Belum ada produk di keranjang belanja kamu

Indonesia Guarantee Summit 2025:

Konsolidasi Perusahaan Penjaminan Dorong Daya Saing UMKM

Industri penjaminan memiliki andil yang besar dan berperan strategis dalam mendorong akses pembiayaan bagi UMKM yang merupakan tulang punggung ekonomi nasional.

Oleh Ranu Arasyki Lubis
Indonesia Guarantee Summit 2025

Indonesia Guarantee Summit 2025

Komitmen tersebut sudah lama berjalan dan kembali ditegaskan oleh perusahaan-perusahaan penjaminan yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (Asippindo) dalam acara Indonesia Guarantee Summit 2025.

Indonesia Guarantee Summit 2025 menjadi tonggak baru dalam menempatkan industri penjaminan sebagai mitra strategis dalam pembangunan ekonomi nasional.

Acara kali ini digelar di Hotel Ritz-Carlton, Mega Kuningan Jakarta dan diikuti seluruh anggota Asippindo dengan mengangkat tema “Peran Perusahaan Penjaminan dalam Pemberdayaan UMKM untuk Mewujudkan Asta Cita”. Pertemuan semua anggota ini menjadi forum penting bagi para pemangku kepentingan di sektor pembiayaan dan pemberdayaan UMKM.

Di kesempatan tersebut, Ketua Asippindo Ivan Soeparno menegaskan bahwa industri penjaminan kini tidak lagi menjadi pelengkap, melainkan aktor utama dalam ekosistem pembiayaan UMKM.

Ivan mengungkapkan, perusahaan penjaminan memiliki peran penting dalam menjembatani kesenjangan antara pelaku UMKM dan lembaga keuangan. Melalui skema penjaminan, perusahaan penjaminan membantu menurunkan risiko lembaga keuangan sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap UMKM sebagai pelaku usaha yang layak dan potensial.  

“Industri penjaminan menjadi jembatan dalam mengatasi kesenjangan akses pembiayaan. Melalui skema penjaminan kredit modal kerja dan investasi, kami menurunkan risiko lembaga keuangan, mendorong pemerataan ekonomi hingga pelosok, mendukung digitalisasi UMKM, serta memfasilitasi pendampingan agar UMKM naik kelas dan berdaya saing global,” papar Ivan di hadapan peserta pada 16 April 2025.

Ivan berpandangan bahwa lembaga penjaminan memiliki peran strategis dalam mendukung misi besar pemerintah yang tertuang dalam Asta Cita, baik itu pembiayaan modal kerja, investasi, dan bahkan proyek strategis nasional yang melibatkan pelaku UMKM.

Di kesempatan pula, Ivan menge mukakan sejumlah poin-poin penting yang diharapkan dapat memajukan industri. Mewakili DPP Asippindo, ia meminta pemerintah daerah (Pemda) untuk mendorong pembentukan Jamkrida di wilayah yang belum memiliki perusahaan penjaminan, sehingga akses penjaminan di daerah semakin merata.

Ia juga meminta Pemda mendukung Jamkrida terkait permodalan. Penambahan modal ini sangat penting agar Jamkrida dapat secara optimal menjalankan fungsi penjaminan bagi UMKM.

Selain itu, ia menekankan pemben tukan lembaga penjamin ulang (co guarantee). Keberadaan co-guarantee akan memperkuat struktur industri penjaminan nasional, sehingga membantu diversifikasi risiko dan memberikan perlindungan yang lebih luas bagi lembaga penjaminan. Ia pun mengapresiasi beberapa kerja sama co guarantee antar anggota Asippindo yang telah berjalan.

“Kami menghimbau agar seluruh anggota Asippindo dapat saling bersinergi melalui mekanisme co-guarantee dan mendorong penerapannya secara nasional. Kolaborasi ini akan memperbesar kapasitas penjaminan sehingga UMKM di berbagai sektor dan wilayah untuk dapat memperoleh akses pembiayaan lebih mudah,” terang Ivan.

Indonesia Guarantee Summit 2025 juga menghadirkan dua tokoh penting sebagai pembicara utama, yaitu Menteri UMKM Maman Abdurrahman dan Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono.

Maman menjelaskan, tantangan dalam menangani masalah-masalah yang terjadi di usaha-usaha kecil lebih kompleks dan berat dibandingkan perusahaan yang skalanya lebih besar. Ia menilai, pelaku UMKM lebih rapuh dan rentan dibandingkan perusahaan besar.

“Jadi kehadiran dan keberadaan pemerintah bersama-sama dengan seluruh stakeholder dan Asippindo ini menjadi salah satu tulang punggung, key person, ataupun key community untuk memastikan pertumbuhan UMKM ke depan,”

Menteri UMKM Maman Abdurrahman

“Kalau perusahaan besar, dalam konteks secara organisasi dan perusahaan, mereka sudah establish. Tetapi kalau per usahaan mikro dan perusahaan kecil, mereka ini jauh lebih rentan, atau menurut saya bahkan fragile,” lanjut Maman.

Kerentanan yang dihadapi oleh UMKM inilah yang menurut Maman perlu dijaga, baik oleh Kementerian UMKM maupun industri penjaminan.

“Jadi kehadiran dan keberadaan pemerintah bersama sama dengan seluruh stakeholder dan Asippindo ini menjadi salah satu tulang punggung, key person, ataupun key community untuk memastikan pertumbuhan UMKM ke depan,” tegas Maman.

“Aspek keberlanjutan dan semangat kolaboratif harus menjadi fokus utama dalam membangun ekosistem pembiayaan UMKM yang sehat,” tegas Maman.

Lebih jauh, Maman menggarisbawahi bahwa tujuan pembangunan ekosistem UMKM bukan sekadar meningkatkan volume penyaluran kredit, melainkan memastikan bahwa kualitas dan keberlanjutannya terjaga.

Kata dia, pemerintah mendorong keterlibatan perusahaan penjaminan dalam menjembatani pelaku usaha kecil yang selama ini sulit mengakses perbankan.

Dalam pandangannya, penguatan industri penjaminan adalah kunci untuk mengangkat UMKM menjadi lebih produktif, berdaya saing, dan berkontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Setali tiga uang, Ogi Prastomiyono menekankan bahwa kehadiran UU No. 1 Tahun 2016 tentang Penjaminan merupakan langkah penting dalam memperkuat sektor ini. Industri penjaminan kini menjembatani pelaku usaha yang feasible but unbankable menjadi bankable.

Ia menyampaikan bahwa industri penjaminan telah mencakup 26,19 juta peserta dengan outstanding penjaminan sebesar Rp411,24 triliun per Februari 2025.

“Aspek keberlanjutan dan semangat kolaboratif harus menjadi fokus utama dalam membangun ekosistem pembiayaan UMKM yang sehat,” tegas Maman.

Lebih jauh, Maman menggarisbawahi bahwa tujuan pembangunan ekosistem UMKM bukan sekadar meningkatkan volume penyaluran kredit, melainkan memastikan bahwa kualitas dan keberlanjutannya terjaga.

Kata dia, pemerintah mendorong keterlibatan perusahaan penjaminan dalam menjembatani pelaku usaha kecil yang selama ini sulit mengakses perbankan.

Dalam pandangannya, penguatan industri penjaminan adalah kunci untuk mengangkat UMKM menjadi lebih produktif, berdaya saing, dan berkontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Setali tiga uang, Ogi Prastomiyono menekankan bahwa kehadiran UU No. 1 Tahun 2016 tentang Penjaminan merupakan langkah penting dalam memperkuat sektor ini. Industri penjaminan kini menjembatani pelaku usaha yang feasible but unbankable menjadi bankable.

Ia menyampaikan bahwa industri penjaminan telah mencakup 26,19 juta peserta dengan outstanding penjaminan sebesar Rp411,24 triliun per Februari 2025.

“Dengan gearing ratio 22,18 kali dari batas maksimum 40 kali, industri penjaminan masih memiliki ruang besar untuk tumbuh dan berkontribusi lebih luas,” ungkapnya.

Ogi menyatakan bahwa saat ini OJK tengah memfinalisasi revisi POJK terkait perizinan dan penyelenggaraan usaha lembaga penjamin. Rencana regulasi baru ini mencakup peningkatan permo dalan, penghapusan batas maksimum gearing ratio untuk usaha produktif, serta perluasan wilayah operasional Jamkrida ke daerah-daerah yang belum memiliki lembaga penjaminan. Upaya ini diyakini akan membuka akses pembiayaan lebih luas bagi UMKM di seluruh pelosok Indonesia.

Ketua Penyelenggara Indonesia Guarantee Summit 2025 sekaligus Wakil Ketua Bidang Hubungan Kelembagaan dan Kerjasama Asippindo, Abdul Bari, mengungkapkan, acara ini juga diramaikan oleh dua sesi diskusi panel yang menghadirkan pembicara dari berbagai institusi, seperti Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian UMKM, Bank BRI, Bank Syariah Indonesia, GAPENSI, LPDB KUMKM, praktisi serta pendamping UMKM profesional.

“Diskusi difokuskan pada strategi kolaboratif dalam menghadapi tan tangan pembiayaan dan pengembangan UMKM di era transformasi ekonomi,” ucap Abdul Bari.

Melalui skema penjaminan kredit modal kerja dan investasi, kami menurunkan risiko lembaga keuangan, mendorong pemerataan ekonomi hingga pelosok, mendukung digitalisasi UMKM, serta memfasilitasi pendampingan agar UMKM naik kelas dan berdaya saing global,”

Ivan Soeparno Ketua Asippindo

Selain forum diskusi, acara ini juga menyuguhkan pameran produk UMKM mitra binaan dari berbagai daerah. Pameran produk khas dan kreatif dari sektor makanan, kerajinan, hingga fashion lokal menjadi bukti konkret bahwa UMKM Indonesia memiliki potensi besar, asal didukung sistem pembiayaan dan penjaminan yang inklusif dan progresif.

Indonesia Guarantee Summit 2025 menjadi tonggak baru dalam menempatkan industri penjaminan sebagai mitra strategis dalam pembangunan ekonomi nasional.

Lanjut baca artikel

Rekomendasi Terbaik

Mulai Berlangganan
Premium Infobank Digital

  • Akses ke Semua Artikel dari Semua Edisi Majalah Infobank

  • Baca Artikel & Majalah Tanpa Iklan

  • Kemudahan Akses di Berbagai Perangkat Web & Mobile

MULAI LANGGANAN

Beli majalah
Infobank Edisi Mei 2025

Rp 65.000

BELI