Belum ada produk di keranjang belanja kamu

BBM Naik, Multifinance Bidik Kendaraan Listrik

Lonjakan harga energi mulai mengubah cara pandang masyarakat terhadap kendaraan. Kendaraan listrik kini dilirik, membuka peluang baru bagi multifinance meski porsinya relatif kecil. Tapi, wacana penerapan pajak untuk kendaraan listrik bisa menjadi tantangan.

Oleh Alfi Salima Puteri
Sumber: Istimewa

Sumber: Istimewa

HARGA energi yang terus meninggi imbas ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mempercepat penguatan adopsi kendaraan listrik, termasuk di Tanah Air. Masyarakat makin melirik kendaraan listrik. Perubahan ini berdampak pada lanskap industri otomotif dan pembiayaan di Indonesia. Meski porsinya masih relatif kecil, pembiayaan terhadap kendaraan listrik cenderung naik. Di lain sisi, tren penjualan kendaraan konvensional, khususnya roda empat, beberapa tahun belakangan mengalami kontraksi.

Tampaknya mulai ada pergeseran minat masyarakat terhadap kendaraan, dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik. Namun, terdapat sejumlah hal yang masih menjadi pertimbangan masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik, mulai dari harga kendaraan listrik yang masih relatif tinggi, infrastruktur pengisian daya yang belum merata, hingga nilai jual kembali yang belum stabil.

Industri multifinance mulai melihat arah perubahan ini sebagai potensi pertumbuhan baru. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai dinamika global justru bisa menjadi momentum untuk mempercepat adopsi pembiayaan berbasis ramah lingkungan. Hal itu disampaikan langsung Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan Maret 2026.

“Dinamika geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan BBM perlu dicermati sebagai peluang percepatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia, sehingga industri multifinance dapat memperluas portofolio pembiayaan hijau,” jelasnya.

Data memang menunjukkan sinyal positif. Sampai dengan Februari 2026, penyaluran pembiayaan kendaraan listrik oleh multifinance tumbuh 39,35% secara tahunan (year on year/yoy), atau menjadi Rp21,94 triliun. Dari angka tersebut, pembiayaan kendaraan roda empat listrik dan hybrid masih mendominasi sebesar 83,52% atau senilai Rp18,32 triliun. Angka ini mencerminkan bahwa pasar mulai terbentuk dan minat masyarakat tidak lagi sekadar tren sesaat.

Sejalan dengan pandangan regulator, pelaku industri pembiayaan juga mulai merasakan pergeseran minat tersebut, meski masih dalam tahap awal. Plt Direktur Utama Mandiri Utama Finance (MUF), Dapot Parasian S. Sinaga, mencatat adanya peningkatan awareness masyarakat terhadap kendaraan listrik seiring dengan kenaikan harga minyak global, yang perlahan mendorong minat pembiayaan di segmen ini.

“Adanya kenaikan harga minyak global mulai mendorong peningkatan awareness terhadap kendaraan listrik (EV). MUF melihat adanya kenaikan minat pembiayaan EV, meskipun secara volume masih relatif terbatas dibandingkan dengan kendaraan konvensional,” ujarnya kepada Infobank.

Meski demikian, kontribusi pem biayaan kendaraan listrik di MUF saat ini masih berada di kisaran 10% dari total portofolio. Angka tersebut menunjukkan bahwa ruang pertum buhan masih terbuka lebar. Tentunya tetap diperlukan pendekatan yang hati-hati seiring dengan perkembangan pasar yang belum sepenuhnya matang.

 

 

 

MUF juga menilai bahwa sejumlah tantangan masih perlu dihadapi, mulai dari harga kendaraan listrik yang relatif lebih tinggi hingga dinamika nilai jual kembali yang masih berkembang. Namun, perusahaan tetap optimistis bahwa seiring dengan meningkatnya adopsi dan makin kuatnya ekosistem kendaraan listrik, stabilitas pasar akan terbentuk dengan sendirinya.

Untuk menangkap peluang tersebut, MUF secara bertahap menyesuaikan strategi bisnis, termasuk menghadirkan skema pembiayaan yang lebih kompetitif serta memperkuat kolaborasi dengan mitra di industri otomotif. Di lain sisi, sinergi dengan Mandiri Group juga terus dioptimalkan guna memperluas akses pembiayaan dan meningkatkan penetrasi pasar.

Ke depan, jika harga energi global bertahan tinggi, daya tarik kendaraan listrik diyakini akan kian kuat. Namun, MUF menegaskan akan tetap menjaga keseimbangan portofolio antara kendaraan listrik dan konven sional, sembari mengembangkan pembiayaan EV secara bertahap agar pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan.

Pandangan serupa juga disampaikan Maybank Finance, yang melihat tren kendaraan listrik mulai tumbuh. Tapi, belum bisa menjadi penopang utama bisnis pembiayaan saat ini. Presiden Direktur Maybank Finance, Alexander, mengungkapkan, minat terhadap pembiayaan kendaraan listrik cenderung meningkat. Namun, skalanya masih terbatas dibandingkan dengan kendaraan konvensional.

“Berdasarkan data pembiayaan mobil listrik di perusahaan kami pada bulan Maret 2026, kami melihat ada peningkatan porsi pembiayaan mobil listrik, tetapi kenaikannya tidak terlalu signifikan,” ungkapnya.

Maybank Finance menilai kenaikan minat ini belum sepenuhnya mencerminkan perubahan perilaku konsumen yang permanen. Selain dipengaruhi oleh kenaikan harga BBM, faktor lain seperti meningkatnya kesadaran terhadap energi ramah lingkungan, efisiensi biaya pajak dan bahan bakar, serta makin banyaknya pilihan produk dari agen pemegang merek (APM), turut mendorong pertumbuhan tersebut.

Dari sisi portofolio, pembiayaan kendaraan listrik masih mengambil porsi kecil. Lebih dari 80% pembiayaan Maybank Finance didominasi kendaraan konvensional. Hal ini menunjukkan, meski potensinya mulai terlihat, kendaraan listrik belum menjadi tulang punggung pertumbuhan dalam waktu dekat.

Senada dengan itu, BRI Finance juga menilai kendaraan listrik belum akan menjadi motor utama pertumbuhan pembiayaan dalam waktu dekat. Meski demikian, Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhan melihat prospek kendaraan listrik tetap menjanjikan dalam jangka panjang. "Kendaraan litsrik memiliki potensi yang baik di masa depan, terutama jika didukung penurunan harga, insentif pemerintah, serta peningkatan infrastruktur seperti charging station," ucapnya.

Di luar itu, potensi pertumbuhan dari segmen ini bisa jadi membentur hambatan baru. Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengeluarkan Permendagri Nomor 11 Tahun 2026 yang berlaku pertengahan April 2026. Beleid itu menetapkan besaran pajak kendaraan listrik, termasuk mobil dan sepeda motor listrik. Dengan berlakunya aturan ini, kendaraan listrik yang tadinya mendapatkan insentif pajak, yang juga menjadi salah satu daya tarik utama masyarakat, akan dikenakan pajak kendaraan bermotor (PKB) dan Sumbangan Wajib Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan (SWDKLLJ).