Kenaikan harga minyak akibat perang di Timur Tengah menekan supply chain dan memicu spillover effect inflasi di banyak negara. Indonesia yang sebelumnya relatif stabil dengan kenaikan harga BBM sekitar 2,8% pun harus menaikkan harga BBM. Distribusi perlu diperketat karena cost pressure, depresiasi rupiah, dan beban subsidi.
Sumber: Istimewa
PERANG antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran belum juga reda. Efeknya makin terasa ke mana-mana. Harga minyak dunia melonjak dan menjadi pemicu utama gelombang inflasi global. Dampak perang ini bukan hanya ke sektor energi, tapi juga merembet ke berbagai komoditas lain. Sebuah spillover effect yang membuat banyak negara kelimpungan.
Minyak memang merupakan urat nadi industri global. Begitu harganya naik, biaya produksi ikut terkerek. Efek berantai ini menciptakan tekanan inflasi lintas sektor yang sulit dihindari. Dalam situasi seperti ini, rantai pasok atau supply chain global ikut terganggu, dan hal itu memperparah kondisi ekonomi di banyak negara.
Tailan jadi salah satu contoh nyata. Pemerintahnya sampai harus memperpanjang pemotongan pajak solar dan menguras dana energi nasional demi menahan harga. Bahkan, operasional taksi di Bandara Suvarnabhumi sempat terganggu karena pasokan BBM seret. Kondisi ini menunjukkan betapa seriusnya tekanan dari lonjakan harga minyak.