Di tubuhnya mengalir darah bankir dari sang ayah. Ia meninggalkan zona nyaman di sebuah bank raksasa multinasional dan memilih berkarier di BPR. Sebagai leader, ia membawa semangat kolaborasi dan inovasi.
Reyhan Satyahadi, Direktur Utama Universal BPR
BAGI Reyhan Satyahadi, Direktur Utama Universal BPR, perjalanan hidupnya tak lepas dari jejak inspirasi sang ayah. Sebagai bankir dan leader, Reyhan membawa nilai-nilai yang ia pelajari dari keluarga dan pengalamannya untuk memimpin salah satu bank perekonomian rakyat (BPR) terbesar di Indonesia.
Ayah Reyhan, Stephen Satyahadi, adalah figur bankir andal yang pernah menduduki posisi strategis di Citibank, Bank Perkembangan Asia, hingga Bank Universal. Di masa kecil, Reyhan melihat ayahnya sebagai contoh sempurna seorang bankir. Masih membekas di ingatannya, masa-masa ketika sang ayah, yang kala itu masih bekerja di Citibank, mengantarkannya bersekolah di SD Kristen ORA et LABORA.
“Setiap hari, biasanya saya diantarkan sama ayah naik mobil. Dan, dulu, saya dan orang-orang melihat ayah saya ya sebagai bankir. Mulai dari pakaiannya, tutur katanya, dan lainnya, itu mencerminkan seorang bankir,” kenang Reyhan kepada Infobank, Desember lalu.
Lambat laun pria yang mengenyam pendidikan teknik industri di Purdue University, Amerika Serikat (AS), ini menyadari bahwa pengalamannya sejak kecil hingga dewasa, di mana ia banyak melihat sang ayah bekerja di industri perbankan, seakan mengarahkannya untuk bekerja di bidang yang sama.
Sekembalinya ke Indonesia pada 2001, Reyhan mencoba melamar kerja di sejumlah bank multinasional, seperti HSBC dan Citibank. Dan, tampaknya, takdir membawanya untuk berkarier layaknya sang ayah. Di tahun tersebut, ia pun diangkat menjadi salah satu management trainee (MT) di Citibank.
Citibank sudah lama dikenal sebagai “sekolah” bagi para bankir. Mereka yang merupakan lulusan Citibank dikenal andal di bidangnya. Tak terkecuali Reyhan, yang kala itu bertugas di divisi kredit konsumen. Perlahan, anak bungsu dari tiga bersaudara ini membangun reputasinya di Citibank, hingga akhirnya dipercaya menjadi vice president credit card portfolio management.
Namun, sebagai sosok yang agile dalam mengikuti perkembangan zaman dan tak mau terus berada di zona nyaman, Reyhan tidak mau berpuas diri dengan posisi yang didudukinya saat itu. Dan, tahun 2011 menjadi lembaran baru bagi perjalanan kariernya. Ia mulai berpikir, apakah bertahan di zona nyaman dan bekerja di Citibank atau mencoba tantangan di tempat baru.
“Sekitar tahun 2010-2011, saya bisa dibilang ada di titik di mana saya harus berpikir ke depannya mau jadi apa. Kalau di Citibank, pasti akan berada di divisi kredit terus. Sementara, kalau mau pindah ke tempat lain, harus belajar lagi. Dan, kalau berbicara multinational bank, berarti harus dipindah dulu ke negara lain, baru bisa ke atas,” ungkapnya.
Setahun berselang, Reyhan menemukan ada pelabuhan yang tengah menunggu kapal baru untuk berlabuh. Pelabuhan itu adalah Universal BPR, BPR yang saat itu masih berusia sembilan tahun. Adalah Kaman Siboro, sang pemilik bank, yang menawarkan pekerjaan di BPR ini.
Prospek Universal BPR yang menarik serta keinginan untuk belajar hal baru membuat Reyhan yakin untuk berlabuh di BPR ini. Faktor sang ayah juga membuatnya yakin untuk menjadi bagian dari BPR yang berpusat di Tangerang Selatan ini. Kebetulan, Stephen juga merupakan salah satu pendiri BPR ini dan sempat menjadi pemegang saham. Lembaran hidup baru Reyhan pun dimulai pada 2012 bersama Universal BPR. Ia meninggalkan Citibank dengan jabatan terakhir sebagai vice president.
Mulanya, Reyhan perlu waktu untuk beradaptasi dan mempelajari seluk-beluk kredit untuk masyarakat mikro. Namun, integritasnya sebagai bankir dan kemampuannya dalam mempelajari hal baru membuatnya bisa dengan cepat memahami bagaimana BPR bekerja.
Hanya perlu dua tahun bagi pria penggemar olahraga tenis dan basket ini untuk merangsek ke jajaran komisaris Universal BPR. Pada 2016, Reyhan pun dipercaya menjadi direktur utama bank rural ini dan menjabat selama lima tahun hingga 2021. Di tahun itu, ia diminta untuk kembali menjadi komisaris. Dan, pada Agustus 2024 lalu, Reyhan kembali dipercaya menjadi Direktur Utama Universal BPR.
Sebagai leader, Reyhan membawa semangat kolaborasi dan inovasi. Menurutnya, tidak ada kesuksesan tanpa kerja sama, terutama di era digital. “Terkadang, kolaborasi ini perlu dipaksakan, apalagi di era digital. Tidak ada hal yang bisa berjalan, kecuali ada kolaborasi. Apa yang saya pelajari di Citibank itu, jika memang lininya sudah kuat banget, kolaborasi itu bisa jalan dengan sendirinya. Tapi, kalau belum, saya sebagai CEO pasti harus mencontohkan terlebih dulu,” ucap Reyhan.
Lebih dari itu, pria yang gemar bermain alat musik drum ini juga sosok pemimpin yang memiliki kepedulian terhadap sekitarnya, baik itu nasabah, rekan-rekan di bank, atau lingkungan sekitarnya. Kepedulian Reyhan bisa datang dalam berbagai bentuk.
Kepada bawahannya, ia tak segan berdiskusi langsung untuk menerima masukan soal ide-ide baru. Ia selalu memastikan bahwa seluruh karyawan Universal BPR bisa hidup sejahtera, meskipun mereka tidak lagi bekerja di sana.
Program MT menjadi salah satu bukti keseriusan Universal BPR untuk menciptakan bibit-bibit hebat yang bisa memberikan kontribusi pada perusahaan. Dalam prosesnya, tak jarang Reyhan hadir langsung untuk memastikan bahwa program ini berjalan dengan baik dan lancar.
Generasi Z (gen Z) kini menjadi ujung tombak dari berbagai perusahaan. Salah satu sifat mereka yang menarik perhatian Reyhan adalah penyampaian terbuka ala anak-anak muda. Terdengar menyebalkan bagi segelintir generasi senior, tapi tidak bagi Reyhan. Justru keinginannya adalah memastikan bahwa ide-ide gen Z bisa tersalurkan dengan baik.
Reyhan percaya bahwa jika dikelola dengan baik dan benar, gen Z bisa membawa hal-hal positif untuk perusahaan.
Digitalisasi memang menjadi sesuatu yang tidak terelakkan. Karena itu, persaingan di industri akan makin ketat. Mau tak mau, pemain di bank rural juga harus siap menghadapinya. Namun, jangan sampai pelaku BPR melupakan muruah mereka sebagai “pelayan” rakyat mikro. Inovasi itu penting, tapi jangan sampai terlampau jauh dengan identitas bank.
Inilah yang ditegaskan Reyhan kepada rekan-rekannya. Kini, Universal BPR bergerak secara hybrid dengan menerapkan teknologi di sejumlah aspek. Misalnya, dengan menggunakan artificial intelligence (AI) untuk chatbot. Namun, pembaruan ini juga tak serta-merta membuat BPR yang per akhir 2023 beraset Rp1,55 triliun ini melupakan nasabah mikro dan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).
Tahun 2025 akan menjadi tahun yang menantang bagi para pelaku industri, termasuk Universal BPR. Tapi, Reyhan akan membuat Universal BPR mampu menghadapi pelbagai tantangan itu, bermodalkan prinsip pertumbuhan dan kolaborasi yang digenggamnya.
“Yang penting, growth mindset itu harus untuk diterapkan. Kita tidak boleh terus berada di comfort zone. Selain itu, pemikiran yang agile juga perlu ada. Dan, terakhir, kolaborasi menjadi penting. Ini yang mesti dijalankan. Bukan hanya sekadar konsep, tapi juga program kerja. Itu yang kami harus kejar,” tutupnya.
Ayah Reyhan, Stephen Satyahadi, adalah figur bankir andal yang pernah menduduki posisi strategis di Citibank, Bank Perkembangan Asia, hingga Bank Universal. Di masa kecil, Reyhan melihat ayahnya sebagai contoh sempurna seorang bankir. Masih membekas di ingatannya, masa-masa ketika sang ayah, yang kala itu masih bekerja di Citibank, mengantarkannya bersekolah di SD Kristen ORA et LABORA.