Transformasi digital menurut leader satu ini tidak bisa ditopang oleh satu figur, melainkan oleh organisasi yang bergerak dalam satu irama dan tujuan. Ketika banyak pemimpin menjadi pusat perhatian, ada yang justru memilih mengembalikansetiap capaian kepada tim.
Sumber : Istimewa
“TRANSFORMASI digital itu bukan peran satu orang. Ini adalah collective effort dari tim”.
Kalimat ini beberapa kali diulang Sasmaya Tuhuleley, Direktur Utama Bank Seabank Indonesia (SeaBank). Setiap kali pembicaraan mengarah pada keberhasilan SeaBank mencatatkan pertumbuhan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir, ia buru-buru menarik kembali sorotan.
Baginya, perjalanan SeaBank bukanlah kisah tentang seorang direktur utama yang membawa perusahaan bangkit. Transformasi bank digital hanya mungkin terjadi ketika seluruh organisasi bergerak ke arah yang sama.
“Digitalisasi di era sekarang adalah sesuatu yang harus dilaksanakan. Bukan keinginan individual seorang pemimpin. Semua orang harus berkontribusi untuk transformasi itu, secara kolektif,” ujarnya kepada Infobank, Medio Juli lalu.
Pandangan itu lahir dari pengalaman SeaBank sendiri.
Ketika memulai transformasi dari Bank Kesejahteraan Ekonomi (Bank BKE) menjadi SeaBank pada 2021, bank ini belum berada pada posisi seperti sekarang. Saat itu, industri bank digital masih dipenuhi keraguan. Banyak pemain baru bermunculan, tapi sebagian besar masih mencatatkan rugi karena harus berinvestasi besar di awal.
SeaBank pun mengalami fase itu. Investasi pada teknologi, keamanan siber, pengembangan sistem, hingga perekrutan talenta digital membuatnya harus menanggung biaya besar sebelum model bisnis barunya benar-benar berjalan. “Kalau sebuah perusahaan baru bertransformasi menjadi bank digital, otomatis dia akan rugi dulu. Ada investasi yang besar, bisnis lama dihentikan, produk baru harus dibangun dan dikenal dulu oleh masyarakat,” kata pria yang lahir di Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, pada 1964 ini.
Tapi, kata peraih master of business management (M.B.M.) di Asian Institute of Management (AIM), Manila, Philippines dan sarjana hukum dari Universitas Indonesia (UI) ini, fase itu memang merupakan bagian dari perjalanan bank digital.
Berbeda dengan bank berbasis jaringan kantor cabang yang investasinya tumbuh seiring ekspansi, bank digital harus membangun fondasi untuk melayani jutaan nasabah sejak awal. Karena itu, laba bukan sesuatu yang bisa diharapkan dalam waktu singkat.
Lima tahun berselang, gambaran itu berubah. Basis pengguna SeaBank terus bertambah, transaksi harian mencapai jutaan kali, kinerja pun menunjukkan pertumbuhan yang konsisten. Pada kuartal satu 2026, laba bersih setelah pajak SeaBank mencapai Rp375,6 miliar atau tumbuh 288% secara year on year (yoy).
Pun begitu, Sasmaya menolak menyebut kondisi itu sebagai hasil strategi yang luar biasa. Menurutnya, pertumbuhan SeaBank merupakan konsekuensi alami ketika sebuah bank digital berhasil melewati titik economies of scale. “Begitu melewati skala ekonomi tertentu, profit memang akan meningkat tajam. Itu terjadi juga pada bank-bank digital di dunia,” ujar pria yang telah berkarier lebih dari tiga dekade di industri perbankan ini.
Filosofi itu kemudian diterjemahkan ke dalam lima nilai utama yang diadopsi SeaBank, yakni We Serve, We Adapt, We Run, We Commit, dan We Stay Humble. Dua nilai pertama mencerminkan tuntutan industri digital yang harus adaptif dan bergerak cepat. Sementara, nilai terakhir justru menjadi prinsip yang paling sering diingatkan Sasmaya kepada seluruh karyawan.
Sebesar apa pun pencapaian SeaBank hari ini, selalu ada perusahaan lain yang telah melangkah lebih jauh.
Karena itu, tidak ada alasan untuk cepat berpuas diri ataupun mengklaim keberhasilan sebagai hasil kerja individu.
“Apa yang kamu capai, masih ada yang pencapaiannya jauh lebih baik. Jadi, kalau ditanya peran saya, ya nggak ada. Peran itu collective effort dari tim. Dan, ini sesuai dengan nilai-nilai kami,” tuturnya.
Cara pandang itulah yang menjadi benang merah perjalanan SeaBank selama lima tahun terakhir. Di tengah industri yang kerap mengaitkan keberhasilan perusahaan dengan figur pemimpinnya, Sasmaya justru memilih mengembalikan setiap capaian kepada tim.
Sebab, bagi SeaBank, transformasi digital bukanlah kisah tentang one man show, melainkan tentang orang-orang yang bergerak bersama menuju tujuan yang sama. Barangkali, di situlah letak filosofi kepemimpinannya. Memimpin bukan untuk menjadi pusat cerita, melainkan memastikan seluruh tim berjalan ke arah yang sama.
Kalimat ini beberapa kali diulang Sasmaya Tuhuleley, Direktur Utama Bank Seabank Indonesia (SeaBank). Setiap kali pembicaraan mengarah pada keberhasilan SeaBank mencatatkan pertumbuhan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir, ia buru-buru menarik kembali sorotan.