Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Kompas Kepemimpinan dalam Perjalanan Merawat Warisan

Merawat warisan bukan cuma soal menjaga yang sudah ada, tapi berani terus belajar, berubah, dan tetap bertahan saat keadaan sulit. Ketulusan memimpin, kemauan memperbaiki diri, dan percaya pada proses adalah bekal paling kuat untuk melangkah. Pada akhirnya, setiap perjuangan yang dijalani dengan hati akan menemukan jalannya.

Oleh Mohammad Adrianto Sukarso
Infobank

Infobank

“BUKU adalah jendela dunia”. Pepatah itu tampaknya menjadi pegangan hidup Henry Palthy Tambunan, Direktur Utama BPR Sukma Hitamajaya. Bekal berupa ilmu pengetahuan yang ia peroleh dari membaca menjadi kompas dalam menentukan arah BPR yang dipimpinnya, di tengah samudra perbankan rural yang luas dan penuh tantangan.

Siapa yang menyangka, karier Henry akan berlabuh di sektor perbankan mikro. Lahir di Jakarta pada 1974, pria ramah ini berasal dari keluarga perantau asal Sumatra Utara yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil (PNS), bidang yang nyaris tidak bersinggungan dengan dunia perbankan. Sang ibu merupakan guru, sementara ayahnya bekerja di Badan Pertanahan Nasional (BPN).

Perkenalan Henry dengan dunia perbankan bermula dari hadirnya Paket Kebijaksanaan Oktober 1988 (Pakto 88), yang membuka peluang pendirian BPR dengan modal relatif kecil, sekitar Rp50 juta. Pada 1995, ayahnya memutuskan mendirikan BPR Hitamajaya Argamandiri di Citeureup, Bogor.

Mulanya, Henry tidak memiliki ketertarikan untuk terjun ke sektor ini. Wajar saja. Saat itu ia tengah menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Pancasila. Tapi, seiring berjalannya waktu, ia makin sering melihat bagaimana orang tuanya menjalankan BPR itu. Perlahan, muncul dorongan untuk melanjutkan usaha yang telah dirintis keluarga, terlebih di tengah kondisi lapangan pekerjaan yang tidak mudah.

“Waktu itu ‘kan, saya sedang berkuliah di Fakultas Hukum. Saya juga belum begitu tahu dengan bank ini. Tapi, mungkin karena waktu itu melamar kerja juga susah, dan ada perusahaan sendiri, ya sudah saya kerja di situ. Dan, saya merasa, bahwa bank ini adalah warisan dari orang tua. Jadi, kenapa tidak saya yang jaga?” terang Henry kepada Infobank, saat ditemui di kantornya di Depok, bulan lalu.

Menjelang lulus kuliah, Henry diangkat menjadi komisaris BPR. Saat itu, ia merasa kalau peran sebagai komisaris belum terlalu menantang, karena lebih banyak berkutat pada fungsi pengawasan. Tantangan sesungguhnya datang pada 2000. Di usia 26 tahun, ia dipercaya menjadi Direktur Utama BPR Sukma Kemang Agung, bank rural yang menjadi cikal bakal BPR Sukma Hitamajaya.

BPR itu belum lama diambil alih oleh keluarganya. Dengan latar belakang hukum, beradaptasi di industri keuangan tentu bukan perkara mudah. Ekspektasi juga meningkat, mengingat ia harus mengelola BPR yang dibangun oleh orang tuanya. Namun, dalam prosesnya, Henry merasa “diselamatkan” oleh kebiasaan membaca yang mulai ia bangun.

Menariknya, Henry mengaku bahwa ia bukanlah pribadi yang gemar membaca sejak awal. Kebiasaan itu baru tumbuh saat masa kuliah, menjelang penunjukannya sebagai komisaris. Ia menyadari perlunya memperkaya diri dengan pengetahuan, dan secara sadar memaksakan diri untuk membentuk kebiasaan itu.

“Saya sebenarnya orang yang malas baca buku dan malas berolahraga. Itu kelemahan saya. Tapi, kalau kita mau maju, kita harus tahu kelemahan kita di mana, dan kita harus bisa mengatasi kelemahan tersebut,” beber Henry.

Buku yang dibacanya pun beragam, meski ia mengaku paling menyukai tema pemasaran. Wawasan dari bacaan itu menjadi bekal penting saat ia pertama kali memimpin bank. Selain itu, penyandang gelar magister manajemen ini juga aktif belajar dari para mentor yang lebih berpengalaman di industri BPR.

Menurutnya, banyak hal yang bisa dipetik dari para senior, mulai dari pengelolaan neraca keuangan, operasional, hingga manajemen sumber daya manusia. Apa yang ia pelajari langsung ia terapkan dalam pekerjaannya. Hasilnya pun terlihat. BPR Sukma Hitamajaya mampu tumbuh secara konsisten, dengan aset mencapai Rp83,76 miliar per September 2025.

Pertumbuhan itu tentu tidak lepas dari ketekunan Henry dalam mengembangkan diri. Tapi, ia juga tidak menampik peran para karyawan yang turut berkontribusi dalam perjalanan BPR Sukma Hitamajaya.

Di balik kepemimpinannya, Henry mengaku dirinya adalah pribadi yang cenderung pendiam. Meski demikian, di lingkungan kerja, ia justru dikenal sebagai sosok yang gemar berbaur dengan karyawan. Ia tidak segan menciptakan suasana santai melalui candaan ringan, sebagai cara membangun lingkungan kerja yang hangat dan saling mendukung. Teori akan pendekatan seperti ini juga ia pelajari dari buku.

“Ada pemimpin yang memanusiakan manusia, ada juga yang menganggap karyawannya sebagai mesin. Kalau bisa jadi yang pertama, kenapa saya harus mementingkan diri sendiri? Kalau karyawan saya sejahtera, otomatis pekerjaan lancar dan peluang (terjadinya) fraud bisa kita singkirkan. Intinya itu,” terang Henry.

Henry memahami bahwa kualitas sumber daya manusia menjadi kunci dalam menghadapi tantangan industri ke depan. Setelah lebih dari dua dekade berkecimpung di BPR, ia melihat bahwa dinamika industri tidak pernah menjadi lebih mudah.

Perubahan teknologi, pergeseran perilaku nasabah, pengetatan regulasi, hingga persaingan dengan lembaga keuangan lain menjadi tantangan yang terus berkembang. Meski demikian, di bawah kepemimpinan Henry, BPR Sukma Hitamajaya membuktikan mampu beradaptasi dengan baik terhadap dinamika yang ada.

Meski telah hampir tiga dekade berkarier di industri ini, sosok yang juga merupakan Ketua DPD Perbarindo DKI Jaya dan Sekitarnya ini mengaku, masih ingin terus berkarya di dunia BPR. Ia memiliki mimpi untuk menghadirkan produk BPR yang lebih dekat dan diminati masyarakat luas. Prosesnya memang tidak mudah, tapi ia percaya setiap langkah akan membawa hasil.

“Saya ingin kami bisa membuat produk yang bisa dicintai oleh bangsa sendiri. Saya ingin melihat bagaimana masyarakat lebih suka memakai jasa BPR dibanding bank umum. Sebenarnya sesimpel itu, tapi mewujudkannya tidak gampang. Jadi, saya bilang ke teman-teman BPR, ya sudah dinikmati saja prosesnya,” kata Henry.

Perjalanan yang Henry lewati, mulai dari lembar demi lembar buku yang ia baca, pengalaman menjadi komisaris, hingga relasi bersama stakeholders, semuanya menjadi bagian dari proses panjang yang membentuk cara pandang dan sikapnya sebagai leader. Di tengah dinamika industri yang tak pernah benar-benar tenang, Henry memilih untuk tetap berlayar dengan kompas yang sama: belajar, beradaptasi, dan percaya bahwa setiap proses, pada waktunya, akan menemukan arah terbaiknya.

Filler:

“Ada pemimpin yang memanusiakan manusia, ada juga yang menganggap karyawannya sebagai mesin. Kalau bisa jadi yang pertama, kenapa saya harus mementingkan diri sendiri? Kalau karyawan saya sejahtera, otomatis pekerjaan lancar dan peluang (terjadinya) fraud bisa kita singkirkan. Intinya itu.”

Caption Foto:

Henry Palthy Tambunan; membangun kepemimpinan yang hangat