Keberhasilan suransi Bumida dalam menjaring agen-agen baru dan membangun networking menjadi jalan bagi perseroan untuk menutup tahun ini dengan kinerja memuaskan.
Ramli Forez, Direktur Utama Bumida
Bumida mencatatkan pertumbuhan kinerja solid mana perolehan laba konsolidasi setelah pajak terpantau meningkat signifikan sebesar 57,03%, yakni dari Rp21,97 miliar di September 2023 menjadi Rp34,51 miliar di September 2024. Melihat raihan itu, Direktur Utama Bumida Ramli Forez mengaku optimistis dapat menutup tahun 2024 dengan peningkatan laba yang signifikan hingga 40% dibandingkan capaian di tahun sebelumnya.
“Laba bisa tumbuh sampai dengan 40%, angkanya mungkin di sekitar Rp55 miliar. Sampai dengan Oktober sekitar Rp44 miliar. Kita tinggal cari Rp6 miliar, sehingga di Desember bisa Rp50 miliar,” ujar Ramli kepada Infobank di awal Desember 2024.
Melonjaknya perolehan laba didongkrak oleh kenaikan pendapatan perseroan. Pada September 2024, total pendapatan underwriting perseroan tercatat Rp155,29 miliar, naik 15,85% yoy dibandingkan September 2023 sebesar Rp133,99 miliar.
Pendapatan underwriting ditopang oleh pendapatan premi bruto yang melesat 18,49% secara tahunan menjadi Rp445,43 miliar, dibandingkan periode yang sama di 2023 sebesar Rp375,93 miliar.
Di satu sisi, total beban usaha Bumida juga turut meningkat menjadi Rp140,76 miliar dari periode sama tahun lalu, yakni Rp129,01 miliar.
Sementara itu, jumlah aset Bumida per 30 September 2024 naik tipis 3,33% menjadi Rp894,57 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni Rp865,66 miliar.
Kenaikan tersebut juga diikuti dengan tingkat kesehatan perusahaan yang terjaga dengan baik, di mana Risk Based Capital (RBC) per September 2024 sebesar 212,96%, masih jauh melampaui threshold sebesar 120%.
Ramli mengatakan, moncernya kinerja Bumida merupakan cerminan dari upaya perusahaan dalam menyisir dan memilah bisnis potensial sekaligus melakukan efisiensi pada produknya. Perseroan telah berhasil membangun jaringan yang luas, memperluas kualitas keagenan, dan meningkatkan produk produk andalannya seperti Personal Accident (PA) asuransi kecelakaan tenaga kerja di luar jam kerja.
“Kepala kepala cabang saya minta menemui semua Kadin Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk bisa bekerja sama, terutama tambangtambang di Indonesia Bagian Timur. Karyawan mereka itu puluhan ribu, bahkan saya lihat dan buruh yang perlu kita asuransikan.
Di Jakarta dan Bekasi ini pun, semua pabrikpabrik yang ada di Karawang hampir semua dengan kita asuransinya. Khususnya, yang kita jamin adalah asuransi di luar jam kerja,” terang Ramli. Di tahun depan, Bumida akan terus memperluas pasar dengan menyentuh daerahdaerah Indonesia yang belum tercover asuransi di daerah Indonesia Bagian Timur, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Flores.
Hingga saat ini segmen korporasi masih mendominasi sebesar 70% dari keseluruhan total premi yang dibukukan Bumida, di susul ritel yang kini sebesar 30%. Namun demikian, kata Ramli, perseroan akan terus melakukan re-balancing dengan meningkatkan porsi ritel untuk mengurangi risiko atas bisnis yang besar.
“Memang total premiumnya lebih bagus dari korporasi. Cuma begitu dia pindah ke perusahaan lain, pengaruhnya luar biasa di perusahaan kita. Jadi kita mencoba nanti mungkin 2025 ini akan kita tingkatkan sampai 40 persen di retail dan 60 persen di korporasi. Korporasi yang eksisting tetap kita jaga, tapi secara massif akan kita tingkatkan di retail,” bebernya.
Di satu sisi, Ramli mengaku melakukan pengetatan bahkan menyetop sementara beberapa produk asuransi yang berpotensi loss profit, di mana klaim yang ditagih biasanya cukup tinggi. Beberapa segmen itu ialah bisnis asuransi kesehatan, asuransi kapal, surety bonds, asuransi jiwa kredit (AJK), dan marine hull.
“Jadi banyak kita tolak karena loss profitnya terlalu tinggi. Mendingan tidak usah diambil. Kita tidak mau mengejar toplinenya. Kita lebih baik ngambil sedikit tapi itu sudah pasti menjadi untung daripada ambil banyak tapi itu akan menguras keuangan perusahaan. Jadi kita lebih strike untuk itu,” terangnya.
“Laba bisa tumbuh sampai dengan 40%, angkanya mungkin di sekitar Rp55 miliar. Sampai dengan Oktober sekitar Rp44 miliar. Kita tinggal cari Rp6 miliar, sehingga di Desember bisa Rp50 miliar,” ujar Ramli kepada Infobank di awal Desember 2024.