Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Leader Dengan Mental Triatlon Saat Endurance Menentukan Kekuatan Di Garis Akhir

Di lintasan triatlon, garis akhir tidak selalu menjadi milik mereka yang berlari paling cepat. Bagi leader satu ini, yang terpenting adalah kemampuan menjaga ritme hingga akhir perjalanan.

Oleh Ayu Utami Saraswati
Infobank

Infobank

CHRISTIAN Wirawan Wanandi, Direktur Utama Asuransi Wahana Tata (Aswata), sudah tidak asing dengan olahraga yang menguji batas daya tahan. Selain golf, pria yang akrab disapa Christian ini juga cukup serius menekuni triatlon, gabungan dari olahraga berenang, bersepeda, dan berlari yang dilakukan secara berurutan dalam satu waktu.

Ia pernah mengikuti berbagai kompetisi triatlon, mulai dari Sprint Distance hingga Half Ironman 70.3. Christian menekuni hobinya ini secara bertahap, dari jarak yang lebih pendek hingga tantangan yang makin besar.

“Awalnya saya mulai dari Sprint Distance: berenang sekitar 750 meter, sepeda 20 kilometer, dan lari 5 kilometer. Lalu, naik ke Olympic Distance: dengan renang 1,5 kilometer, sepeda 40 kilometer, dan lari 10 kilometer. Setelah itu, ke 70.3 atau Half Ironman: dengan renang 1,9 kilometer, sepeda 90 kilometer, dan lari 21 kilometer. Di level seperti itu, yang paling menentukan memang endurance dan mental,” kata Christian saat berbincang dengan tim Infobank di kantor Aswata, Jakarta, Kamis, 30 April 2026.

Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Christian adalah saat ia mengikuti kompetisi triatlon di Da Nang, Vietnam. Saat itu, suhu udara sekitar 40 derajat Celsius, sementara sesi lari dilakukan menjelang tengah hari.

Kondisi saat itu cukup menantang. Jalur yang dilalui minim tempat berteduh, dan daya tahan fisiknya benar-benar diuji di bawah terik matahari. Pengalaman itu menjadi momen yang paling diingat Christian. Bukan semata karena beratnya perlombaan, tapi karena ada pelajaran yang ia temukan di baliknya.

Bagi Christian, triatlon bukan sekadar soal menyentuh garis akhir. Bertahun-tahun menekuni olahraga ini membuatnya sadar bahwa kecepatan bukan satu-satunya penentu. Memaksakan diri terlalu cepat di awal justru dapat menguras tenaga sebelum mencapai tujuan.

“Yang terpenting bukan selalu berada di depan, melainkan memahami kemampuan diri, mengatur tenaga, menjaga konsistensi, dan mempertahankan ritme. Belum tentu yang di depan dengan kecepatan tinggi bisa bertahan sampai akhir. Jadi, yang penting itu kestabilan, memahami diri sendiri, dan mengatur ritme,” ujarnya.

Prinsip yang sama juga ia bawa ketika memimpin Aswata. Di industri asuransi umum, menurut Christian, perjalanan perusahaan lebih menyerupai olahraga endurance dibandingkan dengan perlombaan sprint. Dan, selama memimpin Aswata, Christian pun tidak memilih pendekatan pertumbuhan agresif dalam waktu singkat. Menurutnya, pertumbuhan harus dibangun secara sehat dan berkelanjutan.

Pendekatan itu juga tidak terlepas dari karakter Aswata sendiri. Memasuki usia ke-62 tahun pada Juli 2026, perusahaan ini memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan dengan sebagian perusahaan asuransi lain yang didukung grup besar dengan ekosistem bisnis yang kuat. Aswata tumbuh dengan jalannya sendiri sehingga reputasi, kualitas layanan, dan kepercayaan menjadi modal yang mesti terus dijaga.

“Kami selalu mengatakan setiap awal tahun atau 1 Januari itu seperti memulai kembali dari nol. Apalagi di asuransi umum, kebanyakan bisnis berjalan dengan sistem perpanjangan tahunan. Artinya, hubungan dengan nasabah harus terus dijaga karena sangat mudah bagi mereka untuk berpindah. Jadi, kami sangat fokus menjaga layanan dan reputasi,” tukasnya.

Perjalanan Christian memimpin Aswata pun tak lepas dari tantangan. Ketika pertama kali memegang estafet kepemimpinan perusahaan, ia langsung dihadapkan dengan pengalaman yang cukup mengujinya. Saat itu bertepatan dengan peristiwa Gempa Padang.

Bencana itu memicu ratusan klaim asuransi, mulai dari rumah yang mengalami kerusakan hingga hotel yang hancur. Pengalaman itu menjadi pelajaran awal yang memperlihatkan kompleksitas industri asuransi yang ia tekuni.

Namun, seiring berjalannya waktu, Christian justru melihat tantangan terbesar bukan datang dari bencana alam, tapi dalam organisasi itu sendiri, yakni tentang mengubah cara kerja, pola pikir, hingga budaya perusahaan. “Tantangannya adalah bagaimana mendorong tim untuk bergerak bersama dan mengubah mindset. Perubahan pola pikir itu tidak mudah. Tidak semua berjalan sesuai harapan. Ada yang berhasil, tapi ada juga yang belum mencapai hasil yang diinginkan,” imbuh Christian.

Dalam memimpin, Christian selalu berpegang pada satu prinsip utama, yakni komitmen. Memimpin bukan hanya soal menentukan arah, tapi juga menjaga konsistensi dalam setiap langkah yang diambil. “Saya selalu memegang beberapa hal utama, yaitu komitmen dan kepercayaan. Apa yang saya ucapkan harus dijalankan dengan komitmen. Disiplin juga menurut saya sangat penting, terutama di industri asuransi,” tuturnya.

Prinsip itu tumbuh seiring dengan perjalanan hidupnya yang sejak awal tak jauh dari dunia asuransi. Christian besar di lingkungan keluarga yang telah lama berkecimpung di industri asuransi. Sebelum dirinya memimpin Aswata, tongkat kepemimpinan perusahaan lebih dulu berada di tangan sang ayah, Rudy Wanandi.

Meski tumbuh di lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia asuransi, Christian tidak pernah secara khusus merencanakan karier di bidang yang sama. Namun, makin lama berkarier di industri ini membuatnya makin lekat dengan nilai kepercayaan yang dibangunnya dalam jangka panjang.

Barangkali itu pula yang membuat pelajaran dari lintasan triatlon terasa dekat bagi Christian. Perjalanan bukan soal melaju paling cepat, tapi menjaga ritme hingga garis akhir.

 

Bidik Pertumbuhan Sehat di Tengah Persaingan Ketat

Boleh diceritakan apa yang mendorong peningkatan profitabilitas Aswata hingga saat ini?

Kenaikan kinerja Aswata memang cukup signifikan setelah pandemi. Kami melakukan seleksi risiko yang cukup baik sehingga hasil underwriting juga cukup bagus. Itu yang menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan profitabilitas. Di luar itu, hasil investasi kami juga cukup baik. Walaupun, dalam bisnis memang ada naik-turunnya. Kadang ada periode pendapatan meningkat, tetapi hasil akhirnya belum tentu bagus sehingga profit bisa turun. Namun, setelah pandemi, peningkatan profit kami cukup signifikan.

Bagaimana porsi portofolio asuransi di Aswata saat ini?

Portofolio terbesar kami saat ini masih berasal dari asuransi properti dengan kontribusi sekitar 40%-42%. Sementara, asuransi kendaraan bermotor berada di bawah 30%, sekitar 25%-28%. Sisanya berasal dari lini lain, seperti pengangkutan (marine cargo), oil and gas, konstruksi, engineering, dan liability. Beberapa lini tersebut juga masih bertumbuh, meski nilainya memang tidak sebesar portofolio utama.

Bagaimana Anda melihat dinamika pasar tahun ini?

Secara ekonomi dan bisnis, industri asuransi umum dalam setahun terakhir memang cukup menantang, meski pertumbuhan masih terjadi di berbagai lini. Jika sebelumnya industri bisa tumbuh double digit sekitar 15%-20%, dalam dua hingga tiga tahun terakhir pertumbuhannya cenderung melambat ke level single digit.

Meski demikian, peluang pertumbuhan masih cukup besar, terutama karena tingkat penetrasi asuransi di Indonesia masih rendah. Dari sisi prospek, sektor properti dan asuransi kendaraan masih menjadi pasar yang potensial, meski beberapa lini seperti asuransi mobil juga menghadapi tantangan tersendiri dalam beberapa waktu terakhir.

Dengan kondisi itu, strategi apa yang dilakukan Aswata tahun ini untuk tetap mendorong pertumbuhan?

Saat ini, yang kami lakukan adalah menambah channel distribusi agar bisa menjangkau pasar lebih luas. Kami mencoba mengambil peluang yang ada. Hanya saja, tantangannya adalah ukuran pasar atau ‘kuenya’ tidak bertambah besar. Jadi, pada akhirnya kami lebih banyak bersaing untuk mengambil market share yang sudah ada. Kalau persaingannya seperti itu, biasanya margin juga menjadi lebih tipis. Persaingannya cukup ketat.

Di industri asuransi umum ada sekitar 70 perusahaan, jadi memang jumlah pemainnya cukup banyak. Namun, bagi kami tidak masalah. Kami tetap mengutamakan layanan dan menjaga reputasi perusahaan. Kami masih cukup percaya diri bahwa nasabah akan tetap memilih kami.

Apakah ada rencana bagi Aswata untuk melakukan ekspansi ke lini asuransi kredit atau lini bisnis lainnya? Mengingat peluang di segmen itu juga cukup besar.

Kalau berbicara secara terbuka, untuk saat ini sepertinya belum ada rencana ke arah sana. Kami memang belum memiliki keahlian di bidang tersebut, belum punya pengalaman, dan belum memiliki appetite di segmen itu. Jadi, saat ini, kami masih fokus pada lini bisnis yang memang sudah menjadi kompetensi kami.

Target Aswata tahun ini?

Target kami tahun ini masih single digit, sekitar 8%. Peluang pertumbuhan masih besar, terutama di luar lini properti dan kendaraan bermotor. Namun, kami tetap fokus pada pertumbuhan yang sehat dan menjaga profitabilitas. Karena itu, manajemen risiko menjadi hal utama, terutama di tengah meningkatnya risiko seperti perubahan iklim dan bencana.

Kalau melihat kondisi saat ini, Anda masih optimistis dengan prospek industri asuransi?

Saya optimistis karena Indonesia memiliki populasi besar, sementara tingkat penetrasi asuransi masih rendah sehingga peluang pertumbuhannya masih sangat luas. Harapannya, bukan hanya bisnis yang tumbuh, tetapi juga kesadaran masyarakat bahwa asuransi merupakan bagian penting dalam kehidupan. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan awareness dan akses, terutama di tengah keterbatasan daya beli masyarakat.

Ia pernah mengikuti berbagai kompetisi triatlon, mulai dari Sprint Distance hingga Half Ironman 70.3. Christian menekuni hobinya ini secara bertahap, dari jarak yang lebih pendek hingga tantangan yang makin besar.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Juni 2026

Rp 65.000

BELI