KEHADIRAN artificial intelligen ce (AI) sudah tidak bisa dihin dari, apalagi ditolak. Keterse diaan AI, baik yang gratis maupun berbayar, sudah menjadi “te man” dalam keseharian. Penggunanya mulai ketergantungan. Penggunanya juga kian beragam. Karena, sepanjang memiliki handphone, informasi yang kita inginkan akan tersedia dalam hitungan detik ketika bertanya melalui AI. Demikian pula halnya dengan ketergantungan kita semua terhadap handphone. Kapan kita mematikan handphone? Ketika bangun pagi pun, yang kita lihat langsung handphone.
Di setiap artikel saya di Infobank terkait dengan AI, saya selalu menyampaikan bahwa AI yang ”gratis” dan berbayar tentu akan berbeda kualitasnya. Hal lain yang juga saya sampaikan, kita sebagai pengguna memastikan bahwa algoritma yang dipakai masih valid.
Ketika saya awal kuliah pada 1974 di IPB, dosen statistik memberikan contoh sederhana terkait dengan algoritma. Jika mendung, maka hujan. Saat itu, selalu demikian, dan kota Bogor layak dipersepsikan sebagai kota hujan. Saat ini, ternyata mendung t idak selalu menjadi hujan. Pertanyaannya, apakah algoritma yang digunakan sudah ”kedaluwarsa” atau algoritmanya sudah disempurnakan jika kita menggunakan AI berbayar?
Contoh lain, banyak dijumpai semacam keluhan ketika menggunakan Google Map. Misalnya, ketika diikuti, Google Map ternyata mengarahkan ke kuburan. Padahal, tujuannya bukan ke kuburan.
Tentunya masih banyak pengalaman pengguna AI yang mengalami hal-hal yang tidak sesuai atau tidak akurat. Kembali pada pertanyaan universal, apakah AI berbayar lebih akurat? Secara teoretis, seharusnya lebih berkualitas karena penyedia jasanya memperoleh pendapatan. Namun, ada kesamaan
yang belum berubah terkait apakah algoritmanya sudah valid dan relevan.
Kehadiran AI tentunya tidak boleh diabaikan, apalagi dihindari, hanya lantaran ada kasus-kasus yang tak sesuai. Karena, AI dibuat oleh manusia yang juga tak luput dari kesalahan dan kekhilafan. AI juga serupa dengan pisau. Dapat digunakan untuk kebaikan atau sebaliknya. Jadi, prinsip kehati-hatian harus tetap ada. Pengambilan keputusan berdasarkan saran AI yang juga dibuat manusia. Harus diyakini bahwa sejatinya manusia pemeran utama inovasi teknologi, termasuk AI.
Secara normatif, penggunaan AI tetap lebih banyak memberikan manfaat. AI banyak memberikan kemudahan, kecepatan, dan kepraktisan yang menunjang bisnis dan/atau aktivitas yang bukan terkait bisnis. Namun, tetap diperlukan kewaspadaan karena sangat sering terjadi ketidaksempurnaan terkait dengan akurasi maupun persepsi. Ada beberapa risiko kekinian terkait AI yang barangkali perlu kita perhatikan.
Pertama, terkait dengan apa yang disampaikan Harvard Business Review (2025) bahwa teknologi baru akan menciptakan ”serangan” baru yang lebih luas. Dikatakan pula bahwa era baru penipuan sekarang menjadi kepastian yang akan segera terjadi. Hal ini didorong oleh berbagai elemen, termasuk AI dan AI generatif yang dapat membuat deepfake yang t idak dapat dibedakan dari kenyataan.
Secara definisi, deepfake adalah teknologi manipulasi video dan audio yang menggunakan AI untuk menciptakan konten yang membuat orang terlihat atau terdengar melakukan hal-hal yang sebenarnya t idak dilakukan. Teknologi ini sebenarnya tidak baru sama sekali karena sudah ada sejak 2017, dan terus berkembang dengan kemampuan yang kian canggih dalam mengubah wajah dan suara seseorang dalam video. Lebih mena rik lagi, deepfake dengan mengguna kan identitas palsu kini dapat memicu serangkaian tindakan otomatis.
Kedua, masih menurut Harvard Business Review (2025), mulai awal 2026, serangan baru yang perlu diwaspadai adalah berupa ”peracunan” data. Pihak-pihak yang t idak bertujuan baik akan merusak sejumlah big data yang digunakan untuk memanipulasi data. Di lain pihak, semua entitas bisnis dan nonbisnis sangat mengandalkan data.
Pertanyaannya, siapa yang akan mengontrol bahwa data yang dimiliki aman untuk dimanipulasi? Karena, hal itu umumnya baru diketahui ketika manipulasi data itu sudah terjadi. Celakanya lagi, ketersediaan ahli keamanan siber saat ini sangat langka. Jika jumlahnya tetap terbatas, dapat dipastikan akan menyebabkan kelelahan, kejenuhan, dan tentunya berdampak pada kesehatan.
Ketika ada manfaat yang akan diperoleh, secara bersamaan harus dipastikan apa risikonya. Mesti kita maklumi bahwa manfaat AI akan memberikan nilai tambah dan bahkan menjadi ”budaya” baru. Untuk itu, sejak awal harus juga dipahami bahwa ada risikonya. Salah satu risiko yang penting adalah terkait realitas hukum. Banyak dijumpai pertanyaan tentang siapa yang harus bertanggung jawab ketika fasilitas dan kegunaan AI salah.
Saat ini masih menjadi ajang debat filosofis preseden hukum. Namun, ada hal yang sudah pasti ketika ada gugatan terhadap pertanggungjawaban pribadi, meski bekerja di perusahaan. Ini jangan diartikan bahwa sebaiknya tidak menggunakan AI di perusahaan. Hal itu bisa diatasi dengan menegakkan secara konsisten tata kelola yang baik, mitigasi risiko, dan kepatuhan. Gunakan juga prinsip ”percaya boleh, curiga jalan terus”.
Di setiap artikel saya di Infobank terkait dengan AI, saya selalu menyampaikan bahwa AI yang ”gratis” dan berbayar tentu akan berbeda kualitasnya. Hal lain yang juga saya sampaikan, kita sebagai pengguna memastikan bahwa algoritma yang dipakai masih valid.