Infobank
NASIB bank perekonomian rakyat (BPR) berada di persimpangan jalan. Dalam riuh-rendah narasi pemulihan ekonomi nasional, suaranya nyaris tenggelam. Walaupun, sesungguhnya ia menderu kencang di bilik-bilik kredit perdesaan. Ia bukan raksasa. Ia tak masuk radar pasar modal. Namun, justru karena ia begitu dekat dengan urat nadi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), maka guncangan di sektor ini adalah gempa sosial yang tertunda. Dan, kini, guncangan itu sudah di depan mata.
Menurut pemantauan Biro Riset Infobank (birI) selama dua tahun terakhir, ada aspirasi yang sejatinya adalah jerit struktural dari industri BPR, bukan sekadar keluhan siklikal. Suarasuara yang terangkum itu, jika dibaca dengan kacamata ekonomi-politik memperlihatkan betapa rezim prudensial yang kaku telah bergerak diam-diam menjadi mesin kontraksi. Poin paling tajam adalah soal Aset Yang Diambil Alih (AYDA) yang menumpuk. Ia bersanding dengan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) di level 12,73%. Ini secara sistematis menggerus modal dan melumpuhkan kapasitas intermediasi BPR ke sektor produktif.