Belum ada produk di keranjang belanja kamu

IGNASIUS JONAN

Merger, Acquisition, and Leadership

Oleh Infobank
Ignasius Jonan Adalah Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, Dan Menteri Esdm 2016-2019.

Ignasius Jonan Adalah Bankir Senior, Menteri Perhubungan 2014-2016, Dan Menteri Esdm 2016-2019.

Landscape geopolitik dan perekonomian dunia berubah dengan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS). Kebijakan America First dari Trump diprediksi akan menciptakan fragmentasi ekonomi dan keuangan global akibat perang tarif, bahkan perang dagang. Ekonomi AS membaik, meski defisit fiskal dan utangnya membengkak, tapi Tiongkok dan Eropa melambat. Yield US Treasury diperkirakan naik pada 2025 sehingga terjadi penguatan dolar AS (US$), yang akan mengakibatkan pelarian modal dari emerging market ke AS.

Perubahan tersebut harus diantisipasi para pengambil kebijakan, baik di otoritas keuangan maupun lembaga bisnis. Bagi para chief executive officer (CEO) di dunia bisnis, perubahan adalah sebuah momen yang harus dipahami dan dihadapi. Hanya ada dua pilihan bagi para pemimpin. Seperti kata Abraham Maslow, psikolog asal AS, “In any given moment we have two option: to step forward into growth or step back into safety.”

Melangkah maju di tengah tren slower and divergent growth pastinya mengandung risiko dan ketidakpastian. Tapi, dunia bisnis tak bisa menghindari itu karena risiko dan ketidakpastian merupakan bagian penting dari bisnis. Perubahan dan ketidakpastian justru menuntut pelaku bisnis untuk berinovasi dan mengambil langkahlangkah transformatif demi tetap bisa mengambil peluang. “Transformation is not a destination; it’s a journey of continuous growth and self discovery,” kata Tony Robbins, penulis asal AS.

Salah satu peristiwa transformatif yang terjadi di dunia korporasi adalah merger and acquisition (M&A), yang banyak terjadi selama lebih dari dua dekade. M&A paling banyak terjadi di dunia perbankan. Misalnya, BMO Financial Group dan Bank of the West pada 2021, yang meningkatkan valuasi hingga US$119,5 miliar. Tapi, M&A terbesar adalah ketika Vodafone dan Mannesmann bergabung pada 1999 dan melahirkan valuasi US$373 miliar.

Honda dan Nissan, dua raksasa otomotif, pun tengah merencanakan kemungkinan merger pada 2026 sebagai strategi untuk menghadapi serbuan mobil listrik yang diproduksi Tiongkok. Pada akhir Januari 2025, akan diputuskan apakah Mitsubishi yang sahamnya dikuasai Nissan, juga akan ikut bergabung dalam kolaborasi tersebut. NissanRenault Mitsubishi telah membangun kemitraan pada 2023.

Untuk menjaga pertumbuhan, cara sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan menarik investasi dari pemilik eksisting maupun investor baru. Tapi, merger antara dua atau lebih perusahaan bisa meningkatkan market share dengan cepat. Misalnya, Honda dan Nissan yang kalau bergabung ditambah Mitsubishi berpotensi memiliki nilai kapitalisasi pasar US$55 miliar dan menjadi grup otomotif terbesar ketiga setelah Toyota dan Volkswagen. Toyota sendiri sudah membangun kemitraan teknologi dengan Mazda Motor Corp dan Subaru Corp.

M&A di korporasi dunia bisa memberi pesan kepada perusahaan perusahaan di Indonesia. Aksi M&A sudah banyak terjadi di sektor perbankan, baik karena tuntutan regulasi dalam permodalan maupun single presence policy serta kebutuhan bisnis. Namun, masih banyak bank, terutama bank perekonomian rakyat (BPR), yang membutuhkan skala untuk lebih kompetitif agar mampu bersaing. Pemilik bank dan para bankirnya tentu sudah menyadari bahwa bisnis bank sangat padat modal, marginnya tipis, sementara risiko yang dihadapi sangat kompleks.

Sebagai penutup, saya mengambil kutipan Robert Greene, penulis asal AS, “The future belongs to those who learn more skills and combine them in creative ways.” Masa depan adalah milik mereka yang mempelajari lebih banyak keterampilan dan menggabungkannya dengan cara yang kreatif. Kalau konsolidasi seperti M&A menjadi langkah transformatif untuk menghadapi masa depan yang penuh perubahan, kepemimpinan menjadi unsur yang utama. Sebab, konsolidasi menuntut perubahan dan lahirnya budaya baru.

Tanpa leadership yang bisa menyatukan berbagai resources, tujuan M&A untuk memperkuat perusahaan akan terhalang. Studi yang dilakukan A.T. Kearney, KPMG, atau McKinsey pun menyebutkan bahwa tingkat kegagalan dari merger dan akuisisi sekitar 50%80%. Indikasinya, tidak adanya pertumbuhan usaha atau kinerja sahamnya lebih rendah dibandingkan dengan industri serta hilangnya beberapa karyawan kunci. Jadi, leadership adalah modal dasar yang menentukan M&A akan berhasil atau tidak

Perubahan tersebut harus diantisipasi para pengambil kebijakan, baik di otoritas keuangan maupun lembaga bisnis. Bagi para chief executive officer (CEO) di dunia bisnis, perubahan adalah sebuah momen yang harus dipahami dan dihadapi. Hanya ada dua pilihan bagi para pemimpin. Seperti kata Abraham Maslow, psikolog asal AS, “In any given moment we have two option: to step forward into growth or step back into safety.”

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Januari 2025

Rp 65.000

BELI