Jasa Raharja dan ASABRI tancap gas di 2025 dengan lonjakan kinerja hingga triple digit. Taspen kehilangan momentum setelah labanya menyusut. Siapa yang benar-benar tampil sebagai jawara industri asuransi sosial, dan siapa yang masih harus berjuang mengejar ketertinggalan?
Sumber : Istimewa
PENANTIAN publik akhirnya selesai setelah ASABRI dan Taspen merilis laporan keuangan tahun buku 2025. Bersama Jasa Raharja yang lebih dulu rutin memublikasikan kinerjanya, kini gambaran industri asuransi sosial Indonesia di 2025 terlihat makin utuh. Dari tiga pemain utama itu, dua perusahaan tampil on fire, sementara satu lainnya masih harus berjibaku mencari kembali irama pertumbuhan.
Jasa Raharja dan ASABRI layak mendapat pujian karena mampu mencetak kinerja yang benar-benar moncer tahun lalu. Sejumlah indikator keuangan tumbuh positif, bahkan ada yang memelesat hingga triple digit. Di lain pihak, Taspen belum bisa menjaga laju bisnis sekuat dua koleganya itu sehingga masih menghadapi tantangan yang cukup berat.
Di bawah kepemimpinan Muhammad Awaluddin sebagai direktur utama, Jasa Raharja membukukan pendapatan jasa asuransi Rp6,57 triliun atau naik 11,60% secara tahunan. Kondisi keuangannya sangat solid dengan risk based capital (RBC) 809,72%, rasio likuiditas 314,99%, dan rasio kecukupan investasi 532,07%. Laba bersih perusahaan ini melonjak 132,48% menjadi Rp2,28 triliun. Kinerja ini menunjukkan Jasa Raharja masih gaspol menjaga profitabilitas dan kesehatan keuangan.
ASABRI tampil tak kalah cemerlang di bawah komando Jeffry Haryadi P. Manullang sebagai direktur utama. Perusahaan ini mencatat pertumbuhan pendapat an usaha 46,91% menjadi Rp5,30 triliun, sementara aset meningkat 12,26% menjadi Rp55,97 triliun. Laba bersih bahkan meroket 152,03% menjadi Rp713,72 miliar. Capai an itu memperlihatkan fondasi bisnis ASABRI makin kuat.
Berbeda dengan dua perusahaan itu, Taspen yang dipimpin Rony Hanityo Aprianto sebagai direktur utama tampak masih menghadapi tekanan. Meski aset naik 10,31% menjadi Rp438,55 triliun dan modal sendiri tumbuh 26,10% menjadi Rp14,08 triliun, pendapatan usaha turun tipis 0,54% menjadi Rp17,61 triliun. Efeknya terasa pada laba bersih yang susut 15,98%, dari Rp1,24 triliun pada 2024 menjadi Rp1,04 triliun.
Dengan terbitnya laporan tahunan ketiga perusahaan itu, peta industri asuransi sosial kini terlihat jauh lebih jelas. Jasa Raharja dan ASABRI berhasil menjaga akselerasi pertumbuhan di tengah tantangan ekonomi, sedangkan Taspen masih punya pekerjaan rumah untuk membalikkan keadaan. Performa ketiganya bakal menjadi barometer penting bagi arah perkembangan industri asuransi sosial Indonesia pada periode mendatang, sekaligus menunjukkan siapa yang mampu mempertahankan momentum pertumbuhan secara berkelanjutan.