Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Sasmaya Tuhuleley, Direktur Utama Bank SeaBank Indonesia

Inklusi, Transaksi, dan Digital Lending, Kunci Mesin Pertumbuhan

Oleh AYU UTAMI SARASWATI

Apa strategi SeaBank dalam mendorong pertumbuhan bisnis tahun ini?

SeaBank ini dari awal lebih melihat sustainability dari pertumbuhan. Jadi, baik DPK, loan, maupun profitability, kami ingin membangun SeaBank sebagai bank yang bertumbuh secara berkelanjutan. Strateginya, sebagai bank digital kami mengandalkan akses sebesar mungkin ke pasar, terutama segmen unbanked dan underserved.

Fokus kami adalah meningkatkan akuisisi nasabah sebanyak mungkin sehingga makin banyak user dan penabung. Setelah menjadi nasabah, yang penting mereka aktif bertransaksi, baik untuk pembayaran, transfer, maupun transaksi lainnya. Kalau mereka aktif, berarti SeaBank menjadi bank utama mereka dan otomatis saldo serta DPK akan bertumbuh. Saat ini, transaksi kami sudah mencapai sekitar 13 juta per hari.

Dari sisi kredit, kami fokus pada digital lending melalui kolaborasi dengan ekosistem, P2P, multifinance, kredit pensiunan, hingga direct lending. Dengan transaksi yang tinggi, fee based income juga ikut meningkat sehingga dari intermediasi, penyaluran kredit, dan fee based, profit akan bertumbuh.

Segmen apa yang menjadi pendorong utama pertumbuhan?

Segmennya memang yang underserved dan unbanked, baik untuk penghimpunan dana maupun penyaluran kredit. Dari awal, pertumbuhan kami juga didorong oleh ekosistem, baik untuk akuisisi nasabah, penabung, user, maupun penyaluran kredit.

Sampai sekarang, porsi terbesar masih berasal dari kerja sama dengan ekosistem, seperti pembiayaan paylater, cash loan untuk buyer di ekosistem, maupun pembiayaan untuk seller atau merchant. Saat ini, user kami sekitar 30 juta sehingga kami bisa menyalurkan kredit dengan penilaian berbasis teknologi.

Seperti apa komposisi kredit antara yang berasal dari ekosistem dan nonekosistem?

Sekitar 80% masih melalui kerja sama dengan ekosistem, sedangkan 20% berasal dari diversifikasi di luar ekosistem, yaitu melalui kerja sama dengan P2P, multifinance, serta direct lending kepada user kami melalui produk SeaBank Pinjam.

Kredit oleh bank digital bisa dikatakan punya risiko lebih tinggi karena umumnya tanpa agunan. Bagaimana mitigasi risiko kredit SeaBank?

Segmen kami adalah ritel menengah ke bawah yang memang memiliki risiko lebih tinggi karena mayoritas kredit tidak beragunan. Karena itu, kami mengelola risiko secara menyeluruh, mulai dari penerapan risk acceptance criteria (RAC), monitoring, pengelolaan koleksi, hingga provision management yang dilakukan secara prudent. Semua proses itu dilakukan secara terintegrasi sehingga kualitas portofolio tetap terjaga dan rasio NPL dapat dipertahankan di level yang rendah.

Meski secara individu debiturnya berisiko lebih tinggi, secara portofolio 68 | AGUSTUS 2026 risikonya tersebar karena jumlah debiturnya sangat banyak. Selain itu, pinjaman yang kami salurkan umumnya bernilai kecil dan digunakan untuk kebutuhan pokok sehingga daya tahannya relatif baik. Hal itu juga terlihat dari kondisi belakangan ini. Meskipun ada tantangan ekonomi global, kualitas portofolio kredit kami tetap terjaga dengan baik. Jadi, secara individual memang ada risiko, tapi secara portofolio keseluruhan justru relatif aman.

Ada yang mengatakan bahwa bagi banyak masyarakat unbanked, SeaBank menjadi rekening bank pertama mereka. Apakah memang demikian?

Sejak awal, visi kami adalah mendorong inklusi keuangan dengan menjangkau masyarakat yang belum memiliki rekening bank atau belum pernah mengakses pinjaman perbankan. Karena itu, aplikasi dan produk kami didesain sederhana agar mudah digunakan, termasuk dengan smartphone dan jaringan internet yang terbatas.

Kami juga membebaskan biaya administrasi, memberikan subsidi biaya transfer, serta menerapkan bunga harian untuk menarik masyarakat mulai menabung. Hal itu dimungkinkan karena sebagai bank digital, struktur biaya kami lebih efisien. Seiring waktu, banyak masyarakat yang sebelumnya hanya menggunakan e-wallet kemudian mulai memiliki rekening bank melalui SeaBank.

Selain itu, salah satu bukti bahwa kami berhasil menjalankan inklusi keuangan adalah hasil survei yang menunjukkan sekitar 59% nasabah SeaBank berasal dari kota-kota kecil atau daerah tier 2 dan tier 3, termasuk banyak yang berada di luar Pulau Jawa. Ini menunjukkan bahwa kami serius menjangkau masyarakat seluas-luasnya tanpa dibatasi faktor geografis.

Apa faktor utama yang mendorong pertumbuhan jumlah nasabah SeaBank?

Pada tahap awal, akuisisi nasabah memang sangat mengandalkan ekosistem, terutama aplikasi Shopee. Namun, seiring meningkatnya kinerja dan kepercayaan masyarakat terhadap SeaBank, kini makin banyak nasabah baru yang datang dari luar ekosistem.

Kalau dulu banyak orang membuka rekening karena ditawarkan saat bertransaksi di ekosistem, misalnya ketika melakukan pemba yaran di Shopee, sekarang sumber akuisisi sudah lebih beragam. Banyak masyarakat yang membuka rekening karena mendapat rekomen dasi dari teman, men dengar pengalaman penggu na lain, atau mengetahui reputasi SeaBank dari berbagai informasi di luar ekosistem. Jadi, saat ini, pe r tumbuhan nasabah tidak lagi hanya ber ga n tung pada ekosistem, tapi juga makin banyak berasal dari luar ekosistem tersebut. AUS

SeaBank ini dari awal lebih melihat sustainability dari pertumbuhan. Jadi, baik DPK, loan, maupun profitability, kami ingin membangun SeaBank sebagai bank yang bertumbuh secara berkelanjutan. Strateginya, sebagai bank digital kami mengandalkan akses sebesar mungkin ke pasar, terutama segmen unbanked dan underserved.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Agustus 2026

Rp 65.000

BELI