Seperti pelari yang ditempa latihan panjang, leader satu ini mengibaratkan memimpin perusahaan seperti lari jarak jauh. Sebagai leader, ia berdiri di barisan depan, mengorkestrasi langkah BFI Finance menuju garis finish berikutnya.
Infobank
SUTADI, Presiden Direktur PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance), sudah lama akrab dengan maraton. Hobi berlari telah ia tekuni lebih dari satu dekade terakhir. Sutadi pun terbiasa menempuh jarak puluhan kilometer dalam satu kali berlari. Bahkan, ia sudah berhasil menjadi finisher kategori full marathon (FM) sepanjang 42 kilometer di salah satu ajang maraton bergengsi dunia.
Pada 2025, pria berusia 51 tahun ini mendapatkan mandat “maraton” yang berbeda. Sutadi dipercaya memimpin BFI Finance, perusahaan pembiayaan yang genap berusia 44 tahun pada 7 April 2026 lalu. BFI Finance bisa dibilang sudah menuntaskan full marathon pertamanya. Dan, Sutadi dipercaya mengemban tugas memimpin BFI Finance menjalani full marathon keduanya.
“Jadi, tugas saya adalah membawa BFI ke second marathon,” ujar Sutadi lugas, ketika berbincang dengan tim Infobank di BFI Tower, BSD, Kamis, 23 April 2026.
Bagi Sutadi, maraton tak sekadar soal jarak tempuh, melainkan cara mengelola ritme dan daya tahan. Menurutnya, seperti halnya berlari, memimpin perusahaan juga bukan hanya soal menjadi yang paling cepat, tapi siapa yang mampu menjaga konsistensi hingga garis akhir.
Prinsip itulah yang dipegang Sutadi dalam memimpin BFI Finance. Menurutnya, perjalanan perusahaan lebih menyerupai permainan jangka panjang. Bukan sprint yang mengandalkan dorongan sesaat, melainkan maraton yang menuntut kedisiplinan, perhitungan, dan ketahanan. Goal-nya bukan hanya finish strong, tapi juga berkelanjutan.
Perjalanan Sutadi di BFI Finance tidak dimulai pada waktu yang ideal. Ia bergabung pada Oktober 1997, ketika tahap awal krisis finansial yang mengguncang Indonesia. Saat itu, ia pun belum menyelesaikan studinya di Universitas Trisakti.
“Not the right timing. But sometimes, you cannot choose your timing. The timing choose you,” kenang peraih gelar Sarjana Teknik Industri dari Universitas Trisakti dan Executive M.B.A. dari IPMI International Business School ini.
Kondisi BFI Finance saat itu jauh dari stabil. Di tengah krisis moneter, kinerja keuangan dan operasional perusahaan merosot. Pada 1999, ia sempat terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Namun, perjalanannya tidak berhenti di situ. Ketika BFI Finance mulai memulihkan operasional pada awal 2000, ia kembali bergabung sebagai branch manager, membuka babak baru dalam kariernya.
Sejak saat itu, karier Sutadi terus berkembang. Ia menapaki berbagai posisi strategis hingga dipercaya menjadi direktur bisnis pada 2014. Ketika itu, ia menggantikan sosok pemimpin solid, yakni Yan Peter Wangkar. Selanjutnya, hampir tiga dekade berselang sejak pertama kali bergabung, Sutadi akhirnya ditunjuk sebagai presiden direktur pada 2025.
Penunjukan itu menempatkan Sutadi di posisi yang tidak sederhana. Selama lebih dari 40 tahun, perusahaan ini hanya pernah dipimpin satu orang presiden direktur, yakni Francis Lay Sioe Ho, yang merupakan salah satu pendiri BFI Finance. Bagi Sutadi, dua sosok yang ia gantikan, yakni Yan Peter Wangkar dan Francis Lay Sioe Ho, adalah dua figur penting dalam perjalanan BFI Finance. Keduanya adalah pemimpin dengan karakter kuat dan telah memberi kontribusi besar bagi perusahaan. Namun, ia tidak melihat perannya sebagai pengganti.
Bagi Sutadi, kepemimpinan bukan soal membuktikan diri lebih baik, melainkan melanjutkan perjalanan yang telah dibangun. Ia pun memilih menjalani peran itu tanpa beban berlebih.
“Siapa pun yang berada di posisi saya pasti tahu ini bukan hal mudah. Tapi, saya tidak melihatnya sebagai beban. Saya hanya akan melakukan yang terbaik. Berhasil atau tidak, waktu yang akan menjawab. Setiap pemimpin punya ceritanya sendiri. Bukan soal menjadi lebih baik, melainkan bagaimana saya bisa melanjutkan warisan yang ada dan membawa BFI menjadi lebih baik,” kata pria yang pernah berkarier di Bunas Finance Indonesia dan PT Tjiwi Kimia Pulp & Paper ini.
Dalam memimpin, Sutadi berpegang pada nilai-nilai yang telah lama menjadi fondasi BFI Finance, mulai dari terus bertumbuh dan beradaptasi, menjaga kualitas layanan, hingga membangun kepercayaan dalam tim. Namun, satu prinsip yang ia tekankan berada di atas segalanya: integritas. Baginya, tidak ada kompromi dalam hal ini. Sekecil apa pun pelanggaran, akan berujung pada konsekuensi tegas.
“Karena berdiri sebagai perusahaan independen tanpa dukungan grup besar, BFI Finance dituntut mengandalkan kekuatan sendiri. Karena itu, kualitas layanan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan nasabah. Namun, di atas segalanya, integritas adalah prinsip utama. Tidak ada kompromi, sekecil apa pun pelanggaran, konsekuensinya tegas,” ujarnya.
Karakter BFI Finance sebagai perusahaan pembiayaan independen ikut membentuk cara Sutadi memandang keberlangsungan bisnis. Tanpa dukungan grup besar di belakangnya, perusahaan dituntut untuk mengandalkan kekuatan sendiri dalam setiap siklus ekonomi.
Dalam kondisi seperti itu, disiplin dan ketahanan menjadi kunci. Ia menilai, BFI Finance tidak bisa memaksakan laju pertumbuhan tanpa Ekspansi Selektif di Tengah Ketidakpastian perhitungan karena setiap keputusan akan berdampak langsung pada kemampuan bertahan. “Kami nggak punya siapa-siapa di belakang kami. Jadi, kami harus survive,” ujarnya.
Pengalaman menghadapi krisis, termasuk saat pandemi COVID-19, makin menegaskan hal tersebut. Saat sebagian besar portofolio terdampak restrukturisasi, perusahaan tetap menjaga komitmennya tanpa mengajukan keringanan kepada kreditur. Itu pula yang kemudian membuat BFI Finance mendapat kepercayaan tinggi dari kreditur dan mendapatkan dukungan funding dengan rate yang kompetitif.
Di balik itu, ada kerja tim yang solid, fondasi yang menjaga BFI Finance tetap berdiri dalam tekanan. Sebagai pemimpin di garis awal perjalanan baru ini, Sutadi menya dari bahwa langkah ke depan tidak bisa dijalani tanpa persiapan matang. Seperti pelari yang harus berlatih dan menyusun strategi, ia percaya setiap langkah perlu diperhitungkan. Bukan sekadar bergerak, tetapi memastikan arah dan ketahanan tetap terjaga hingga akhir.
“Maraton itu long term game. Kita harus berlatih dengan baik dan punya strategi yang jelas. Yang penting, kita bisa berlari stabil, tidak memaksakan diri, dan finish strong,” pungkasnya.
Ekspansi Selektif di Tengah Ketidakpastian
Bagaimana manajemen BFI Finance melihat kinerja perusahaan di 2025, terutama dalam konteks kontribusi tahun-tahun sebelumnya serta dinamika industri dan risiko yang dihadapi?
Kalau bicara kinerja 2025, tidak bisa dilepas dari hasil kerja tahun-tahun sebelumnya. Karena, di bisnis pembiayaan, hasil yang kita bukukan hari ini baru terlihat dampaknya 6-18 bulan ke depan, di tengah berbagai faktor ekonomi dan siklus industri.
Secara overall, 2025 masih mencatat pertumbuhan top line sekitar 9%, tapi bottom line cenderung flat (naik tipis sekitar 1%). Ini juga dipengaruhi kondisi industri, khususnya otomotif yang dalam dua-tiga tahun terakhir cenderung stagnan, bahkan menurun. Misalnya, penjualan mobil wholesale turun sekitar 7% dan retail sekitar 6%, sementara motor relatif flat.
Selain itu, tekanan makro berdampak pada profil risiko, yang terlihat dari kenaikan cost of credit. Namun, risiko ini tetap dalam batas manageable, dan secara relatif posisi kami masih cukup kompetitif dibandingkan dengan industri yang cost of credit-nya bisa mencapai 6%-8%.
Bagaimana strategi pembiayaan tahun ini? Dan, sejauh mana perbedaan kondisi setiap daerah memengaruhi kebijakan itu?
BFI Finance menerapkan strategi selektif yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah karena setiap daerah punya dinamika dan risiko berbeda. Area dengan kinerja baik didorong lebih agresif, sementara wilayah dengan tantangan, baik eksternal maupun internal, diperketat. Jadi, tidak ada satu kebijakan yang berlaku untuk semua. Secara umum, industri tahun ini juga cenderung lebih berhati-hati karena tekanan kondisi makro.
Dengan kondisi permodalan BFI Finance yang kuat, bagaimana rencana ekspansi ke depan?
Kalau ekspansi, kami pasti tetap jalan, tapi secara selektif. Karena, dari sisi equity, kami cukup kuat, mendekati Rp11 triliun. Dan, itu termasuk salah satu yang terbesar di industri. Selain itu, debt to equity ratio kami juga masih rendah, sekitar 1,3 kali, padahal secara regulasi bisa sampai 10 kali. Artinya, ruang untuk ekspansi masih besar. Ditambah lagi, setelah COVID-19, trust dari perbankan juga cukup baik. Jadi, akses pendanaan, baik pinjaman maupun obligasi, sejauh ini tidak ada kendala. Dengan kondisi itu, kami tetap ekspansi, tapi tetap hati-hati dan terukur.
Bagaimana dengan funding?
Funding so far no issue. Very positive. Kami punya pinjaman dari hampir semua big banks, baik Himbara maupun non-Himbara.
Di tengah tren pertumbuhan yang moderat, apa fokus strategi pertumbuhan BFI Finance ke depan?
Jadi, saat ini, di BFI Finance untuk multiguna dan mobil bekas, kontribusi terhadap managed receivable sudah mendekati 70%. Artinya, pendorong utama bisnis kami memang masih berasal dari segmen roda empat bekas.
Dari sisi produk, kami cukup lengkap, mulai dari roda dua, roda empat, heavy equipment, properti, hingga syariah. Tahun lalu, kami juga mulai fokus ke supplier stock financing untuk pembiayaan modal kerja dealer mobil bekas. Tahun ini, kami akan masuk ke segmen baru, yaitu pembiayaan motor baru. Kami lihat market dan potensinya masih besar, meskipun memang sangat kompetitif.
Kami juga sudah punya pengalaman dan infrastruktur di roda dua sejak lama. Jadi, tinggal memperkuat sisi front end, seperti dealer dan akuisisi. Ke depan, kami akan masuk secara bertahap, fokus ke brand dan area tertentu dengan tetap mengutamakan speed, layanan yang kompetitif, dan tim yang dedicated.
Apa fokus strategi utama BFI Finance dalam menjaga kinerja dan pertumbuhan di tengah kondisi pasar yang menantang?
Dari sisi strategi, selain business as usual, dalam beberapa tahun terakhir kami fokus memperkuat empat area utama, yaitu teknologi, data, risk, dan digital. Di tengah market yang menantang, kuncinya memang ada di penguatan internal capability agar tetap relevan ke depan.
Kalau melihat perjalanan lebih dari 40 tahun, BFI konsisten menunjukkan kedisiplinan, adaptability, dan resilience. Kami sudah melewati berbagai siklus krisis. Bahkan, dalam dua-tiga tahun terakhir, saat industri otomotif kurang kondusif, kami masih mampu menjaga pertumbuhan positif.
Karena itu, fokus kami sekarang adalah memperkuat fondasi internal sambil tetap menangkap peluang yang dekat dengan core business. Dari sisi pertumbuhan, kami melihatnya dalam perspektif medium hingga long term. Ibarat lari maraton, kami menjaga pace tetap terukur sesuai kemampuan. Sebagai independent finance company, kami tidak memiliki privilege captive market atau dukungan grup besar sehingga disiplin dalam mengelola pertumbuhan dan likuiditas menjadi kunci.
Pengalaman saat COVID-19 juga jadi pembelajaran penting. Saat itu, sekitar 35% portofolio kami direstruk turisasi, tapi kami tidak mengajukan restrukturisasi ke kreditur. Dari situ terbentuk trust yang hingga kini menjadi kekuatan kami. Jadi, prinsipnya tetap sama: bertumbuh secara sehat, disiplin, dan berkelanjutan.
Pada 2025, pria berusia 51 tahun ini mendapatkan mandat “maraton” yang berbeda. Sutadi dipercaya memimpin BFI Finance, perusahaan pembiayaan yang genap berusia 44 tahun pada 7 April 2026 lalu. BFI Finance bisa dibilang sudah menuntaskan full marathon pertamanya. Dan, Sutadi dipercaya mengemban tugas memimpin BFI Finance menjalani full marathon keduanya.