Perbaikan kualitas pembiayaan dan efisiensi operasional menjadi PR besar bagi bankir-bankir BPRS. Di tengah kondisi sulit, BPRS tetap berpeluang tumbuh, terutama dari sisi intermediasi. Tapi, ekspansi harus dilakukan secara prudent.
Sumber: Istimewa
PENGURUS bank pereko no mian rakyat syariah (BPRS) bisa jadi tengah kedodoran menahan beban demi menjaga profitabilitas. Kinerja interme diasi industri ini tercatat tumbuh moderat, tapi profitabilitasnya justru anjlok cukup dalam. Tekanan beban ditambah memburuknya kualitas aset membuat industri BPRS kesulitan menahan laba bersih untuk tidak turun.
Dari sisi intermediasi, berdasar kan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2025, BPRS mencatatkan pertumbuhan di atas ratarata per tum buhan BPR konvensional. Penyaluran pembiayaannya mening kat 11,51% year on year (yoy) menjadi sebesar Rp20,31 triliun. Sementara, dana pihak ketiga (DPK) naik 10,31% menjadi sebesar Rp18,17 triliun. Total asetnya pun mengembang 8,00% secara tahunan, dari sebesar Rp25,03 triliun menjadi sebesar Rp26,51 triliun.