Infobank
SESEORANG akan melihat dirinya dengan rasa bangga dan senang ketika dalam posisi mengasihani, bukan dikasi hani. Dalam posisi memberi, bukan diberi. Dalam posisi menolong, bukan ditolong.
Ketika seseorang orientasi hidup nya lebih memilih melayani, membantu, dan meringankan beban orang lain, mentalnya lebih sehat, bahagia, dan kaya. Sementara, orang yang masih suka mengambil hak orang lain, misalnya korupsi, orang itu bermental miskin. Tidak sehat. Meski dari luar terlihat gagah, dalam dirinya terdapat lubang kehinaan yang menganga.
Karena fitrah manusia pada dasarnya selalu ingin menapaki jalan kebenaran, kebaikan, dan keadilan, maka manusia disebut moral being. Hidupnya selalu mendambakan kebaikan. Semua tindakannya tidak bisa bebas dari nilai dan implikasi moral yang melekat padanya. Bahkan, dalam keyakinan umat beragama, semua tindakannya – entah bernilai baik atau buruk, entah dilakukan diamdiam atau diketahui orang lain – akan mendapatkan akibat berupa kebahagiaan atau kesengsaraan di akhirat setelah kematian nanti.
Tanpa adanya keabadian jiwa di balik kematian dan adanya proses pengadilan yang fair dengan Hakim yang Maha Adil, alur cerita kehidupan manusia itu absurd. Ibarat buku, membosankan dan menjijikkan dibaca. Banyak orang berbuat zalim yang mencelakakan orang lain, hidupnya terlihat senang dan bahagia. Sementara, banyak orang yang berjuang dan berkorban demi tegaknya kebenaran dan kebaikan, hidupnya malah sengsara. Jika tak ada kelanjutan hidup dan proses pengadilan yang fair dengan sosok Hakim yang Maha Adil, ujung cerita hidup ini sungguh sangat menyakitkan. Ibarat sebuah film, penonton akan sangat kecewa dan marah.
Saya sering berdialog dengan teman-teman eksekutif yang masih aktif dan mantan pejabat pemerin tahan sambil bermain golf. Ada yang jiwanya sehat, hidupnya merasa produktif. Yaitu, mereka yang selama mengemban tugas melakukannya sebaik mungkin sebagai kesempatan dan sarana pengabdian kepada negara dan rakyat.
Ketika pensiun, hidup mereka ceria, tidak menanggung beban bagasi dosa-dosa selama menjabat. Kekayaan yang mereka miliki bersih dan akuntabel. Mereka selalu menjaga agar rezeki yang dibawa pulang untuk keluarganya serbahalal. Mereka yakin, harta yang diraih secara haram tidak akan mendatangkan keberkahan bagi diri dan keluarganya.
Idealnya, jika setiap pribadi selalu mengutamakan kewajiban dan berorientasi melayani, pasti suasana kerja akan menggairahkan. Kerja bukan sekadar untuk mengejar gaji yang menjadi haknya, melainkan kerja sebagai wahana pengabdian atau tempat berbakti pada bangsa, apa pun jabatannya.
Kewajiban dan Hak
Pribadi yang menjunjung tinggi prinsip moral akan mengutamakan kewajiban, haknya akan menyusul kemudian. Ada orang yang sangat sadar ketika gajinya dipotong, merasa haknya dikurangi. Sementara, dia tidak menyadari sering mengurangi kewajibannya. Mental pejuang kemanusiaan akan mendahulukan kewajiban sebagai panggilan moral yang muncul dari kesadaran moral nya. Sebuah dorongan primordial yang fitri, yang ditanamkan Tuhan dalam dirinya.
Sejarah mencatat, banyak pem bangun peradaban besar dunia yang hidupnya lebih digerakkan oleh pang gilan dan kewajiban moral, hampir hampir tidak memperhitungkan dan menuntut hak-haknya. Dalam sebuah perusahaan yang sehat dan profesio nal, hak itu bagaikan bayangbayang yang pasti akan mengikuti kewajiban yang telah dilaksanakan. Tak lagi perlu diperjuangkan.
Namun, dalam sebuah pemerin tahan atau perusahaan yang korup, tak jarang hak rakyat dan karyawan justru dipotong. Idealnya, jika setiap pribadi selalu mengutamakan kewajiban dan berorientasi melayani, pasti suasana kerja akan menggairahkan. Kerja bukan sekadar untuk mengejar gaji yang menjadi haknya, melainkan kerja sebagai wahana pengabdian atau tempat berbakti pada bangsa, apa pun jabatannya. Jadi, sekalipun seseorang bekerja dalam durasi yang sama, dengan penghasilan gaji yang sama, nilai moralnya akan berbeda beda tergantung bagaimana seseorang menghayati dan memberi bobot nilai moral pada pekerjaannya.
Saya pesimistis bangsa dan negara Indonesia akan maju dengan melihat banyaknya korupsi. Akar persoalannya bukan semata pada korupsinya, melainkan mental dan perilaku pejabat yang lebih mementingkan dirinya, bukan sepenuhnya memikirkan dan mengabdi untuk kemajuan bangsanya. Mereka mungkin saja sibuk memikirkan jabatan dan kekuasaan yang dikukuhkan kembali melalui pemilu setiap lima tahunan, bukan memi kirkan kekuasaan sebagai peluang emas untuk melayani dan memajukan rakyat.
Ketika seseorang orientasi hidup nya lebih memilih melayani, membantu, dan meringankan beban orang lain, mentalnya lebih sehat, bahagia, dan kaya. Sementara, orang yang masih suka mengambil hak orang lain, misalnya korupsi, orang itu bermental miskin. Tidak sehat. Meski dari luar terlihat gagah, dalam dirinya terdapat lubang kehinaan yang menganga.
Karena fitrah manusia pada dasarnya selalu ingin menapaki jalan kebenaran, kebaikan, dan keadilan, maka manusia disebut moral being. Hidupnya selalu mendambakan kebaikan. Semua tindakannya tidak bisa bebas dari nilai dan implikasi moral yang melekat padanya. Bahkan, dalam keyakinan umat beragama, semua tindakannya – entah bernilai baik atau buruk, entah dilakukan diamdiam atau diketahui orang lain – akan mendapatkan akibat berupa kebahagiaan atau kesengsaraan di akhirat setelah kematian nanti.