Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Ignasius Jonan

Leading Work-Life Balance

IGNASIUS JONAN adalah Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, dan Menteri ESDM 2016-2019.

Oleh Ignasius Jonan
Ignasius Jonan adalah Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, dan Menteri ESDM 2016-2019

Ignasius Jonan adalah Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, dan Menteri ESDM 2016-2019

STRUKTUR demografi kini didominasi Generasi Z dan Y. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), porsi Gen Z yang lahir antara 1997 hingga 2012 sebesar 28%. Di atasnya ada Gen Y yang lahir antara 1981 hingga 1996 dengan porsi 25,87%. Kehadiran Gen Z menarik perhatian, setidaknya karena dua hal ini.

Pertama, mereka adalah digital native, yang sangat cepat beradaptasi dengan teknologi dan mendorong penggunaan e-commerce yang me nye babkan perusahaan berbondong bondong melakukan transformasi produk dan layanan secara digital.

Kedua, mereka memiliki pandangan tersendiri dan dalam bekerja lebih mengutamakan keseimbangan kehidupan (work-life balance). Menurut survei bertajuk “Randstad’s Workmonitor Report 2025” yang melibatkan 26.000 pekerja di seluruh dunia, 83% responden menyatakan work-life balance lebih penting daripada upah. Kesehatan mental dianggap lebih penting daripada loyalitas tradisional sehingga mereka mudah berpindah tempat kerja.

Lalu, bagaimana cara para chief executive officer (CEO) menghadapi dinamika dari hadirnya Gen Z dan Y? Jawabannya adalah kembali pada peran dan fungsi utama seorang pemimpin. Pemimpin itu menentukan tujuan, menunjukkan jalan, dan tahu bagaimana menempuhnya agar sampai tujuan. Seperti dikatakan John C. Maxwell, motivator dan penulis asal Amerika Serikat, “A leader is one who knows the way, goes the way, and shows the way.”

Pemimpin yang bermanfaat adalah pemimpin yang valuesnya menomorduakan kepentingan dirinya. Namun, kini para pemimpin harus menghadapi kelompok Gen Z yang justru memiliki prinsip dan pandangan yang seolah mengutamakan pandangan dan prinsipnya sendiri.

Jika perbedaan generasi kemudian memunculkan generation gap yang menghambat tercapainya hasil dan tujuan, di sanalah justru pemim pin dibutuhkan. Seperti diingatkan Peter Drucker, guru manajemen, “Only three things happen naturally in organizations: friction, confusion, and underperformance. Everything else requires leadership.”

Gap karyawan dari sisi pendidik an pernah saya hadapi ketika me mim pin Kereta Api Indonesia (KAI) pada 20092014. Dari 24.600 karya wan yang ada, 20% atau 6.300 orang lulusan sekolah menengah pertama (SMP) dan 35% atau 9.600 orang berijazah sekolah dasar (SD). Pegawai yang memiliki gelar sarjana hanya 86 orang, termasuk saya sendiri.

Tentu mindset orang lulusan SD dan sarjana sangat jauh berbeda. Tapi, ketika memimpin KAI, seperti halnya saya memimpin lembagalem baga lain, saya selalu menetapkan tujuan yang clear. Dan, tujuan itu harus bermanfaat bagi banyak pihak. Saya memilih menaikkan gaji karya wan KAI yang sedang dalam kondisi merugi, dan mengajak mereka untuk berpikir apa yang terbaik untuk per usa haan dan pengguna jasa kereta api.

Hasilnya positif. Karyawan senang dan lebih produktif. Konsumen pun senang karena pelayanan KAI menjadi prima, dan mereka makin sering meng gunakan jasa transportasi kereta api. Kinerja keuangan KAI menjadi positif dan pemegang saham bisa menikmati laba Rp155 miliar pada 2009, setelah sebelumnya mengalami kerugian selama dua tahun berturut turut.

Jadi, dalam menghadapi berbagai perubahan, seperti hadirnya kelom pok Gen Z, seorang pemimpin harus menemukan kembali tujuan yang ingin dicapai, seperti dikatakan Hubert Joly, mantan CEO Best Buy dan penulis buku The Heart of Business. Menurutnya, tujuan yang ditetapkan harus tujuan yang “mulia”. Yaitu, tujuan yang memenuhi kebu tuhan dunia, memanfaatkan keunikan sebagai keunggulan dan digemari ang go ta tim, serta bagaimana perusahan dapat menciptakan nilai ekonomi.

Hadirnya Gen Z yang mendominasi dunia kerja menuntut para pemimpin untuk mampu memimpin work-life balance bagi anggota tim, bukan soal membagi waktu secara merata. Tapi, bagaimana membangun strategi yang meliputi sikap dan perilaku yang terorganisasi, pendele gasian tugas, karyawan yang tahu prioritasnya, terpeliharanya hubung an antartim, dan bagaimana perusa ha an berkontribusi pada kenaikan bersama, bukan hanya fokus memak simalkan nilai pemegang saham.

Dominasi Gen Z harus dimanfaatkan untuk memberi harapan akan potensi kemajuan dan perubahan di masa depan. Karena esensi kepemim pinan adalah menyiapkan pemimpin pemimpin berikutnya, maka dari perilaku, cara bekerja, dan passion Gen Z, seorang pemimpin bisa men deteksi mana yang akan berpotensi menjadi pemimpin masa depan. Yang terbiasa mengutamakan kepentingan orang banyak berpotensi menjadi leaders. Yang hanya mengikuti kepentingannya sendiri akan menjadi followers.

 

Pertama, mereka adalah digital native, yang sangat cepat beradaptasi dengan teknologi dan mendorong penggunaan e-commerce yang me nye babkan perusahaan berbondong bondong melakukan transformasi produk dan layanan secara digital.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Mei 2026

Rp 65.000

BELI