Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Perang Minyak Global, Indonesia Mulai Terimbas

Kenaikan harga minyak akibat perang di Timur Tengah menekan supply chain dan memicu spillover effect inflasi di banyak negara. Indonesia yang sebelumnya relatif stabil dengan kenaikan harga BBM sekitar 2,8% pun harus menaikkan harga BBM. Distribusi perlu diperketat karena cost pressure, depresiasi rupiah, dan beban subsidi.

Oleh Steven Widjaja
Sumber: Istimewa

Sumber: Istimewa

PERANG antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran belum juga reda. Efeknya makin terasa ke mana-mana. Harga minyak dunia melonjak dan menjadi pemicu utama gelombang inflasi global. Dampak perang ini bukan hanya ke sektor energi, tapi juga merembet ke berbagai komoditas lain. Sebuah spillover effect yang membuat banyak negara kelimpungan.

Minyak memang merupakan urat nadi industri global. Begitu harganya naik, biaya produksi ikut terkerek. Efek berantai ini menciptakan tekanan inflasi lintas sektor yang sulit dihindari. Dalam situasi seperti ini, rantai pasok atau supply chain global ikut terganggu, dan hal itu memperparah kondisi ekonomi di banyak negara.

Tailan jadi salah satu contoh nyata. Pemerintahnya sampai harus memperpanjang pemotongan pajak solar dan menguras dana energi nasional demi menahan harga. Bahkan, operasional taksi di Bandara Suvarnabhumi sempat terganggu karena pasokan BBM seret. Kondisi ini menunjukkan betapa seriusnya tekanan dari lonjakan harga minyak.

Di Vietnam, situasinya juga tak kalah berat. Pemerintah Vietnam sudah tiga kali menyesuaikan harga BBM dalam sebulan, dengan kenaikan solar menembus lebih dari 100%. Efeknya langsung terasa ke sektor penerbangan. Vietnam Airlines terpaksa memangkas puluhan penerbangan domestik. Ini menggambarkan cost pressure yang makin tak terkendali.

Di Kamboja, harga solar melonjak 68% dan ratusan SPBU berhenti beroperasi. Australia bahkan mengalami penutupan hampir 500 SPBU karena kehabisan stok. Di India, sekitar 20% restoran dan hotel di Mumbai tutup akibat kelangkaan gas. Sementara, di Korea Selatan, lonjakan indeks harga impor mencapai level tertinggi dalam hampir tiga dekade, indikasi kuat tekanan inflasi berbasis energi.

Di tengah situasi global yang chaos ini, Indonesia pun menaikkan harga BBM-nya. BBM non-subsidi dan LPG nasional mulai naik signifikan per Sabtu (18/4). Strategi diversifikasi impor minyak dan pengelolaan stok yang cukup aman masih menjadi andalan utama RI. Pasokan BBM nasional berada di kisaran 21-25 hari, bahkan bisa lebih lama berkat tambahan dari kilang swasta. Ini menunjukkan manajemen energi republik ini cukup adaptif menghadapi krisis.

Tapi, hal itu bukan berarti tanpa risiko. Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, mengingatkan, pengawasan distribusi BBM, terutama BBM subsidi, perlu diperketat. “Penggunaan barcode untuk mobil mengisi BBM pertalite sudah bagus. Tinggal diketatkan saja dalam pelaksanaannya. Untuk mobil angkutan barang juga seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan konsumsinya,” katanya.

Ke depan, tekanan nilai tukar rupiah, potensi kenaikan subsidi energi, dan kebutuhan pembiayaan program pemerintah bisa menjadi tantangan besar. Di sinilah disiplin fiskal dan efisiensi belanja jadi kunci agar Indonesia tetap tahan banting di tengah badai perang minyak global.

Minyak memang merupakan urat nadi industri global. Begitu harganya naik, biaya produksi ikut terkerek. Efek berantai ini menciptakan tekanan inflasi lintas sektor yang sulit dihindari. Dalam situasi seperti ini, rantai pasok atau supply chain global ikut terganggu, dan hal itu memperparah kondisi ekonomi di banyak negara.

Tailan jadi salah satu contoh nyata. Pemerintahnya sampai harus memperpanjang pemotongan pajak solar dan menguras dana energi nasional demi menahan harga. Bahkan, operasional taksi di Bandara Suvarnabhumi sempat terganggu karena pasokan BBM seret. Kondisi ini menunjukkan betapa seriusnya tekanan dari lonjakan harga minyak.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Mei 2026

Rp 65.000

BELI