Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Etika Pembuat dan Pengguna AI

Penulis adalah honorable Faculty lembaga Pengembangan Perbankan indonesia (lppi). Artikel ini merupakan pendapat Pribadi.

Oleh Krisna Wijaya
Penulis adalah honorable Faculty lembaga Pengembangan Perbankan indonesia (lppi). Artikel ini merupakan pendapat Pribadi

Penulis adalah honorable Faculty lembaga Pengembangan Perbankan indonesia (lppi). Artikel ini merupakan pendapat Pribadi

HARUS diakui, kehadiran artificial intelligence (AI), baik versi gratis maupun berbayar, memang makin memudahkan aktivitas manusia. Untuk sekadar jalan pintas, boleh boleh saja kita menggunakan aplikasi AI yang tidak berbayar. Tapi, jika ingin lebih akurat dan komprehensif sebaiknya pakai yang berbayar.

Sahabat saya, yang sedang mengambil S-3 di luar negeri secara hybrid, pernah mencoba membuat makalah dengan memanfaatkan AI, seperti Google Gemini, ChatGPT, Meta AI, atau yang lainnya, saat presentasi makalah. Ketika dikumpulkan, dosennya mengembalikan makalah tersebut karena sebagian besar isinya dinilai merupakan copy paste yang dilakukan aplikasi. Lalu, ia pun diminta menjelaskan, mana saja yang murni idenya sendiri.

Hal serupa pernah saya alami ketika saya membuat artikel di surat kabar paling terkemuka. Sejak 1980 sampai dengan 2000-an, saya memang rutin menulis untuk harian tersebut. Suatu ketika, saya iseng membuat artikel dengan bantuan ChatGPT berbayar. Saya menambahkan narasi yang saya buat sendiri sekitar sepertiga dari artikel tersebut, sebagai pemanis dan bagian dari ”modal” pemikiran saya.

Yang terjadi, artikel tersebut dikembalikan kepada saya, disertai persyaratan yang mereka minta. Tapi, saya akui bahwa alasan utama dikembalikan adalah karena artikel saya itu sebagian besar dibantu AI. Rupanya, harian tersebut menggunakan AI untuk mengecek keorisinalan artikel saya.

Suatu waktu, ketika saya diminta untuk menguji mahasiswa S-3 di perguruan tinggi dengan peringkat 5 besar, saya iseng bertanya, apakah penyusunan disertasinya mengguna kan AI? Dia menjawab iya. Tapi, menurut pengakuannya, AI hanya sebagai referensi. Hanya sebagai alternatif, apakah kesimpulan hasil penelitiannya sama atau tidak antara yang dibuat sendiri dan yang menggunakan AI. Dalam konteks ini, saya berpendapat bahwa mahasiswa tersebut hanya ingin mengecek silang, membandingkan akurasi versi AI dengan versi dia sebagai manusia.

Saya juga pernah bertanya kepada teman yang kuliah S-3 di luar negeri, apakah ada semacam pemeriksaan makalah dan/atau disertasi yang menggunakan AI untuk memastikan orisinalitasnya. Menurut teman saya, ada, tapi yang diutamakan adalah kejujuran – dengan menyebutkan kutipannya. Dan, yang lebih penting, ketika ditanya secara lisan, ia dapat menjawab sesuai dengan pertanyaan dan konteks disertasinya.

Di usia yang sudah lebih dari 70 tahun, saya bisa saja menggunakan AI setiap menulis artikel, menyiapkan bahan ajar, atau menjawab surat. Tapi, sering kali ada kesesuaian antara algoritma yang dibuat AI dengan kekinian dan kekhususan permasalahan di tempat saya bekerja. Dan, tidak semuanya sudah menjadi data publik yang mungkin dimiliki Google, ChatGPT, Canva, PDF AI, dan lainnya.

Mungkin saya termasuk manusia kuno yang mencari kesulitan sendiri. Padahal, ChatGPT dan sejenisnya sudah bisa digunakan di telepon seluler.

Saya tidak mengatakan jangan gunakan kekinian IT dan AI. Sebab, kehadirannya merupakan bagian dari filosofi mendasar bahwa manusia hidup untuk zamannya. Contoh, Microsoft. Menurut hemat saya, kehadirannya menjadi temuan yang fenomenal sepanjang sejarah hingga saat ini, sebagai dampak kemajuan IT.

Tentu ada banyak program serupa selain Microsoft, sebagai bagian dari pengurangan pasar yang monopolistik. Meskipun begitu, kehadiran mereka tidak menggantikan manusia seutuh nya. Paling tidak, manusia memiliki perasaan.

Apakah aplikasi mempunyai pera saan seperti manusia? Suatu saat, hal itu bisa saja terjadi, ketika data perasaan setiap manusia dipublikasikan dan kemudian digunakan AI. Tapi, tetap saja, tidak akan menjadikannya sama seperti manusia.

Terkait dengan AI, laporan kajian terbaru dari McKinsey 2025 menyatakan bahwa sebagian besar organisasi, sekitar dua pertiga (66,66%), masih dalam tahap eksperimen atau uji coba. Mereka belum mulai menerapkan AI secara luas di perusahaannya. Selain itu, 80% responden menyatakan perusahaan mereka menetapkan efisiensi sebagai tujuan dari inisiatif AI mereka. Ini merupakan bagian dari tahapan prinsip kehati-hatian terkait dengan penggunaan AI.

Kehadiran AI dan peluang terjadinya bias algoritmik sebenarnya pernah saya tulis di Infobank. Prinsip yang mesti dipahami, jika input datanya bias, maka apa yang disarankan AI juga bias. Bias terkadang menghasilkan hal-hal terkait dengan kemungkinan terjadinya pelanggaran penggunaan data, pelanggaran privasi, dan peluang terjadinya serangan siber.

Pada akhirnya, suka tidak suka, penggunaan AI harus tetap beretika, baik pembuat maupun penggunanya. Saat ini, AI generatif sudah dapat menciptakan gambar audio dan video palsu (deepfake) yang meyakinkan untuk manipulasi sosial, penipuan, dan kampanye disinformasi. Karena itu, ketergantungan yang berlebihan pada AI mesti dihindari.

AI tetap dapat digunakan, tetapi jangan menjadi segala-galanya. Ketergantungan pada AI dapat menyebabkan penurunan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan penalaran independen manusia.

 

 

 

Sahabat saya, yang sedang mengambil S-3 di luar negeri secara hybrid, pernah mencoba membuat makalah dengan memanfaatkan AI, seperti Google Gemini, ChatGPT, Meta AI, atau yang lainnya, saat presentasi makalah. Ketika dikumpulkan, dosennya mengembalikan makalah tersebut karena sebagian besar isinya dinilai merupakan copy paste yang dilakukan aplikasi. Lalu, ia pun diminta menjelaskan, mana saja yang murni idenya sendiri.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Agustus 2026

Rp 65.000

BELI