Pertarungan antara empat BPD kakap bukan hanya soal menjadi yang terbesar, tapi juga kemampuan menjalankan operasional yang efisien dan mengoptimalkan capaian laba. Ekspansi bisnis harus dilakukan secara prudent di tengah tren penurunan kualitas aset.
Sumber: Istimewa
PERSAINGAN antara bank pembangunan daerah (BPD) kakap dalam memacu kinerja keuangan makin seru. Di tengah dinamika ekonomi yang jauh dari kondisi stabil, strategi ekspansi kredit dan penghimpunan dana masyarakat diuji.
Di saat bersamaan, upaya menjaga pertumbuhan laba makin challenging. Tekanan biaya dana dan risiko penurunan kualitas aset pun jadi tantangan. Maka, pertarungan “the big four” BPD bukan hanya soal menjadi yang terbesar, tapi juga bank mana yang paling efisien dan mampu mengonversi aset menjadi laba dengan optimal.
Empat besar BPD saat ini dihuni Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (Bank BJB), Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur (Bank Jatim), Bank Pembangunan Daerah Jakarta (Bank Jakarta), dan Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng). Bank BJB kokoh sebagai BPD terbesar berkat total aset konsolidasi Rp221,35 triliun per Desember 2025, naik tipis 0,63% year on year (yoy) dari Rp219,96 triliun pada 2024. Per Maret 2026, aset bank ini terkoreksi tipis 0,58% menjadi Rp221,81 triliun.
Di posisi kedua ada Bank Jatim yang asetnya melonjak 42,93% dari Rp118,14 triliun menjadi Rp168,85 triliun. Bank ini juga mencatatkan pertumbuhan agresif 38,85% per Maret 2026 atau menjadi Rp164,07 triliun.
Bank Jakarta dan Bank Jateng bersaing ketat di posisi ketiga dan keempat. Total aset keduanya terpaut tipis, hanya Rp2 triliunan. Bank Jakarta menutup 2025 dengan total aset Rp102,09 triliun atau tumbuh 23,94%, sedangkan Bank Jateng membukukan total aset Rp100,07 triliun atau tumbuh 6,00%. Di kuartal pertama 2026, selisih aset keduanya sedikit melebar. Aset Bank Jakarta naik 25,63% (yoy) menjadi Rp98,48 triliun, sementara aset Bank Jateng naik 3,23% (yoy) menjadi Rp93,97 triliun.
Kinerja intermediasi BPD-BPD kakap ini bervariasi. Ada yang tumbuh solid, ada pula yang melambat. Bank BJB, misalnya, di 2025 menyalurkan kredit dan pembiayaan Rp140,71 triliun atau terkoreksi 3,89% secara tahunan. Tren ini berlanjut di kuartal pertama 2026, di mana kredit terkontraksi 2,85% menjadi Rp141,24 triliun. Sementara, dana pihak ketiga (DPK) yang terkontraksi tipis 0,63% menjadi Rp152,89 triliun di akhir 2025, berbalik tumbuh positif 3,95% atau menjadi Rp159,87 triliun di kuartal pertama 2026. Komposisi DPK masih didominasi dana mahal dengan rasio dana murah (CASA) 41,87%, sedikit membaik dari 41,43% di akhir 2025.
Sementara, Bank Jatim mampu memacu mesin bisnis intermediasi dengan lebih kencang. Secara konsolidasi, kredit bank ini meroket 46,65% dari Rp75,35 triliun menjadi Rp110,50 triliun. Momentum itu berlanjut di kuartal pertama 2026. Kredit Bank Jatim melonjak 40,85% menjadi Rp109,23 triliun.
Begitu pula dengan DPKnya yang naik 41,36% menjadi Rp127,25 triliun per Desember 2025, dengan porsi dana murah 58,78%. Per Maret 2026, DPK Bank Jatim tercatat tumbuh 37,59% menjadi Rp122,81 triliun, dengan rasio CASA 57,00%. Dominasi dana murah pada struktur DPK memberikan ruang dalam memanage biaya dan menjaga margin.
Bank Jakarta juga berhasil meng genjot fungsi intermediasi. Pada 2025, kreditnya tumbuh 20,29% menjadi Rp63,97 triliun. Pertumbuhan kredit nya tetap solid di kuartal pertama 2026, dengan kenaikan 14,05% men jadi Rp59,57 triliun. Begitu pula dengan DPK yang di akhir 2025 meningkat 27,24% menjadi Rp81,54 triliun, lalu naik lebih tinggi (32,85%) menjadi Rp78,49 triliun per Maret 2026. Rasio CASA bank ini tercatat 42,80%.
Sementara, Bank Jateng menorehkan pertumbuhan yang lebih konservatif. Kreditnya naik 0,36% menjadi Rp64,21 triliun pada 2025. Di kuartal pertama 2026, kredit bank ini juga tumbuh tipis 0,12% menjadi Rp63,66 triliun. Sedang kan, DPK naik 8,87% atau menjadi Rp80,54 triliun di akhir 2025. Lalu naik 4,57% menjadi Rp75,80 triliun per Maret 2026, dengan porsi dana murah 52,27%.
Di lain sisi, dominasi aset tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menghasilkan laba. Soal kemampuan menghimpun pundi pundi keuntungan, Bank Jatim paling top. Tahun lalu, bank yang di nakhodai Winardi Legowo ini menjadi BPD peraih laba terbesar, yakni Rp1,62 triliun, atau meningkat 24,80% secara tahunan. Bank Jatim meng ungguli Bank BJB yang di tahun sebelumnya tercatat sebagai BPD dengan laba terbesar, yakni Rp1,46 triliun. Pada 2025, laba bersih Bank BJB yang sekarang dikomandoi Ayi Subarna sebagai direktur utama naik 8,86% menjadi Rp1,58 triliun.
Bank Jateng juga terbilang cukup menonjol dari sisi profitabilitas. Bank yang dipimpin Bambang Widyatmoko sebagai direktur utama ini meraup laba bersih Rp1,42 triliun, atau meningkat 11,58% secara tahunan.
Sementara, bagi Bank Jakarta yang dipimpin Agus H. Widodo sebagai direktur utama, tahun lalu menjadi periode yang menantang dari sisi laba. Meski kreditnya tumbuh solid, laba bank ini susut 57,64% menjadi Rp330,01 miliar.
Di kuartal pertama 2026, kinerja laba the big four BPD juga bervariasi. Laba Bank BJB naik 2,51% menjadi Rp519,30 miliar. Sedangkan, laba Bank Jatim tumbuh agresif 90,41% menjadi Rp661,23 miliar. Bank Jakarta juga menunjukkan perbaikan signifikan dengan perolehan laba Rp290,95 miliar atau melonjak 35,11%. Sebalik nya, laba Bank Jateng mengalami koreksi 6,44% menjadi Rp328,34 miliar.
“Empat BPD terbesar mencatatkan kinerja bervariasi hingga awal 2026. Dominasi aset tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan menghasilkan laba, apalagi jika tidak diimbangi dengan operasional yang efisien,”
Bila diperinci dari sisi rentabili tas, empat BPD kakap ini menunjuk kan kinerja yang bervariasi. Mengacu pada rasio return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) di akhir 2025, Bank Jatim dan Bank Jateng terlihat unggul. ROA Bank Jatim terjaga di level 1,90%, lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelum nya yang tercatat 1,60%. ROA Bank Jateng juga terjaga di level 1,98%, sedikit turun dari 2,06% di tahun sebelumnya. Sementara, ROA Bank BJB dan Bank Jakarta masingmasing tercatat 0,70% dan 0,51%. Selanjut nya, dari sisi ROE, Bank BJB mencatat angka 7,32%, Bank Jatim 13,35%, Bank Jakarta 2,98%, dan Bank Jateng 13,91%.
Bank Jatim juga membukukan rasio net interest margin (NIM) paling tinggi di antara empat BPD terbesar itu. NIM bank ini tercatat 6,15% di akhir 2025, tapi kemudian sedikit turun menjadi 5,95% per Maret 2026. Sebaliknya, tiga BPD lain berhasil mencatatkan perbaikan NIM di kuartal pertama 2026 dibandingkan dengan akhir 2025. NIM Bank BJB naik dari 3,84% di Desember 2025 menjadi 4,08% di Maret 2026. NIM Bank Jakarta juga tercatat membaik dari 3,72% menjadi 3,75%. Begitu pula dengan NIM Bank Jateng naik dari 5,30% menjadi 5,55%.
Kinerja laba BPD-BPD ini juga dipengaruhi operasional yang efisien. Beberapa di antaranya berhasil men jaga operasionalnya lebih efisien. Maka, walaupun kredit tumbuh lebih rendah, dengan efisiensi yang baik, labanya tetap tumbuh lebih tinggi. Misalnya, dilihat dari rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BO/PO) maupun cost to income ratio (CIR).
Di kuartal pertama 2026, Bank BJB tercatat me miliki rasio BO/PO 87,20% dan CIR 65,99%. Sementara, Bank Jatim mampu menjaga rasio BO/ PO di level 84,54% dan CIR 43,41%. Adapun rasio BO/PO dan CIR Bank Jakarta masingmasing di posisi 80,85% dan 64,61%. Sedangkan, Bank Jateng tercatat memiliki rasio BO/PO 80,31% dan CIR 53,56%.
Di luar itu, bank-bank ini dituntut untuk tetap prudent dalam ekspansi bisnis. Hingga kuartal pertama 2026, kualitas aset mereka cenderung menurun. Dari keempat bank itu, hanya Bank Jakarta yang berhasil menekan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross dari 2,74% menjadi 2,57% di Maret 2026. Sementara, NPL Bank Jatim meng alami kenaikan dari 3,87% di Maret 2025 menjadi 4,29% per Maret 2026. Begitu pula Bank Jateng yang NPLnya meningkat dari 3,87% menjadi 4,27%. NPL Bank BJB juga naik dari 2,43% menjadi 3,07%.
Kenaikan NPL mesti jadi perhatian. Jangan sampai kinerja inter mediasi yang dipacu susah payah, justru siasia terbakar NPL!
Di saat bersamaan, upaya menjaga pertumbuhan laba makin challenging. Tekanan biaya dana dan risiko penurunan kualitas aset pun jadi tantangan. Maka, pertarungan “the big four” BPD bukan hanya soal menjadi yang terbesar, tapi juga bank mana yang paling efisien dan mampu mengonversi aset menjadi laba dengan optimal.