Bagi leader satu ini, hidup adalah perjalanan yang dijalani dengan kesadaran, bukan sekadar mengejar titik akhir. Dari balik kemudi, ia belajar menjaga arah, memberi ruang untuk merenung dan bersyukur. Nilai yang kemudian menuntun setiap keputusan dalam memimpin bank syariah digital yang kini diembannya.
ADA orang yang memaknai hidup sebagai tujuan. Titik akhirnya harus segera di apai. Tapi, bagi Koko Tjatur Rahmadi, Presiden Direktur ank Aladin Syariah, hidup adalah sebuah rangkaian perjalanan yang dilalui dengan perlahan, penuh kesadaran, hingga rasa syukur di setiap langkah.
Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, 55 tahun silam ini telah lama dekat dengan makna perjalanan. Jauh sebelum memimpin Bank Aladin Syariah, Koko, panggilan akrabnya, sudah belajar memahami hidup dari balik kemudi sejak pertama kali belajar mengendarai Mitsubishi L100 Minicab milik ayahnya.
Kedekatan itu kian menguat ketika ia menginjak usia 17 tahun. Dari hasil menabung selama enam bulan, Koko berhasil mendapatkan SIM A pertamanya. “Saya sisihkan uang jajan sekolah sampai terkumpul Rp7.000, cukup untuk mengurus SIM A saat itu,” kenang Koko, ketika berbincang dengan Infobank sambil menyantap bubur langganannya di sudut Pondok Indah, Jakarta, bulan lalu.
Hingga kini, Koko masih kerap mengendarai mobilnya sendiri, misalnya untuk mengunjungi ibunya di Solo, mengantar anaknya ke sekolah, atau sekadar berkeliling di hari libur. Sesekali ia juga mengendarai salah satu mobil kesukaannya, Toyota Starlet kotak keluaran 1993. Di dalam mobil itu, beberapa koleksi kaset lama masih tersimpan rapi. Salah satunya kaset Chrisye, penyanyi idolanya. Lagu-lagu penyanyi legendaris ini sering menjadi teman setia Koko di perjalanan.
Koko juga telah menempuh banyak “petualangan”. Jalan-jalan di Pulau Jawa pun nyaris seluruhnya ia susuri. Dari Jawa Barat: Sukabumi hingga Pangandaran, Ujung Kulon, ke Jawa Tengah: lereng Merapi, jalur Pantura, hingga Purwokerto. Sementara, di Jawa Timur, sebelum hadirnya Tol Trans Jawa, rute jalan provinsi Madiun- Nganjuk-Surabaya menjadi salah satu rute perjalanan yang paling ia nikmati.
“Di balik kemudi, saat menyusuri jalan, saya menemukan ruang yang jarang didapatkan di tempat lain. Ruang untuk berpikir, merenung, bersyukur, dan berimajinasi dengan bebas,” kata ayah dua anak ini.
Bagi Koko, menyetir bukan sekadar aktivitas favorit. Ia memaknai hobinya menyetir sama seperti hidup: bahwa hidup adalah sebuah perjalanan, bukan pelarian. “Hidup itu perjalanan, bukan pelarian. Karena setiap langkah harus dinikmati dan dijalani dengan rasa syukur,” tutur anak pertama dari dua bersaudara ini.
Kendati begitu, perjalanan juga tidak hanya berlangsung di atas aspal. Ada fase ketika perjalanan dimulai saat seseorang meninggalkan rumah, merantau, dan belajar dari bawah. Itu pula yang dijalani Koko ketika memutuskan merantau ke Jakarta. Sendirian. Ia masih ingat betul tanggalnya 1 Juli 1995 , bertepatan dengan peringatan hari Bhayangkara.
Ia tiba di Jakarta, menumpang di rumah saudara, sebelum akhirnya memulai hidup baru sebagai perantau. Beberapa bulan kemudian, Koko memilih tinggal di rumah kos sederhana di kawasan Pasar Baru, di lantai tiga sebuah bangunan yang dua lantai di bawahnya penuh hiruk pikuk pedagang.
Dari Pasar Baru itulah perjalanan profesionalnya sebagai bankir dimulai. Koko mengawali karier di Bank Citra. Bukan di kursi eksekutif, bukan pula di posisi strategis. Ia datang sebagai anak muda yang membawa gelar sarjana matematika dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Nyaris tanpa bekal praktis soal dunia perbankan. “Dua tahun pertama saya kerja di bank, saya itu sebenarnya tidak paham debit, kredit, neraca,” ungkapnya.
Hari-harinya di Bank Citra menjadi ruang belajar yang sesungguhnya. Perjalanan kemudian membawa Koko ke sejumlah bank lain, termasuk Permata Bank, Bank Mega, hingga akhirnya bergabung dengan Bank OCBC NISP pada 2006. Di bank inilah arah kariernya mulai menemukan bentuk yang lebih jelas.
Setelah menempati sejumlah posisi strategis, Koko dipercaya menjabat sebagai Executive Vice President, Head of Sharia Business Unit Bank OCBC NISP pada April 2010. Tugas ini bukan perkara ringan. Unit usaha syariah (UUS) Bank OCBC NISP saat itu hanya memiliki satu kantor cabang di Jakarta, dengan jumlah pegawai tak lebih dari 27 orang. Tapi, Koko datang dengan ambisi yang tak biasa.
“Waktu itu manajemen tanya, ‘Tujuanmu apa?’ Saya jawab sederhana, ‘Saya mau gedein UUS.’ Karena, kalau di CV, jadi direktur itu biasa. Tapi, kalau ada pengalaman bikin bank, itu luar biasa,” katanya.
Bagi Koko, membesarkan UUS berarti berani merekrut orang, membangun sistem, dan menciptakan masa depan. Ia pun belajar ke Malaysia dan Singapura, menyerap praktik perbankan syariah dari bank-bank yang telah lebih dulu mapan. Dari sana, ia sampai pada satu kesimpulan penting yang membentuk cara berpikirnya hingga kini, bahwa membesarkan perbankan syariah membutuhkan sinergi dan leveraging.
Selama satu dekade, UUS Bank OCBC NISP berkembang dengan 10 kantor cabang yang saling terhubung, menjangkau Jawa, Kalimantan, hingga Sumatra, dengan jumlah pegawai meningkat menjadi sekitar 150 orang. Tapi, setiap perjalanan selalu punya persimpangan. Setelah 16 tahun berkarier di Bank OCBC NISP, yang secara jenjang sudah di posisi puncak, Koko dihadapkan pada pilihan besar: bertahan di zona nyaman atau mengambil tantangan baru.
Kesempatan itu datang saat ada lowongan posisi direktur bisnis di Bank BJB Syariah. Prosesnya panjang dan penuh ketidakpastian. Namun, dengan penuh kesadaran, Koko memilih menerima tantangan baru dan memulai jejak kariernya di kursi direksi Bank BJB Syariah pada 2021. Ia pun harus pindah ke Bandung, kantor pusat Bank BJB Syariah.
Setahun kemudian menjadi fase paling menantang. Seiring dengan dinamika kepemimpinan yang terjadi di Bank BJB Syariah, Koko dipercaya menjabat sebagai pelaksana tugas (plt) direktur utama di bank tersebut, memegang kendali dari ujung ke ujung. Ia memimpin organisasi dalam kondisi terbatas, dan tanggung jawab penuh di pundaknya. Tapi, di bawah kepemimpinannya, Bank BJB Syariah mampu mencatat performa maksimal.
Dari sana, perjalanan kembali berlanjut. Pada Februari 2023, Koko ditunjuk sebagai Presiden Direktur KB Bank Syariah. Tapi, semangatnya untuk terus bertumbuh dan menghadapi tantangan baru membawanya ke satu persimpangan lagi: Bank Aladin Syariah.
Ketika tawaran memimpin bank syariah digital pertama di Tanah Air ini datang, Koko memandangnya sebagai sebuah kendaraan yang telah memiliki fondasi kuat. Teknologi dan infrastrukturnya sudah tersedia, tinggal diarahkan dengan tepat. Saat itu, Bank Aladin Syariah memang tengah berada dalam fase konsolidasi dikelola melalui Bank Aladin Syariah. Melalui konsolidasi kinerja, optimalisasi ekosistem, dan perbaikan struktur biaya, kami menandai fase pemulihan dan turnaround yang makin solid, sekaligus menjadi landasan untuk pertumbuhan berkelanjutan ke depan.
Bagaimana strategi mengoptimalkan ekosistem yang sudah terbentuk itu?
Ekosistem Bank Aladin Syariah pada dasarnya sudah terbentuk sebelum saya masuk, terutama melalui ekosistem Alfa yang membuka ruang sinergi bisnis. Ke depan, fokus kami bukan hanya mengoptimalkan ekosistem yang ada, tapi juga memperluasnya ke ekosistem berbasis nilai syariah. Salah satunya, Bank Aladin Syariah ditunjuk sebagai BPS BPIH ke-31 oleh BPKH, yang menjadi pintu masuk pengembangan ekosistem haji dan umrah terintegrasi dengan jaringan Alfa. Selain itu, kami mengembangkan ekosistem melalui Bank as a Service (BaaS) dengan menawarkan layanan digital kepada mitra pihak ketiga, serta memperkuat kolaborasi di bidang literasi keuangan dan digital.
Bagaimana sebetulnya posisi Bank Aladin Syariah sebagai bank digital?
Bank Aladin Syariah adalah bank digital, tapi dalam pendekatan layanan kami bersifat hybrid. Bukan hybrid dalam arti memiliki cabang fisik sebagai kanal distribusi. Karena, kami memang tidak memiliki cabang sama sekali, melainkan hybrid dalam pendekatan manusianya. Kami tetap menyiapkan tim offiine untuk segmen nasabah tertentu, khususnya premiere customer. Segmen ini membutuhkan interaksi langsung, terutama dalam proses edukasi agar nyaman bertransaksi secara digital. Ke depan, seiring dengan pergantian generasi, kebutuhan edukasi ini akan makin berkurang karena literasi digital akan terbentuk secara alami.
Target Bank Aladin Syariah tahun ini?
Kami menargetkan pertumbuhan double digit, sekitar 10%-11%, di seluruh area bisnis. Saat ini, Bank Aladin Syariah memiliki sekitar 3,5 juta pengguna terdaftar, dengan sekitar 1,5 juta yang dapat kami jangkau secara aktif melalui nomor ponsel. Ke depan, kami menargetkan pertumbuhan jumlah nasabah dan volume transaksi masing-masing sekitar 10%.
Apa visi Anda untuk Bank Aladin Syariah dalam 5-10 tahun ke depan?
Visi kami yaitu menjadi bank digital syariah terdepan di Indonesia. Bank Aladin Syariah adalah bank digital syariah pertama, dan kami ingin tetap berada di barisan depan. Keunggulan utama kami ada pada digitalisasi yang memudahkan akses. Proses onboarding sederhana, layanan mudah digunakan, dan kebutuhan nasabah bisa dipenuhi.
|
Strategi Menjaga Momentum Pertumbuhan Bagaimana perkembangan Bank Aladin Syariah hingga saat ini? Sejalan dengan visi sebagai bank syariah digital, seluruh infrastruktur teknologi Bank Aladin Syariah dibangun ulang dari awal. Investasi besar inilah yang membuat dalam empat tahun pertama bank ini mencatatkan kerugian, karena fokus utama masih pada pembangunan fondasi sistem dan bisnis. Saat saya bergabung pada Agustus 2024, peluang pertumbuhan mulai terlihat, terutama di segmen konsumer serta ekosistem Alfa Group. Pada Agustus-September 2024, kami lakukan konsolidasi dan merapikan arah. Targetnya jelas: mulai mencetak laba. Hasilnya, kami membukukan laba sekitar Rp12,7 miliar pada November dan Rp10 miliar pada Desember 2024. Secara keseluruhan, kerugian 2024 berhasil ditekan dari proyeksi hampir Rp90 miliar menjadi sekitar Rp64 miliar, dan tren positif ini berlanjut ke awal 2025 seiring penataan biaya dan organisasi. Sejak itu, kinerja Bank Aladin Syariah terus berlanjut secara positif. Hingga saat ini, laba yang dibukukan telah melampaui Rp150 miliar. Ini menjadi momentum penting. Bukan hanya dari sisi angka, tapi juga kepercayaan diri organisasi. Kami juga melihat pertumbuhan yang kuat dari sisi bisnis. Bank Aladin Syariah memiliki ceruk pasar yang spesifik melalui ekosistem Alfa, dengan basis nasabah lebih dari 3 juta. Volume transaksi bulanan kini mendekati 11 juta transaksi, meningkat signifikan dibandingkan sekitar 4 juta transaksi pada awal fase pengembangan. Selain itu, payroll sekitar 300.000 karyawan Alfa Group kini kinerja. “Seperti mobil, semuanya sudah siap. Tinggal menentukan ke mana akan melaju,” ujarnya. Memimpin Bank Aladin Syariah terasa seperti kembali duduk di balik kemudi setelah perjalanan panjang. Bukan membangun kendaraan dari nol, melainkan menentukan rute dengan kesadaran penuh. Kapan melaju cepat, kapan harus melambat. Di bawah kemudi Koko, Bank Aladin Syariah perlahan menemukan arahnya dan berhasil melewati fase turnaround. Bagi Koko, pengalaman memimpin bukan semata soal strategi atau capaian angka, melainkan kelanjutan dari nilai-nilai yang ia rawat selama lebih dari tiga dekade berkarier di industri perbankan. Sejak awal merantau, ia berpegang pada falsafah Jawa yang diajarkan Ki Hadjar Dewantara: ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan), ing madya mangun karsa (di tengah membangun semangat), dan tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan). Nilai-nilai itu juga ia lengkapi dengan prinsip saling asah, saling asuh, saling asih, dan silih wangi. Artinya, belajar bersama, membina, mengasihi, dan meninggalkan kebaikan. “Pada akhirnya, yang ingin ditinggalkan bukan hanya kinerja, tapi jejak yang baik,” tuturnya. Bagi Koko, semua nilai itu kembali bermuara pada makna perjalanan. Di jalan, seorang pengemudi dituntut untuk terampil, selalu waspada, memahami lingkungan sekitar, berempati, memiliki tenggang rasa alias tepo seliro, dan disiplin menaati aturan. Mungkin karena itu, lagu-lagu Chrisye kerap menemani Koko di balik kemudi. Seperti judul lagu “Badai Pasti Berlalu”, terasa selaras dengan perjalanan hidup yang ia jalani. Di setiap perjalanan selalu ada tanjakan, tikungan, dan badai yang mesti dilewati. Tapi, selama arah dijaga, langkah dijalani dengan kesadaran, dan kemudi tetap dipegang dengan disiplin dan tenang, perjalanan akan terus bergerak maju. “Seorang driver yang baik dan andal pasti memahami dan menghayati nilai-nilai itu,” pungkasnya. |
Pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, 55 tahun silam ini telah lama dekat dengan makna perjalanan. Jauh sebelum memimpin Bank Aladin Syariah, Koko, panggilan akrabnya, sudah belajar memahami hidup dari balik kemudi sejak pertama kali belajar mengendarai Mitsubishi L100 Minicab milik ayahnya.