Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Most Outstanding Women in The Insurance Industry

The Lady Guardians of Insurance Menjaga Kepercayaan di Tengah Perubahan

Digitalisasi mengubah wajah industri asuransi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di balik perubahan itu, The Lady Guardians of Insurance hadir menjaga keseimbangan, memastikan inovasi bergerak maju tanpa meninggalkan tata kelola, etika, dan kepentingan nasabah.

Oleh Ayu Utami Saraswati
Infobank

Infobank

Industri asuransi tengah bergerak dalam kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Digitalisasi mengubah cara masyarakat mencari informasi, membeli produk, hingga mengakses layanan perlindungan. Kecepatan menjadi kebutuhan, sementara pengalaman yang personal menjadi harapan baru.

Masyarakat kini menginginkan layanan yang semakin mudah dijangkau, lebih praktis, dan dapat hadir kapan saja. Berbagai proses yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang perlahan berubah menjadi lebih sederhana, mulai dari pencarian informasi, pembelian produk, hingga layanan purnajual.

Di saat yang sama, perkembangan teknologi juga mengubah ekspektasi masyarakat terhadap industri keuangan. Bukan lagi hanya soal produk yang baik, tetapi juga pengalaman yang nyaman, transparan, serta mampu menjawab kebutuhan secara lebih spesifik.

Namun di balik berbagai percepatan tersebut, muncul pertanyaan yang jauh lebih besar: bagaimana memastikan inovasi tetap berjalan seiring dengan perlindungan konsumen?

Di balik perubahan itu, ada sosok-sosok yang bekerja memastikan keseimbangan tetap terjaga. Mereka mungkin tidak selalu berada di garis depan, tetapi memegang peranan penting dalam menjaga arah industri. The Lady Guardians of Insurance ini datang dari perusahaan yang berbeda, tetapi membawa keyakinan yang sama: inovasi boleh bergerak cepat, tetapi kepercayaan tetap harus dijaga.

Industri Bergerak Sangat Cepat

Perubahan besar di industri asuransi tidak hanya terjadi pada teknologi, tetapi juga pada cara masyarakat memandang layanan keuangan. Kecepatan kini bukan lagi keunggulan tambahan, melainkan kebutuhan. Masyarakat ingin proses yang sederhana, efisien, mudah diakses, dan dapat hadir kapan pun dibutuhkan.

Bagi Rista Qatrini Manurung, Direktur Hukum dan Kepatuhan PT AIA Financial, perubahan tersebut membawa manfaat besar bagi masyarakat. Digitalisasi membuat layanan menjadi lebih cepat, lebih efisien, dan semakin mudah dijangkau. Namun pada saat yang sama, percepatan tersebut juga menghadirkan tanggung jawab baru yang tidak kalah besar.

Menurut Rista, perkembangan teknologi tidak boleh berhenti pada upaya meningkatkan efisiensi bisnis semata. Seluruh perubahan yang dilakukan perusahaan perlu benarbenar memberikan manfaat bagi konsumen serta dijalankan dalam kerangka tata kelola yang baik. Sebab pada akhirnya, keberhasilan sebuah perusahaan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghadirkan inovasi, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga kepentingan konsumen.

“Kalau saat ini ada bisnis atau usaha yang tidak benar-benar memperhatikan kepentingan konsumen, tidak memperbaiki pelayanannya, atau tidak fokus pada konsumen, menurut saya itu strategi yang kurang tepat,” ujar Rista.

Pandangan yang tidak jauh berbeda juga disampaikan Maria Magdalena, Chief Legal & Compliance Officer AXA Financial Indonesia. Menurutnya, di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, industri tetap tidak dapat menghilangkan unsur manusia dalam setiap layanan yang diberikan.

Digitalisasi memang menghadirkan pengalaman yang lebih cepat dan praktis. Namun hubungan antara perusahaan dan konsumen tetap dibangun melalui rasa percaya, empati, serta pengalaman yang dirasakan secara langsung. Di masa depan, industri perlu menemukan titik keseimbangan agar teknologi tidak menghilangkan sentuhan manusia yang menjadi inti dari layanan. “Keseimbangan antara high touch, high tech, dan clear governance menjadi kunci,” katanya.

Teknologi pada akhirnya bukan sekadar soal seberapa cepat sistem bekerja, tetapi juga tentang bagaimana perusahaan memastikan masyarakat tetap merasa aman di tengah perubahan yang berlangsung begitu cepat.

Yang Dijaga Bukan Sekadar Polis

Di balik angka premi, manfaat perlindungan, atau berbagai inovasi digital yang terus berkembang, ada sesuatu yang jauh lebih bernilai dalam industri asuransi, yaitu kepercayaan. Yang dibeli masyarakat sebenarnya bukan sekadar polis. Mereka membeli rasa aman. Mereka membeli keyakinan bahwa ketika risiko datang, akan ada pihak yang hadir memenuhi janji.

Maria Rosalinda, Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko PT Prudential Life Assurance, melihat kepercayaan tidak pernah lahir hanya melalui kampanye atau kata-kata. Kepercayaan dibangun melalui pengalaman yang dirasakan konsumen secara konsisten dari awal hingga akhir.

Proses tersebut dimulai sejak seseorang mengenal produk, memutuskan membeli polis, hingga saat perusahaan memenuhi komitmennya melalui layanan maupun proses klaim. Setiap interaksi yang terjadi pada akhirnya ikut menentukan bagaimana masyarakat memandang perusahaan maupun industri secara keseluruhan. “Kepercayaan publik di industri asuransi tidak dibangun lewat janji dalam kata-kata saja, tetapi lewat konsistensi dalam menepati komitmen,” ujarnya.

Pandangan serupa juga disampaikan Hasinah Jusuf, Direktur Kepatuhan Allianz Life Indonesia. Menurutnya, kepercayaan dibentuk melalui pengalaman yang berlangsung secara berkelanjutan. Bukan hanya pada saat perusahaan menawarkan produk, tetapi juga pada setiap proses yang dijalani konsumen.

Mulai dari cara perusahaan memberikan penjelasan produk, berkomunikasi, hingga menghadirkan layanan setelah pembelian, seluruhnya menjadi bagian penting dalam membangun persepsi masyarakat. “Trust dibentuk sejak awal, mulai dari konsumen memilih produk asuransi hingga saat klaim,” katanya.

Di tengah perubahan yang semakin cepat, fungsi hukum dan kepatuhan pun ikut mengalami pergeseran. Selama bertahun-tahun, fungsi tersebut kerap dipandang sebagai pihak yang memastikan perusahaan tidak keluar dari aturan. Namun saat ini, perannya tidak lagi sekadar menjadi penjaga pintu.

Hani Kusumowardhani, Chief Compliance Officer Sun Life Indonesia, melihat fungsi kepatuhan kini telah berkembang menjadi mitra strategis bagi bisnis. Kepatuhan tidak lagi dapat berjalan terpisah dari kebutuhan perusahaan maupun perkembangan teknologi yang terus berubah. “Peran compliance saat ini tidak lagi hanya sebagai penjaga aturan, tetapi strategic partner bagi bisnis,” ujar Hani.

Pandangan yang sama juga disampaikan Apriliani Siregar, Direktur Kepatuhan Manulife Indonesia. Menurutnya, inovasi dan kepatuhan seharusnya tidak ditempatkan pada dua sisi yang saling bertentangan. “Inovasi dan kepatuhan bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua pilar yang harus berjalan beriringan,” katanya.

Ketika Etika dan Literasi Menjadi Fondasi

Dalam praktiknya, tidak semua keputusan hadir dalam bentuk hitam dan putih. Ada situasi ketika aturan tertulis belum memberikan jawaban yang sepenuhnya jelas. Ada ruangruang yang membutuhkan pertimbangan lain selain sekadar kepatuhan terhadap regulasi.

Bagi Apriliani, fungsi kepatuhan juga perlu hadir sebagai ruang yang mendorong kolaborasi dan solusi, bukan sekadar fungsi pengawasan. Ia melihat diskusi dan pertukaran perspektif memiliki peran penting dalam membantu perusahaan bertumbuh secara sehat sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang lebih terbuka. “Diskusi dan pertukaran pandangan untuk menemukan solusi bersama bukan hanya bagian dari proses kerja, tetapi juga investasi dalam membentuk pemimpinpemimpin baru yang berani dan terus bertumbuh,” ujarnya.

Di sisi lain, perlindungan sebenarnya juga tidak dimulai ketika klaim diajukan. Perlindungan dimulai jauh lebih awal, yakni ketika masyarakat memahami apa yang mereka pilih. Rista melihat peningkatan literasi bukan hanya menjadi tanggung jawab satu pihak. Pemerintah, industri, institusi pendidikan, hingga masyarakat memiliki peran yang sama besar untuk membangun pemahaman tersebut. “Seluruh pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan literasi masyarakat,” pungkasnya.

Rista Qatrini Manurung,

Direktur Hukum dan Kepatuhan PT AIA Financial

Menemukan Tenang di Atas Motor

RIDING menjadi salah satu cara Rista Manurung melepaskan diri dari padatnya ritme pekerjaan. Di atas motor besar yang dikendarainya, Direktur Hukum dan Kepatuhan PT AIA Financial ini menemukan ruang untuk menikmati keheningan, merasakan udara malam hari, dan sesekali membiarkan pikirannya berjalan tanpa arah.

Bagi sebagian orang, motor besar identik dengan kecepatan dan adrenalin. Namun bagi Rista, sensasinya lebih dari itu. Ada fokus, kebebasan, sekaligus ketenangan yang justru hadir di tengah cepatnya laju kendaraan. Semangat yang sama juga terlihat dalam caranya menjalani kehidupan profesional di mana Rista aktif banyak berkontribusi bagi industri asuransi.

Di tengah lebih dari dua dekade kiprahnya di industri asuransi, Rista dikenal sebagai sosok yang terus belajar, dan telah meraih gelar Doktor Hukum dari Universitas Pelita Harapan. Selain memegang lisensi advokat Indonesia dan terdaftar sebagai Konsultan Pasar Modal, ia juga aktif sebagai pengurus di Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia dan Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan.

Baginya, kepemimpinan tidak berhenti pada kemampuan mengidentifikasi masalah, tetapi juga tentang melihat kemungkinan, menawarkan solusi, dan memahami persoalan dari berbagai sudut pandang. “Mengidentifikasi masalah itu hanya satu langkah kecil. Yang lebih penting bukan hanya menemukan masalahnya, tetapi juga menemukan solusi atas masalah tersebut,” ujarnya.

Maria Rosalinda,

Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko PT Prudential Life Assurance

Berani Menjadi Pembelajar

MARIA Rosalinda atau yang lebih akrab disapa Linda memahami, terkadang pertumbuhan justru datang ketika seseorang berani meninggalkan tempat yang terasa paling nyaman. Setelah hampir dua dekade berkarier di industri perbankan, ia pernah berada pada titik ketika semuanya terasa sudah sangat familiar. Ritme kerja, bidang yang dikuasai, hingga pengalaman yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Namun pada 2015, ia mengambil keputusan yang mengubah arah perjalanannya. Linda meninggalkan dunia yang telah dikenalnya dan memulai kembali dari nol untuk berkarier di industri asuransi. Sebuah langkah yang tidak sederhana, karena berarti kembali belajar, beradaptasi, dan membangun pemahaman dari awal.

Linda yang saat ini juga menjabat sebagai kepala departemen kepatuhan AAJI, percaya bahwa kepemimpinan tidak dibangun hanya dari pengalaman panjang atau posisi yang semakin tinggi. Baginya, kepemimpinan juga membutuhkan keberanian untuk terus berkembang dan kesediaan untuk tetap menjadi pembelajar. Integritas menjadi prinsip yang terus dijaganya, disertai keyakinan untuk selalu memberikan lebih dari yang diharapkan.

“Saya percaya bahwa konsistensi, kemauan untuk terus belajar, serta keberanian untuk mengambil tantangan baru adalah kunci untuk berkembang,” ujarnya.

Hasinah Jusuf,

Direktur Kepatuhan Allianz Life Indonesia

Menemukan Makna dari Berbagai Peran

HASINAH Jusuf terbiasa menjalani banyak peran dalam satu waktu. Di luar ruang rapat dan tanggung jawabnya sebagai Direktur Kepatuhan Allianz Life Indonesia, ia adalah seorang ibu, istri, anak, saudara, sekaligus sahabat bagi orangorang terdekatnya.

Bagi Hasinah, justru dari ruang-ruang paling personal itulah ia menemukan keseimbangan. Keluarga dan lingkungan terdekat menjadi tempatnya kembali mengisi energi di tengah ritme pekerjaan yang padat. Dari sana pula ia belajar bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari jabatan atau pencapaian, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.

Perjalanan profesionalnya sendiri sudah berlangsung lebih dari dua dekade. Berawal dari karier sebagai konsultan hukum yang menangani berbagai kasus korporasi dan hukum bisnis, ketertarikannya terhadap hukum bisnis internasional membawanya melanjutkan studi ke Belanda sebelum akhirnya menekuni industri asuransi.

Selama bertahun-tahun berada di bidang hukum dan kepatuhan, Hasinah melihat bahwa kompetensi saja tidak cukup untuk membangun kepemimpinan yang bertahan lama. Ada hal lain yang menjadi fondasi yang jauh lebih penting, yaitu kepercayaan. “Yang menjaga keberlanjutan kepemimpinan bukan hanya kompetensi, tetapi juga kepercayaan yang dibangun melalui integritas, konsistensi, serta keselarasan antara apa yang kita sampaikan dan apa yang kita lakukan,” kata ibu dua anak ini.

Apriliani Siregar,

Direktur Kepatuhan Manulife Indonesia

Bertumbuh dalam Nilai, Berkarya dengan Makna

PERJALANAN hidup Apriliani Siregar banyak dibentuk oleh dua sosok yang menghadirkan pelajaran berbeda dalam hidupnya. Dari sang ayah yang berprofesi sebagai hakim, ia mengenal arti integritas sebagai sesuatu yang tidak sekadar diucapkan, tetapi dijalankan dalam setiap keputusan. Sementara dari ibunya, ia belajar tentang empati, rasa tanggung jawab, dan pentingnya melihat manusia di balik setiap persoalan.

Dua nilai itu tumbuh berdampingan, ketegasan pada prinsip dan kepekaan terhadap orang lain. Bahkan ketika kehilangan ayah di masa muda, pengalaman tersebut justru menjadi titik yang semakin menguatkan cara pandangnya tentang tanggung jawab dan keteguhan dalam menghadapi keadaan.

Nilai-nilai itu kemudian ikut membentuk cara Apriliani memimpin selama lebih dari dua dekade berkarier di bidang hukum dan kepatuhan. Mengawali karier sebagai lawyer di firma hukum di Indonesia, ia menempa pengalaman dalam menangani berbagai isu kompleks yang membentuk perspektif strategisnya sebagai penasihat hukum, dan kemudian bergabung dengan Manulife Indonesia pada 2011, ia melihat kepemimpinan bukan tentang menjadi sosok yang paling dominan di dalam ruangan.

Baginya, seorang pemimpin justru perlu mampu mendengar, membangun kepercayaan, dan menjaga arah di tengah berbagai kepentingan. “Pada akhirnya, kepemimpinan adalah tentang memberi teladan, membuka ruang dialog, dan menjaga konsistensi antara nilai yang kita yakini dan tindakan yang kita ambil,” katanya.

Hani Kusumowardhani,

Direktur Kepatuhan Sun Life Indonesia

Rumah yang Membuat Tetap Berpijak

DI BALIK perannya sebagai Direktur Kepatuhan Sun Life Indonesia, Hani Kusumowardhani adalah sosok yang menikmati halhal sederhana. Ia gemar menghabiskan waktu untuk membaca, yoga, serta menikmati kebersamaan dengan keluarga. Bagi Hani, keluarga menjadi ruang yang membuatnya tetap berpijak dan terus bertumbuh.

Dukungan dari suami, anak, orang tua, dan orang-orang terdekat menjadi sumber kekuatan yang membantunya menjaga keseimbangan di tengah tanggung jawab yang besar. Ia percaya, tetap grounded berarti menyadari bahwa setiap keputusan yang diambil akan berdampak pada kehidupan banyak orang. Berbekal latar belakang di bidang hukum, bisnis, dan akuntansi keuangan, Hani memulai karier di industri keuangan dari sektor perbankan sebelum kemudian menekuni industri asuransi, khususnya di bidang kepatuhan, hukum, dan tata kelola perusahaan.

Dalam perjalanannya, ia percaya bahwa rasa ingin tahu, kemauan untuk terus belajar, dan sikap pantang menyerah menjadi hal penting untuk terus berkembang. Ketertarikannya terhadap berbagai perkembangan dan teknologi baru juga membentuk cara pandangnya untuk tetap terbuka terhadap perubahan dan pembelajaran. Dari pengalaman bekerja dan dipimpin oleh berbagai tipe pemimpin, Hani belajar bahwa para pemimpin yang baik selalu memiliki nilai yang sama, yaitu integritas, kemauan untuk terus belajar, dan etos kerja yang kuat.

Hani meyakini bahwa kepemimpinan bukan tentang menjadi yang paling dihormati, tetapi tentang bagaimana seseorang mampu melayani, membawa perspektif yang memperkaya pengambilan keputusan, serta membangun kolaborasi. "Kepemimpinan bukan tentang menjadi yang paling dihormati, tetapi tentang bagaimana kita mampu melayani, membawa perspektif yang memperkaya pengambilan keputusan, dan membangun kolaborasi,” ujarnya.

Maria Magdalena,

Chief Legal & Compliance Officer AXA Financial Indonesia

Ora et Labora: Antara Doa, Keluarga, dan Pekerjaan

BAGI Maria Magdalena, kehidupan profesional dan pribadi tampaknya berjalan dengan satu ritme yang sama. Tetap tenang, terus bergerak, dan menghadapi setiap tantangan dengan keyakinan. Di tengah tanggung jawabnya sebagai pemimpin di bidang hukum dan kepatuhan, ia tetap melihat dirinya sebagai seorang ibu yang berusaha hadir untuk keluarga, mendukung anak meraih impiannya, sekaligus menjaga keseimbangan di tengah kesibukan pekerjaan.

Momen sederhana bersama keluarga dan teman-teman menjadi ruang baginya untuk mengisi ulang energi, sementara satu prinsip yang selalu ia pegang adalah Ora et Labora — berdoa dan bekerja. Di balik berbagai peran yang dijalani, ada satu motivasi yang terus ia bawa: keinginan untuk dapat menjadi berkat di mana pun ia ditempatkan.

Cara pandang ini pun membentuk perjalanan kariernya selama hampir dua dekade di industri asuransi. Berawal sebagai lawyer di salah satu firma hukum di Indonesia yang banyak menangani persoalan corporate legal, banking, dan finance, Maria kemudian melanjutkan perjalanan ke industri asuransi jiwa pada 2006 dan terus memperdalam pengalaman di bidang legal, kepatuhan, dan risiko.

Dalam perjalanannya, ia melihat tantangan bukan sebagai hambatan, melainkan proses yang membentuk seseorang menjadi pribadi dan pemimpin yang lebih baik. “Saya selalu melihat tantangan sebagai suatu hal yang harus dihadapi dan dicari solusinya sehingga akan membawa kita ke hal yang lebih baik,” tuturnya.

Masyarakat kini menginginkan layanan yang semakin mudah dijangkau, lebih praktis, dan dapat hadir kapan saja. Berbagai proses yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang perlahan berubah menjadi lebih sederhana, mulai dari pencarian informasi, pembelian produk, hingga layanan purnajual.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Juni 2026

Rp 65.000

BELI