Penulis adalah Ketua dewan pers Republik Indonesia
Infobank
SETIDAKNYA terdapat tiga hal yang membuat dunia ini galau dan heboh. Satu, kelangkaan energi dunia yang membuat harganya naik karena terganggunya mata rantai pasokan akibat penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur kapal pengangkut 20% bahan bakar dunia. Dua, penyebaran informasi perang kata-kata dan saling ancam antara Donald Trump dan pemimpin Iran untuk menjaga citra diri masingmasing sebagai pemenang perang. Tiga, khususnya di Indonesia, defisit fiskal untuk membayar utang dan membiayai program pembangunan.
Ketiga hal itu saling terkait. Masyarakat dunia dibuat gaduh oleh luapan dan asupan informasi yang tak terbendung, merobohkan batas wilayah negara dan bangsa. Informasi dikonsumsi oleh masyarakat dunia, layaknya mereka menghirup udara atau air. Menjadi masalah serius ketika air, udara, dan informasi telah tercemar oleh sampah-sampah yang merusak kesehatan. Hoaks, disinformasi, doxing, serta berbagai bentuk penipuan dan adu domba telah melekat pada sebaran informasi, bagaikan racun yang menyatu dengan air minum.
Berbeda dari entitas energi yang sifatnya riil, otonom, nyata, dan empiris, uang merupakan entitas simbolis. Keabsahannya berdasarkan konsensus dan undang-undang (UU) suatu negara yang disepakati oleh masyarakat dunia. Namun, meski simbolis, uang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Uang mampu menggerakkan dan mengubah perilaku pejabat negara hingga rakyat biasa.