The Finance Edisi Bulan Juni 2020 (Free)
Benarkah pembentukan bank jangkar dapat mengatasi problem likuiditas bank ? Persaingan berebut antar bank sudah memasuki tahap saling bunuh dengan memanfaatkan rumor bank bermasalah.
Benarkah pembentukan bank jangkar dapat mengatasi problem likuiditas bank ? Persaingan berebut antar bank sudah memasuki tahap saling bunuh dengan memanfaatkan rumor bank bermasalah.
Jumlah bank terus berkurang. Karyawan bank juga terus menyusut. Bahkan, laporan terakhir mengabarkan bahwa setengah bank di dunia dalam kondisi sekarat. Sejumlah bank kelas dunia sudah merumahkan karyawannya, seperti HSBC, Deutsche Bank, Standard Chartered Bank, dan sejumlah bank kelas dunia lainnya. Tidak hanya karena krisis perdagangan dunia, tapi karena perubahan landscape persaingan. Hadirnya pesaing baru nonbank dan disrupsi (disruption) teknologi, hadirnya kelas milenial, membawa perubahan perilaku bisnis bank. Kantor kantor cabang mulai sepi nasabah. Bahkan, salah satu dari bank BUKU 4 kini transaksi digitalnya sudah mencapai 98,5?n 1,5% di cabang. Pendeknya, dunia sedang mengalami dua perubahan besar: perubahan demografi di mana kasus Indonesia ialah hadirnya 88 juta kelas milenial dan disrupsi teknologi. Nah, lahirnya generasi milenial telah membunuh banyak produk. Kehadiran teknologi telah mengubah perilaku bisnis bank khususnya.
Industri perbankan masih dihantui likuiditas yang kian ketat. Bank-bank memang tengah kesulitan menghimpun dana. Apalagi saat ini bank juga harus bersaing dengan financial technology (fintech) dalam perebutan dana masyarakat. Alhasil, perang bunga simpanan terjadi kendati Bank Indonesia (BI) telah beberapa kali menurunkan suku bunga acuan padatahun ini.
Kepemimpinan politik di tingkat provinsi dan kabupaten/kota menentukan tingkat keberhasilan daerah dalam memanfaatkan potensi yang dimilikinya maupun kesempatan desentralisasi untuk memajukan daerahnya. Begitu juga dengan kepemimpinan bisnis yang menentukan apakah BUMD bisa mencetak kinerja terbaik dan memberi kontribusi dalam pembangunan ekonomi daerah. Meski pengelolaan BUMD masih beraroma politik, tata kelola di BUMD keuangan seperti BPD dan BPR lebih baik karena ketatnya rambu-rambu.
Apakah benar BPR masih punya masa depan di tengah revolusi industri 4.0 ? Teknologi TOP 100 BPR: Masihkah BPR Punya Masa Depan informasi (TI) telah mengubah cara berbisnis, termasuk bisnis BPR. Di lain sisi, pasar usaha mikro kecil masih sangat luas. Menurut data, ada 65 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sebagian besar belum berhubungan dengan bank umum, BPR atau lembaga keuangan formal lainnya
78 Fintech Terdaftar, 397 Abal-Abal. Fintech sedang menjadi sorotan. Musababnya, karena bunga yang kelewat tinggi hingga cara-cara penagihan yang di luar Kewajaran.
DINAMIKA industri keuangan kian menantang belakangan ini. Para pelaku industri keuangan pun harus memutar otak demi menjaga kinerja positif. Sekarang ini, misalnya, para bankir disibukkan dengan persoalan likuiditas ketat dan kenaikan suku bunga. Per Agustus 2018 loan to deposit ratio (LDR) bank umum berada di level 93,19%. Demi bersaing dalam menghimpun dana, bank mau tak mau harus menaikkan suku bunga simpanan. Perang suku bunga pun tak terelakkan. Industri multifinance juga menghadapi kesulitan belakangan ini. Banyak perusahaan pembiayaan tersandung kasus. Kepercayaan kalangan perbankan dan kreditur terhadap industri multifinance pun menurun. Aliran kredit dari perbankan diperketat. Imbasnya, multifinance, terutama yang bermodal cekak, kian kesulitan.
NASIB bank perkreditan rakyat (BPR) seperti sedang di ujung tanduk. Bagaimana tidak, tekanan yang dihadapi industri rural bank ini makin berat. Apalagi, pemerintah melalui kebijakan-kebijakannya yang fokus pada rakyat kecil justru seakan menjauhkan BPR dari pasar utamanya, pasar mikro. Sebut saja Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang berbunga murah. BPR menjadi sangat kalah bersaing dalam melempar kredit. (Hanya tersedia untuk versi digital saja, tidak berlaku untuk kirim versi cetak)
Buku yang berjudul Peluang & Tantangan Perbankan: Benarkah Digital Banking Sebuah Jawaban? ini akan menggambarkan banyak dimensi seputar perkembangan perbankan dan industri keuangan pada umumnya. Buku ini merupakan kumpulan artikel Krisna Wijaya yang dimuat di Majalah Infobank dari 2008 hingga Agustus 2017.
Bagaimana ekonomi Indonesia ke depan? Majalah Infobank menerbitkan buku outlook berjudul Tantangan & Peluang Tumbuh di Era Disruptif yang mengulas proyeksi, peluang, dan tantangan ekonomi Indonesia pada 2018
Perekonomian Indonesia masih menghadapi kondisi yang cukup menantang pada 2016. Bergejolaknya perekonomian global dan pelemahan ekonomi Tiongkok memengaruhi ekonomi Indonesia. Harga komoditas yang anjok akibat menurunnya permintaan dari Eropa dan Tiongkok