamu

MENUNAIKAN AMANAH SANG AYAH, MENAPAKI JALAN PANJANG DI DUNIA PERBANKAN

Cita-citanya sebagai auditor tidak diamini sang ayah, yang memintanya bekerja sebagai bankir. Meskipun tidak sesuai rencana awal, sosok ini menjelma sebagai salah satu bankir andal dengan prospek cerah di masa mendatang.

Oleh Mohammad Adrianto Sukarso
MURNI PANDIANGAN, DIREKTUR UTAMA BPR ARTATAMA SEJAHTERA

MURNI PANDIANGAN, DIREKTUR UTAMA BPR ARTATAMA SEJAHTERA

SOSOK ayah kerap menjadi poros dalam sebuah keluarga. Dari caranya bersikap, bekerja, dan mengambil keputusan, seorang anak belajar mengenali dunia. Keteladanan itu, disadari atau tidak, membentuk watak, daya juang, dan cara pandang sang buah hati ketika kelak menapaki hidupnya sendiri.

Bagi Murni Pandiangan, figur ayah adalah fondasi yang menguatkan setiap langkah hidupnya.

Direktur Utama BPR Artatama Sejahtera ini tumbuh dalam arahan, bimbingan, dan kasih sayang orang tua, khususnya sang ayah. Besar di Medan, Sumatra Utara, Murni kecil menyaksikan langsung bagaimana ayahnya menjalani profesi sebagai bankir di Bank Dagang Nasional (BDN) dengan penuh tanggung jawab dan disiplin.

Anak ketujuh dari sebelas bersaudara ini menyerap nilai-nilai itu dalam keseharian. Ia dikenal sebagai pribadi yang tekun dan giat belajar, selalu menempati peringkat tiga besar di sekolah. Tanpa banyak disadari, profesi sang ayah sebagai bankir menjadi salah satu pilar yang membentuk arah hidup Murni di kemudian hari.

Usai menamatkan pendidikan SMA, Murni sejatinya memiliki cita- cita lain. Ia ingin berkarier sebagai auditor. Dalam bayangannya kala itu, profesi auditor membuka kesempatan untuk bepergian ke berbagai daerah. Tapi, keinginan itu tak mendapat restu orang tua, terutama sang ayah. Kekhawatiran akan mobilitas tinggi pekerjaan auditor, terlebih karena Murni seorang perempuan, membuat sang ayah meminta putrinya menempuh jalur lain.

“Saya ingin jadi auditor karena yang saya tahu, auditor itu nanti kerjanya jalan-jalan. Tapi, ayah saya tidak kasih izin. Dia bilang, ‘Nggak boleh.

Kamu itu perempuan. Kasihan nanti suamimu ditinggal. Kalau bisa, kamu harus stay di kantor’,” kenang Murni saat ditemui Infobank, Januari lalu.

Mengikuti arahan keluarga, Murni kemudian menempuh pendidikan di STIE Tridharma Bandung dan mendalami ilmu perbankan. Selama masa kuliah, ia kerap memanfaatkan

pengalaman dan wawasan sang ayah untuk menyelesaikan berbagai tugas akademik. Pada September 2004, Murni resmi menyandang gelar sarjana ekonomi.

Sang ayah mengajak Murni untuk mengikuti jejak langkahnya, berkarier sebagai bankir.

Awalnya, Murni tidak ingin memaksakan diri untuk masuk ke dunia yang sama persis dengan ayahnya. Tapi, arah hidupnya berubah drastis ketika sang ayah berpulang pada 29 Desember 2004, hanya tiga bulan setelah Murni lulus kuliah.

Sejak saat itu, tekadnya untuk menapaki dunia perbankan kian membulat. Murni berikhtiar untuk membuktikan bahwa dirinya juga mampu berkiprah dan membuat sang ayah bangga. Langkah awalnya tidak mudah. Murni mengikuti berbagai seleksi masuk bank-bank bergengsi di Tanah Air. Tapi, ketatnya persaingan membuatnya gagal menembus satu pun bank raksasa tersebut.

Akan tetapi, kegagalan itu justru membuka jalan lain. Tak lama berselang, Murni menerima tawaran bekerja di sebuah grup BPR di Jawa Barat. Kariernya di perbankan rural pun dimulai dari posisi yang sederhana sebagai customer service di sebuah BPR di Bandung. Dari sana, kariernya langsung tancap gas.

Pada 2008, di usia 28 tahun, Murni, yang saat itu sudah pindah ke Garut, masuk dalam kandidat direksi sebuah BPR karena dinilai mampu membawa citra positif bagi tim dan pemegang saham, termasuk di BPR di Garut. Kecepatan kariernya sempat membuat Bank Indonesia (BI) terkejut saat ia mengikuti fit and proper test.

“Saya ingat waktu itu petugas BI tanya, ‘Kamu itu masih gadis. Bagaimana mau jadi direksi?’ Ya saya juga bingung. Saya bisa sampai di posisi ini karena rekomendasi dari mereka (stakeholders internal). Mereka yang minta saya jadi pemimpin,” ungkap perempuan yang juga mengantongi gelar magister manajemen dari Universitas Ekuitas Bandung ini.

Kepercayaan itu terus berlanjut. Pada 2011, stabilitas dan kinerja yang dibawanya membuat Murni dipercaya untuk menahkodai BPR di Garut tadi. Namanya makin dikenal di kalangan pelaku industri perbankan rural. Tawaran untuk memimpin BPR lain pun berdatangan. Hingga akhirnya, pada 2016, Murni memutuskan mengakhiri kiprahnya di sana dan menerima tantangan baru di sebuah BPR di Tangerang.

“Saat pembukaan BPR, pemegang saham merasa terkesan dengan pidato saya. Waktu itu, saya menyampaikan, Kami di sini hadir bukan untuk menjadi pesaing atau kompetitor di sekitar kami. Tapi, kami hadir sebagai mitra yang berkolaborasi dan bersinergi. Itulah yang saya coba terapkan: kolaborasi dan sinergi,”

Di BPR itu, Murni menjabat sebagai direktur. Rekam jejaknya yang solid juga menarik perhatian dari sejumlah pemilik bank rural lainnya. Enam tahun kemudian, Murni kembali mendapat tawaran dari pemegang saham BPR Artatama Sejahtera untuk membawa bank itu tumbuh dan bersaing di Jakarta.

Saat Murni bergabung di 2022, BPR Artatama Sejahtera baru saja direlokasi dari Jawa Timur ke DKI Jakarta. Asetnya masih berkisar Rp13 miliar. Namun, dalam waktu relatif singkat, ia berhasil mengubah wajah bank itu menjadi salah satu BPR dengan pertumbuhan paling pesat. Dalam kurun waktu tiga tahun, aset BPR Artatama Sejahtera per September 2025 telah melonjak menjadi Rp226,93 miliar.

Capaian tersebut merupakan buah dari puluhan tahun pengalaman Murni di perbankan rural, ditopang etos kerja yang kuat dan keandalannya sebagai bankir. Nilai- nilai yang ditanamkan sang ayah semasa berkiprah di BDN, khususnya soal kolaborasi dan kerja sama, masih melekat kuat dalam kepemimpinannya. Bagi Murni, keberhasilan bukan soal berjalan sendiri, melainkan membangun sinergi dengan banyak pihak.

“Saya pernah membaca, salahsatu ciri pemimpin yang sukses itu adalah ketika dia bisa menjalin kerja sama tim yang kuat dan solid. Organisasi atau perusahaan yang sukses itu datang bukan dari pimpinan yang hebat, melainkan karena mampu menjalin tim yang kuat dan solid,” ungkapnya.

Prinsip itu ia terapkan secara konsisten di BPR Artatama Sejahtera. Sebagai pemimpin, Murni merangkul seluruh karyawan. Ia berupaya memastikan kesejahteraan pekerja, baik secara jasmani maupun rohani. Dengan hal ini, loyalitas pun tumbuh dengan sendirinya di lingkungan kerja.

Di luar internal perusahaan, Murni juga aktif membangun hubungan baik dengan mitra dan sesama BPR. Pendekatan kolaboratif itu membuat BPR Artatama Sejahtera mampu mendiversifikasi portofolio kredit dan menarik deposan dari berbagai kalangan, sekaligus menjadi motor penggerak intermediasi yang solid.

“Saat pembukaan BPR, pemegang saham merasa terkesan dengan pidato saya. Waktu itu, saya menyampaikan, ‘Kami di sini hadir bukan untuk menjadi pesaing atau kompetitor di sekitar kami. Tapi, kami hadir sebagai mitra yang berkolaborasi dan bersinergi. Itulah yang saya coba terapkan: kolaborasi dan sinergi,’” tegas Murni.

Ke depan, target Murni di BPR Artatama Sejahtera akan makin besar dan megah. Dan, nilai-nilai yang diwariskan sang ayah menjadi kompas yang menuntunnya memimpin, bertahan, dan berkembang di dunia perbankan rural yang penuh tantangan. Kini, bertahun-tahun setelah sang ayah tiada, Murni tampil sebagai bankir yang matang, dipercaya, dan dihormati; membuktikan kepada sang ayah kalau ia bisa menjadi bankir yang berhasil.

Bagi Murni Pandiangan, figur ayah adalah fondasi yang menguatkan setiap langkah hidupnya.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Februari 2026

Rp 65.000

BELI