Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Pembiayaan Otomotif Tak Otomatis Ngacir di Momen Lebaran

Lonjakan mobilitas di momen Lebaran tak lagi otomatis mendorong pembiayaan otomotif. Di tengah daya beli masyarakat yang belum kuat dan risiko kualitas kredit pasca-Lebaran, multifinance beralih dari euforia volume menuju strategi selektif berbasis kualitas portofolio.

Oleh Alfi Salima Puteri
Istimewa

Istimewa

MOMENTUM Lebaran yang selama bertahun- tahun menjadi andalan industri otomotif dan perusahaan pembiayaan (multifinance), kini tak lagi bisa dibaca dengan pola lama. Lonjakan mobilitas masyarakat memang tetap terjadi di momen ini, tapi tak lagi berbanding lurus dengan peningkatan pembelian kendaraan baru.

Kementerian Perhubungan melalui Badan Kebijakan Transportasi (BKT) mencatat pergerakan masyarakat selama periode Lebaran 2025 mencapai 146,48 juta jiwa atau sekitar 52% dari total penduduk Indonesia. Tapi, besarnya arus mudik itu tidak otomatis berimbas pada euforia penjualan otomotif.

Data BKT menunjukkan, mobil pribadi masih menjadi moda transportasi utama dengan jumlah 33,69 juta orang atau 23% pemudik, disusul sepeda motor yang digunakan oleh 12,74 juta orang atau 8,7% pemudik. Meski demikian, kendaraan yang digunakan mayoritas adalah unit yang telah dimiliki sebelumnya, bukan hasil pembelian baru menjelang hari raya.

“Lebaran 2026 masih berpotensi menjadi momentum pertumbuhan pembiayaan otomotif. Namun, dampaknya diperkirakan lebih moderat dibandingkan tahun- tahun sebelumnya,”

Wahyudi Darmawan, Direktur Utama BRI Finance.

Fakta itu menegaskan bahwa peningkatan kebutuhan mobilitas saat Lebaran lebih banyak dipenuhi melalui optimalisasi aset yang ada, bukan melalui ekspansi kepemilikan. Sehingga, kans pembiayaan mobil dan sepeda motor menjelang Lebaran tahun ini bersifat lebih selektif dan berbasis kebutuhan nyata.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) membaca pola serupa. “Gaikindo tidak melihat adanya lonjakan signifikan penjualan mobil selama Ramadan. Secara umum penjualan berjalan normal, sementara peningkatan justru lebih terlihat pada permintaan persewaan kendaraan untuk kebutuhan mobilitas masyarakat,” ujar Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, kepada Infobank, bulan lalu.

Pernyataan itu menjadi penanda perubahan perilaku konsumen. Menjelang Lebaran, masyarakat cenderung memilih solusi jangka pendek yang fleksibel, seperti menyewa kendaraan, ketimbang mengambil komitmen cicilan jangka panjang.

Bagi industri pembiayaan otomotif, realitas itu mempersempit ruang pertumbuhan musiman. Lebaran tetap menyimpan peluang, tapi tidak lagi bersifat otomatis.

BRI Finance, misalnya, membaca Lebaran 2026 bukan sebagai ajang ekspansi agresif, melainkan momentum taktis. Fokus diarahkan pada kualitas portofolio, bukan sekadar mengejar volume. Nasabah dengan penghasilan stabil, riwayat kredit baik, serta penggunaan kendaraan untuk kebutuhan keluarga dan aktivitas produktif menjadi sasaran utama. Sebaliknya, segmen dengan volatilitas pendapatan tinggi mulai dihindari untuk menekan potensi lonjakan kredit bermasalah pasca-Lebaran.

Pendekatan kehati-hatian ini tecermin dari belum ditetapkannya target pertumbuhan yang agresif.

Penguatan analisis kredit sejak awal, pemantauan portofolio pasca-Lebaran, serta penerapan early warning system menjadi kunci menjaga kualitas pembiayaan.

“Lebaran 2026 masih berpotensi menjadi momentum pertumbuhan pembiayaan otomotif. Namun, dampaknya diperkirakan lebih moderat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” kata Direktur Utama BRI Finance, Wahyudi Darmawan.

Strategi serupa ditempuh Mandiri Utama Finance (MUF). Head of Corporate Secretary & Legal MUF, Elisabeth Lidya Sirait, menegaskan bahwa Lebaran tetap menawarkan peluang, tapi harus direspons secara terukur. “Perusahaan memandang Lebaran bukan hanya sebagai momentum musiman, tapi sebagai peluang untuk mendorong pembiayaan otomotif yang sehat melalui pendekatan yang lebih selektif dan sesuai dengan kebutuhan konsumen saat ini,” tuturnya.

MUF melihat kebutuhan kendaraan masih bersifat fungsional, seperti untuk menunjang mobilitas kerja, usaha produktif, dan perjalanan keluarga. Karena itu, pembiayaan difokuskan pada konsumen dengan profil risiko stabil, rekam jejak pembayaran baik, serta sumber pendapatan berkelanjutan.

Pendekatan ini sekaligus menjadi langkah antisipatif terhadap risiko kenaikan pembiayaan bermasalah pascamudik.

Dari sisi produk, pembiayaan mobil masih mendominasi menjelang Lebaran, sementara sepeda motor tetap relevan sebagai kendaraan operasional harian. Pembiayaan multiguna juga mengambil peran karena menawarkan fleksibilitas dana jelang hari raya. Namun, promosi agresif seperti DP rendah, tenor panjang, dan bunga murah tak lagi menjadi senjata utama. Konsumen kini lebih mempertimbangkan kemudahan proses, kecepatan layanan, dan reputasi perusahaan pembiayaan.

Perubahan strategi industri ini sejalan dengan tren penjualan mobil nasional yang terus melemah. Data Gaikindo menunjukkan, setelah mencapai puncaknya pada 2022, penjualan mobil terus menurun. Pada2024, wholesales tercatat 865.723 unit, turun dari 1,005 juta unit pada 2023. Bahkan, pada periode Januari- November 2025, penjualan mobil kembali melemah menjadi 710.084 unit atau turun 9,65% secara tahunan.

Bagi industri multifinance, angka-angka itu menjadi peringatan dini bahwa Lebaran tak lagi bisa diperlakukan sebagai “mesin otomatis” pertumbuhan pembiayaan otomotif. Pelemahan daya beli, kenaikan biaya hidup, serta sikap konsumen yang makin rasional membuat permintaan kendaraan bergeser dari emosional menjadi fungsional.

Djaja Suryanto Sutandar, Presiden Direktur WOM Finance

Kebutuhan Ada,tapi Tetap Hati-Hati

Bagaimana WOM Finance melihat prospek pembiayaan otomotif menjelang Lebaran?

Menjelang Lebaran, secara historis permintaan pembiayaan memang meningkat seiring kebutuhan mobilitas masyarakat. Namun, untuk tahun ini, kami menilai kenaikannya tidak akan sebesar tahun- tahun sebelumnya. Secara demand, kebutuhan tetap ada, tapi kami memilih bersikap lebih berhati-hati karena kondisi ekonomi dinilai belum sepenuhnya membaik.

Mengapa tidak agresif mengejar pembiayaan otomotif jelang Lebaran?

Pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa agresivitas pembiayaan menjelang Lebaran kerap berujung pada lonjakan kredit bermasalah (non performing loan/NPL) setelah Lebaran. Karena itu, kami lebih fokus menjaga kualitas pembiayaan ketimbang mengejar volume agar risiko NPL tetap terkendali.

Strategi apa yang diterapkan untuk menekan risiko NPL pasca-Lebaran?

Kunci pengendalian NPL dilakukan sejak awal akuisisi nasabah. WOM Finance memperketat seleksi segmen dengan memprioritaskan karyawan berpenghasilan tetap dan masa kerja minimal dua tahun. Segmen informal dan pekerjaan musiman yang memiliki risiko tinggi mulai dibatasi sehingga profil risiko portofolio tetap sehat.

Produk apa yang menjadi andalan WOM Finance jelang Lebaran?

Selain pembiayaan motor baru, kami justru lebih didominasi pembiayaan multiguna dengan jaminan BPKB motor maupun mobil. Menjelang Lebaran, pembiayaan multiguna, baik untuk kebutuhan konsumtif maupun produktif, menjadi pilihan utama masyarakat. Secara komposisi, multiguna menyumbang sekitar 65%-70% dari total pembiayaan, sementara motor baru sekitar 20%.

 

Kementerian Perhubungan melalui Badan Kebijakan Transportasi (BKT) mencatat pergerakan masyarakat selama periode Lebaran 2025 mencapai 146,48 juta jiwa atau sekitar 52% dari total penduduk Indonesia. Tapi, besarnya arus mudik itu tidak otomatis berimbas pada euforia penjualan otomotif.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Februari 2026

Rp 65.000

BELI