Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Tetap Dominan, tapi Makin Homogen

Empat bank penghuni KBMI 4 menguasai lebih dari separuh market share perbankan nasional. Kontribusi mereka tampak kian dominan sebagai penggerak ekonomi. Tapi, ada kecenderungan fokus bisnis empat bank itu makin seragam.

Oleh Ari Astriawan

LEBIH dari separuh aset perbankan nasional dikuasai “The Big Four Bank”, penghuni kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 4. Empat bank kakap itu adalah Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Central Asia (BCA), dan Bank Negara Indonesia (BNI). Dengan dominasi yang kuat itu, mereka menjadi pilar utama industri perbankan sekaligus penggerak pembiayaan perekonomian nasional.

Kontribusi bank KBMI 4 memang sangat signifikan. Biro Riset Infobank (birI) mencatat, per Oktober 2025, mereka menggenggam pangsa di atas 50%, baik dari sisi aset, kredit, dana pihak ketiga (DPK), maupun laba. Total aset keempat bank itu tercatat Rp6.696,52 triliun atau tumbuh 10,52% year on year (yoy). Angka itu setara 50,66% dari total aset perbankan nasional yang sebesar Rp13.219,52 triliun. Pangsa aset kelompok ini naik tipis dari 49,93% di 2024.

Secara individu, Bank Mandiri masih menjadi yang terbesar dengan total aset Rp2.563,36 triliun per September 2025. Diikuti BRI Rp2.123,45 triliun, BCA Rp1.538,50 triliun, dan BNI Rp1.269,49 triliun. BNI sendiri tercatat sebagai bank KBMI 4 yang mencatatkan kenaikan aset tertinggi, yakni 18,86%.

Bank-bank kakap pernah menggenggam porsi aset yang lebih besar, yakni 56,44% di 2020. Tapi, saat itu, pengelompokan bank masih menggunakan kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU). Ketika itu, kelompok BUKU 4 dihuni tujuh bank sehingga wajar saja kalau porsi asetnya jauh lebih besar.

Lalu, dari sisi penghimpunan dana masyarakat, empat bank ini mengantongi porsi 52,22% atau setara Rp5.093,17

triliun dari total DPK bank umum yang mencapai Rp9.754,22 triliun. Dalam lima tahun terakhir atau sejak 2020, pangsa DPK bank KBMI 4 bergerak di atas 50%. Di aspek ini, BNI lagi-lagi menjadi bank yang tumbuh paling kencang. DPK BNI melonjak 21,38% menjadi Rp934,33 triliun. Sementara, Bank Mandiri yang menghimpun DPK terbesar, juga menunjukkan kenaikan solid 13,00% atau menjadi Rp1.884,19 triliun.

Keempat bank ini juga menjadi motor utama penggerakan ekonomi dari sisi pembiayaan. Kelompok ini mendominasi pembiayaan ekonomi Indonesia lewat ekspansi kredit yang masif. Mereka menjadi tulang punggung pembiayaan UMKM, korporasi, infrastruktur, serta proyek-proyek strategis nasional. Tidak terkecuali ke sektor pembiayaan berkelanjutan (green financing).

Dukungan modal jumbo membuat bank-bank KBMI 4 mempunyai kapasitas untuk melakukan ekspansi kredit. Jaringan kantor mereka pun tersebar di seluruh Indonesia. Beberapa bahkan mempunyai jaringan kantor di luar negeri untuk menopang ekspansi bisnis. Dengan semua kapasitas yang dimiliki, empat bank terbesar ini menguasai pangsa kredit perbankan nasional sebesar 53,03%. Porsi itu meningkat dibandingkan dengan Desember 2024 di posisi 52,67% dan Desember 2023 yang sebesar 51,58%. Adapun total kredit yang mereka salurkan per Oktober 2025 mencapai Rp4.411,62 triliun.

Dari sisi laba, penghuni KBMI 4 ini bahkan lebih dominan lagi. Total laba mereka mencapai Rp145,14 triliun. Angka itu terkoreksi 5,19% secara tahunan. Meski terkontraksi, pangsa laba kelompok bank kelas kakap ini setara 67,14% dari total laba perbankan nasional yang sebesar Rp216,16 triliun.

Sementara, dari sisi rentabilitas, kemampuan empat bank ini meng-generate laba tetap solid. Tapi, bila diperinci per individu bank, ada tiga bank yang mengalami koreksi laba di kuartal ketiga 2025, yakni Bank Mandiri (-10,22%), BRI (-9,10%), dan BNI (-7,32%). Sementara, BCA tampil perkasa dengan tetap membukukan pertumbuhan laba 5,66%, atau menjadi Rp43,41 triliun. Raihan itu juga menjadikan “Si Biru” sebagai bank peraih laba terbesar di September 2025.

Secara keseluruhan, pangsa laba kelompok ini terhadap perbankan nasional tetap besar. Bahkan, persentasenya tidak jauh berubah dari 2020, ketika kategori BUKU 4 dihuni tujuh bank.

Kapasitas digital yang dimiliki bank-bank besar ini juga membuat mereka mampu melakukan ekspansi bisnis secara efisien. Lihat saja rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BO/PO) yang di bawah rata-rata industri. Tak heran bila di tengah berbagai tantangan yang ada, bank-bank ini tetap bisa menjaga net interest margin (NIM) selalu menarik dan menguasai pangsa laba perbankan nasional.

Terlepas dari soal kinerja, sejatinya empat bank di kelompok ini mempunyai fokus atau spesialisasi masing masing. Sebut saja Bank Mandiri yang selama ini dikenal unggul di wholesales atau corporate banking, sedangkan BRI mempunyai keunggulan dan core business di segmen UMKM dan mikro. Sementara, BCA dikenal unggul dalam transactional banking dan ritel. Bank ini juga dikenal memiliki porsi dana murah yang tinggi. Adapun BNI punya spesialisasi di consumer banking, korporasi, dan international banking.

Khusus bank-bank milik negara (Himbara), sebelumnya – di era Kementerian BUMN dipimpin Erick Thohir – sudah dipertegas agar mempunyai fokus atau spesialisasi masing-masing. Ini dilakukan agar bisnis bank pelat merah tidak tumpang tindih dan saling bersaing. Tapi, dalam perjalanannya, spesialisasi itu tampak kembali kabur. Bisnis bank-bank KBMI 4 terlihat makin homogen. Semua masuk dan bersaing di pasar yang sama.

Tak salah memang. Tapi, tanpa fokus yang jelas, bank bank kakap ini dikhawatirkan mengalami homogenisasi bisnis, pertumbuhan yang moderat, dan daya ungkit ke sektor-sektor strategis nasional menjadi kurang optimal.

Bank-bank itu tentu saja mempunyai alasan tersendiri terkait dengan fokus bisnisnya. Ambil contoh BRI yang baru saja melakukan corporate rebranding pada akhir 2025. Langkah strategis ini dilakukan untuk membidik segmen yang lebih luas. Rebranding bukan hanya perubahan logo, tapi juga dibarengi dengan transformasi fundamental bisnis.

BRI ingin dikenal sebagai bank yang lebih universal, tak hanya melayani segmen UMKM dan mikro. Sebagai holding ultra mikro, BRI tetap menjadikan segmen UMKM dan mikro sebagai fokus utamanya, tapi juga akan memperkuat positioning di segmen lain.

Secara kinerja, sekitar 80% portofolio bisnis BRI tetap mengalir ke core-nya, yakni UMKM dan mikro. Tapi, segmen ini memang sedang mengalami tekanan. Untuk memacu kinerja bisnisnya, BRI sepertinya membutuhkan mesin pertumbuhan baru, di luar segmen UMKM dan mikro. Manajemen BRI sendiri menegaskan, meski berubah menjadi bank yang lebih universal, bank ini tidak akan meninggalkan UMKM dan mikro yang selama ini menjadi fokus utamanya.

Sementara, satu-satunya bank swasta nasional di kelompok ini, yakni BCA, tetap kuat di positioning-nya. Total kredit BCA dan entitas anak tumbuh 7,7% secara tahunan, atau menjadi Rp993 triliun per akhir 2025. “Penyaluran ini sejalan dengan komitmen BCA dalam mendukung perkembangan dunia usaha nasional,” tutur Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, akhir Januari lalu.

 

Kontribusi bank KBMI 4 memang sangat signifikan. Biro Riset Infobank (birI) mencatat, per Oktober 2025, mereka menggenggam pangsa di atas 50%, baik dari sisi aset, kredit, dana pihak ketiga (DPK), maupun laba. Total aset keempat bank itu tercatat Rp6.696,52 triliun atau tumbuh 10,52% year on year (yoy). Angka itu setara 50,66% dari total aset perbankan nasional yang sebesar Rp13.219,52 triliun. Pangsa aset kelompok ini naik tipis dari 49,93% di 2024.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Februari 2026

Rp 65.000

BELI